SEJUMLAH PENGETAHUAN PENTING YANG BERKAITAN DENGAN AL-QUR'AN (5)
B. CARA PENULISAN AL-QUR'AN DAN RASM UTSMANI
Rasm adalah cara menulis kata dengan huruf-huruf ejaannya, dengan memperhitungkan permulaan dan pemberhentian padanya 8#.
=========
8# Yang dimaksud dengan "permulaan dan pemberhentian” adalah memulai dan mengakhiri bacaan. Sejalan dengan definisi ini, huruf hamzah washl ditulis karena ia dibaca pada saat permulaan, sedangkan bentuk tanwin dihapus karena ia tidak dibaca pada saat berhenti di akhir kata. (Penj.)
*SEJUMLAH PENGETAHUAN PENTING YANG BERKAITAN DENGAN AL-QUR'AN*
*A. DEFINISI AL-QUR'AN, CARA TURUNNYA, DAN CARA PENGUMPULANNYA (4)*
*Kompilasi ketiga: pada masa Utsman, dengan menulis sejumlah mushaf dengan khath yang sama*
Peran Utsman bin Affan r.a. terbatas pada penulisan enam naskah mushaf yang memiliki satu harf (cara baca), yang kemudian ia sebarkan ke beberapa kota Islam. Tiga buah di antaranya ia kirimkan ke Kufah, Damaskus, dan Basrah. Yang dua lagi ia kirimkan ke Mekah dan Bahrain, atau ke Mesir dan Jazirah, dan ia menyisakan satu mushaf untuk dirinya di Madinah. Ia menginstruksikan agar mushaf-mushaf lain yang berbeda, yang ada di Irak dan Syam saja, dibakar. Mushaf Syam dulu tersimpan di masjid raya Damaskus: al-Jaami' al-Umawiy, tepatnya di sudut sebelah timur maqshuurah 7#, Ibnu Katsir pernah melihat mushaf ini (sebagaimana ia tuturkan dalam bukunya Fadhaa'ilul Qur'aan di bagian akhir tafsirnya) tetapi kemudian ia hangus dalam kebakaran besar yang menimpa Masjid Umawiy pada tahun 1310 H. Sebelum ia terbakar, para ulama besar Damaskus kontemporer pun telah melihatnya.
Read more: DEFINISI AL-QUR'AN, CARA TURUNNYA, DAN CARA PENGUMPULANNYA (4)
AL-BAQARAH (3)
FIQIH KEHIDUPAN DAN HUKUM-HUKUM
[SURAH AL-BAQARAH 21 - 24]
PERINTAH UNTUK MENYEMBAH ALLAH SEMATA DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MENUNTUTNYA
Surah al-Baqarah 21-22
Ibadah, yang artinya mengesakan Allah dan melaksanakan hukum-hukum agama-Nya, hanya patut dilakukan kepada Allah sang Pencipta dan sang Pemberi rezeki. Ibadah yang tulus kepada Allah menjadi sebab tertanamnya akar ketakwaan kepada Allah 'Azza wa Jalla. Makanya orang-orang yang bertakwa tidak akan berani melanggar perintah dan melakukan maksiat.

AL-BAQARAH (2)
FIQIH KEHIDUPAN DAN HUKUM-HUKUM
[SURAH AL-BAQARAH 11 - 20]
SIFAT-SIFAT KAUM MUNAFIK
Surah al-Baqarah Ayat 11-13
Memutar-balikkan fakta dan memoles kenyataan adalah ciri para pengecut dan orang-orang yang lemah. Adapun orang-orang kuat, yaitu orang-orang beriman yang mempergunakan sarana-sarana pengetahuan yang sehat untuk mencapai hakikat segala hal, merekalah yang kekal. Merekalah yang benar-benar mencintai umat manusia. Maka dari itu mereka menyeru umat manusia ini agar memperbaiki perilaku, meluruskan akhlak, teguh di atas prinsip yang benar yang ditunjuk oleh akal dan dituntut oleh fitrah serta dikuatkan oleh bukti-bukti indrawi dan historis.
Ayat-ayat (وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا) ini menunjukkan bahwa iman bukanlah pernyataan di bibir yang tidak dibarengi dengan keyakinan, sebab Allah Ta'ala telah memberi tahu tentang pengakuan mereka bahwa mereka beriman, dan Dia menafikan sebutan iman bagi mereka dengan firman-Nya (وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ).
SIFAT-SIFAT KAUM MUNAFIK
Surah al-Baqarah Ayat 14-16
Balasan dan hukuman menimpa setiap orang yang menukar kekafiran dengan iman, menukar kesesatan, kebatilan, kegelapan, dan kebengkokan dengan hidayah, Al-Qur'an, cahaya, dan manhaj yang lurus, sebab mereka menyia-nyiakan modal, yaitu fitrah bersih yang mereka miliki dan kesiapan akal untuk memahami berbagai hakikat. Sudah dimaklumi bahwa manusia mencap pedagang yang rugi, yang menyia-nyiakan seluruh modalnya dan tidak menebus kerugian yang dialaminya itu dalam transaksi lain, bahwa ia dungu, tolol. Demikian pula halnya orang munafik. Selain itu, yang jadi patokan dalam undang-undang Al-Qur'an dalam menetapkan benarnya keislaman seseorang adalah ketulusan hati, bukan semata-mata pernyataan di bibir.
Kesimpulan : Allah Ta'ala menyebutkan empat macam keburukan orang-orang munafik. Masing-masing keburukan itu saja cukup untuk menimpakan hukuman terhadap mereka. Keempat macam keburukan itu sebagai berikut:
1. Memperdaya Allah. Penipuan adalah perbuatan yang tercela, dan sesuatu yang tercela harus dibedakan dari yang lainnya agar perkara yang tercela tersebut tidak dikerjakan.
2. Mengadakan perusakan di bumi dengan mengobarkan fitnah, memprovokasi musuh terhadap kaum muslimin, dan menyebarkan desas-desus yang tak benar.
3. Berpaling dari keimanan dan keyakinan yang benar yang tertanam dalam hati, yang selaras dengan perbuatan.
4. Bimbang dan bingung (terombang-ambing) dalam kelaliman dan sikap yang melampaui batas-batas yang wajar, dengan cara mengada-ada atas nama kaum mukminin dan mencap mereka sebagai orang dungu, padahal sebenarnya mereka sendirilah yang tolol, sebab orang yang berpaling dari bukti/petunjuk lalu mencap orang yang berpegang kepadanya sebagai orang tolol maka sesungguhnya dia sendirilah yang tolol, juga karena orang yang menjual akhiratnya dengan imbalan dunia maka dialah orang yang bodoh, juga karena orang yang memusuhi Muhammad saw. berarti memusuhi Allah, dan tindakan demikian hanya dilakukan oleh orang yang bodoh. Jadi, kedunguan terbatas pada diri mereka saja. Mereka punya semacam perasaan bahwa mereka terseret ke dalam arus hawa nafsu mereka, tidak mengikuti petunjuk para pendahulu mereka, dan dalam hal keselamatan serta kebahagiaan mereka bertumpu kepada angan-angan dan dalih-dalih palsu, misalnya mereka berkata:
"Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.” (al-Baqarah: 80)
atau berkata:
"Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.” (al-Maa'idah: 18)
yakni umat-Nya yang terpilih.
PERUMPAMAAN KAUM MUNAFIK
Surah al-Baqarah Ayat 17-20
Ini adalah sifat orang-orang munafik. Mereka dulu telah beriman sampai iman itu menyinari hati mereka seperti api yang memberi penerangan bagi orang-orang yang menyalakan api itu, kemudian mereka ingkar sehingga Allah memadamkan cahaya mereka. Apa yang ditampilkan oleh orang-orang munafik itu (yakni keimanan yang menjadi asas pemberlakuan hukum-hukum Islam dalam pernikahan, pewarisan, ghanimah, dan keamanan bagi jiwa mereka, anak-anak mereka, dan harta benda mereka, serta terpedayanya mereka dengan kata-kata "Islam” yang mereka ucapkan) sebenarnya tidak ada gunanya dalam hukum akhirat, sebab mereka akan disiksa dengan adzab yang pedih sebagaimana dinyatakan oleh Al-Our'an:
"Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka” (an-Nisaa': 145)
Jadi, usaha mereka untuk mendapat penerangan dengan cahaya pengakuan bahwa mereka memeluk Islam-sementara dalam hati mereka menyembunyikan kekafiran ibarat penerangan api yang temporer, atau seperti hujan yang gelap gulita. Orang-orang munafik benar-benar tak memfungsikan semua sarana pengetahuan yang benar dan medium keimanan yang kokoh. Mereka tuli, tak mendengarkan kebenaran, bisu, tak membicarakan kebenaran, dan buta, tak melihat kebenaran. Yang lebih celaka lagi, pada akhirnya mereka pun tidak kembali kepada kebenaran karena Allah Ta'ala sudah tahu tentang diri mereka, bukannya Dia memaksa mereka mengalami nasib begitu. Meski mereka munafik, Allah tidak menimpakan hukuman mereka di dunia. Dari fakta ini al-Jashshash menyimpulkan bahwa hukuman-hukuman di dunia tidak ditetapkan berdasarkan ukuran kejahatan, melainkan berdasarkan maslahat yang diketahui oleh Allah dalam hukuman-hukuman tersebut, dan sesuai garis inilah Allah menerapkan hukum-hukum-Nya."
Al-Qur'an penuh dengan kebaikan dan ayat-ayat yang membuktikan bahwa ia berasal dari Allah, seperti hujan lebat. Ia berisi ancaman dan teguran, seperti suara guruh. Ia juga berisi cahaya dan argumen-argumen gemilang yang terkadang sampai memukau orang-orang munafik, seperti sinar kilat. Ia pun berisi seruan untuk berperang di dunia dan ancaman di alam akhirat, seperti sambaran petir.
Allah meliputi seluruh makhluk dan semua orang kafir. Tak seorang pun yang lolos dari perhitungan, kekuasaan, dan kehendak-Nya. Kalau mau, tentu Allah dapat memberi tahu kaum mukminin siapa-siapa yang tergolong orang-orang munafik, sehingga keagungan Islam tak lagi dapat mereka nikmati, sebab mereka ditangkap lalu dibunuh atau diusir dari kampung halaman. Allah-lah satu-satunya Dzat yang memiliki kemampuan yang meliputi segala sesuatu. Dia Mahakuasa atas setiap perkara yang mungkin, yang bisa ada dan bisa tiada. Setiap mukallaf (orang yang baliq dan berakal) harus mengetahui bahwa Allah Ta'ala mampu, Dia memiliki kemampuan yang dengannya Dia bertindak, dan dia melakukan apa yang dikehendaki-Nya sesuai dengan pengetahuan dan pilihan-Nya. Setiap mukallaf juga mesti tahu bahwa hamba pun memiliki kemampuan yang dengannya dia mendapatkan apa-apa yang dikuasakan Allah baginya sesuai dengan jalur kebiasaan, dan bahwa Dia tidak semena-mena dengan kekuasaan-Nya.
Inilah dua puluh ayat pertama. Empat di antaranya tentang sifat orang-orang beriman, dua ayat tentang sifat orang-orang kafir, dan sisanya tentang orang-orang munafik.====
Tafsir Al Munir
KKTA Plus 4
2025/2026
Halaman 183 dari 186