AL-A'RAAF (23)
AL-A'RAAF: 59-64
KISAH NABI NUH
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Kisah Nabi Nuh menunjukkan bahwa dia memerhatikan dakwah untuk kaumnya dengan tiga unsur.
_Pertama_, dia memerintahkan mereka menyembah Allah SWT.
_Kedua_, dia menghukumi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Maksud dari ucapan pertama adalah pembuktian adanya pembebanan pelaksanaan perintah. Maksud ucapan kedua adalah pernyataan tauhid. Yang kedua adalah seperti alasan untuk yang pertama.
AL-A'RAAF (22)
AL-A'RAAF: 57-58
PENURUNAN HUJAN, PENGELUARAN TUMBUH-TUMBUHAN DAN PETUNJUK KEDUANYA ATAS KEKUASAN ILAHI DAN PEMBUKTIAN KEBANGKITAN
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Ayat-ayat tersebut menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
1. Allah SWT adalah sumber rezeki. Dialah yang menurunkan hujan lalu tumbuhlah tanaman, rerumputan, pohon, tumbuhan, dan buah-buahan. Manusia dan hewan mengambil manfaat darinya, kemudian manfaat dari binatang pada akhirnya kembali kepada manusia. Penurunan hujan dan penumbuhan tumbuhan adalah dalil wujud Allah, Ilmu, kekuasaan, dan hikmah-Nya.
AL-A'RAAF (21)
AL-A'RAAF: 55-56
DISYARI'ATKANNYA DOA, ADABNYA DAN PENGHARAMAN BERBUAT KERUSAKAN DI BUMI
ٱدْعُوا۟ رَبَّكُمْ تَضَرُّعًۭا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُعْتَدِينَ ٥٥
*Artinya:* _Berdoalah kepada Tuhan-mu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas1#_.
1#)- Maksudnya melampaui batas tentang yang diminta dan cara meminta.
وَلَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَـٰحِهَا وَٱدْعُوهُ خَوْفًۭا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٌۭ مِّنَ ٱلْمُحْسِنِينَ ٥٦
*Artinya:* _Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik._
AL-A'RAAF (20)
AL-A'RAAF: 54
PEMBUKTIAN _RUBUBIYYAH_ DAN _ULUHIYYAH_ ALLAH DENGAN PENCIPTAAN DAN PERINTAH
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Ayat ini menunjukkan hal-hal berikut:
1. Allah SWT Esa dalam kekuasaan mengadakan makhluk, pencipta langit, dan pencipta bumi. Dia-lah yang wajib disembah.
2. Allah SWT bersemayam di atas Arasy. Kata Arasy disebut khusus karena dia adalah makhluk-Nya yang paling besar. *Salafussalih* berpendapat bahwa Dia bersemayam di atas Arasy dengan sebenarnya. Namun, cara bersemayam adalah tidak diketahui, dan tidak diketahui hakikatnya. *Imam Malik* mengatakan bahwa bersemayam diketahui (maksudnya dalam bahasa), caranya tidak diketahui. Pertanyaan tentangnya adalah bid'ah. Demikianlah *Ummu Salamah* berkata,. Mayoritas ulama-ulama dulu dan belakangan dari kalangan mutakallimin berpegang pada penyucian Allah SWT dari arah dan berposisi di suatu tempat. Pasalnya, hal itu mengharuskan bahwa ketika Dia ada pada arah tertentu. Dia ada di suatu tempat atau posisi tertentu dan mengharuskan adanya tempat dan posisi: gerak dan diam bagi yang menempat dalam posisi, perubahan, dan kejadian. Kata Arasy dalam ayat ditafsiri dengan raja dan sultan. Artinya, raja yang mutlak kekuasaannya tidak berkuasa, kecuali Allah SWT. *Al-Qurthubi* berkata: "Ini adalah pendapat yang bagus dan di dalamnya ada analisis bagus."
Halaman 101 dari 197