AL-A'RAAF (43)
AL-A'RAAF: 150-151
KEMARAHAN NABI MUSA TERHADAP NABI HARUN KARENA KASUS PENUHANAN ANAK SAPI
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Karakteristik manusia berbeda-beda dalam mengorganisasi dan berinteraksi dengan orang lain. Ada yang keras serta cepat emosi, seperti Musa yang marah demi kebenaran dan sikapnya ini adalah benar. Ada juga yang tenang, lunak, dan santun seperti Harun yang meskipun berusaha sekuat tenaga menegur kaumnya, tapi mereka tidak mendengar nasihatnya dan bahkan berniat untuk membunuhnya.
AL-A'RAAF (42)
AL-A'RAAF: 148-149
KISAH SAMIRI YANG MEMBUAT PATUNG ANAK SAPI
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Dari ayat di atas, bisa disimpulkan bahwa sulit sekali bagi Bani Israil untuk tetap dan bertahan dalam satu kondisi meskipun kondisi itu adalah kondisi yang paling baik dan sempurna. Jadi, mereka adalah kaum yang kontradiktif, ragu-ragu, bingung, tidak tahu apa yang mereka lakukan, banyak mengeluh, kurang bersyukur terhadap nikmat, pandangan mereka terkadang dangkal dan polos, dan pemikiran mereka masih primitif dan mudah untuk _taklid_ (meniru) orang lain. Penyakit _taklid_ ini bisa menjalar pada sebuah umat sebagaimana halnya pada personal tanpa disadari. Mereka ingin meniru orang-orang Mesir yang hidup bersama mereka dalam penyembahan terhadap patung dan berhala, dan kerinduan mereka terhadap keyakinan paganisme semakin menguat. Hal ini semakin menguat ketika mereka melihat ada beberapa kaum di Palestina yang menyembah berhala.
AL-A'RAAF (41)
AL-A'RAAF: 146-147
DIPALINGKANNYA ORANG-ORANG YANG SOMBONG DARI MEMAHAMI DALIL-DALIL KEBESARAN TUHAN AKIBAT DARI KESOMBONGAN DAN KEKAFIRAN MEREKA
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Inilah kondisi orang-orang yang enggan untuk taat kepada manusia dan sombong terhadap manusia. Mereka menyangka, bahwa mereka adalah orang-orang terbaik padahal persangkaan itu salah, berdasarkan *firman Allah SWT ( بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ)* Mereka tidak mau mengikuti Nabi dan tidak mau mendengarkannya karena kesombongan yang ada dalam diri mereka.
*AL-A'RAAF (40)*
*AL-A'RAAF: 142-145*
*MUNAJAT ATAU PERBINCANGAN MUSA DENGAN TUHANNYA DAN PERMINTAAN MUSA UNTUK MELIHAT ALLAH SERTA DITURUNKANNYA TAURAT KEPADANYA*
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Ayat-ayat di atas menjelaskan beberapa hal, di antaranya sebagai berikut:
1. Pengagungan terhadap janji untuk berbicara dengan Allah SWT. Allah SWT memerintahkan Musa untuk berpuasa selama tiga puluh hari dan mengerjakan segala amalan untuk mendekatkan diri kepadaNya pada hari-hari tersebut. Kemudian, Allah menurunkan Taurat kepada Musa pada sepuluh hari terakhir menurut satu pendapat atau ketika Musa menghilangkan bau mulutnya di akhir hari ketiga puluh, yaitu di bulan Dzulqa’dah menurut pendapat yang lain, kemudian, Allah memerintahkan padanya untuk menambah sepuluh hari lagi sampai bulan Dzulhijjah. Inilah faedah dirincikannya bilangan hari di sini, dari empat puluh kemudian tiga puluh dan terakhir sepuluh.
Halaman 96 dari 197