SURAH AL-A'RAAF: 148-149

AL-A'RAAF (42)

AL-A'RAAF: 148-149

KISAH SAMIRI YANG MEMBUAT PATUNG ANAK SAPI

FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM

Dari ayat di atas, bisa disimpulkan bahwa sulit sekali bagi Bani Israil untuk tetap dan bertahan dalam satu kondisi meskipun kondisi itu adalah kondisi yang paling baik dan sempurna. Jadi, mereka adalah kaum yang kontradiktif, ragu-ragu, bingung, tidak tahu apa yang mereka lakukan, banyak mengeluh, kurang bersyukur terhadap nikmat, pandangan mereka terkadang dangkal dan polos, dan pemikiran mereka masih primitif dan mudah untuk _taklid_ (meniru) orang lain. Penyakit _taklid_ ini bisa menjalar pada sebuah umat sebagaimana halnya pada personal tanpa disadari. Mereka ingin meniru orang-orang Mesir yang hidup bersama mereka dalam penyembahan terhadap patung dan berhala, dan kerinduan mereka terhadap keyakinan paganisme semakin menguat. Hal ini semakin menguat ketika mereka melihat ada beberapa kaum di Palestina yang menyembah berhala.

Musa Samiri mengetahui keinginan mereka untuk menjadikan anak sapi sebagai tuhan. Lalu, ia membuat patung itu dengan kecerdikannya dari perhiasan. Namun, Bani Israil tidak pernah berpikir tentang kepantasan anak sapi untuk dianggap sebagai Tuhan. Mereka menzalimi diri sendiri karena anak sapi itu tidak bisa berbicara dengan mereka dan tidak bisa menunjuki mereka kepada jalan yang benar. Anak sapi tersebut adalah benda mati (karena ia patung) atau hewan yang tidak bisa berbuat apa-apa. Dalam kedua kondisi ini, ia tidak pantas dianggap sebagai tuhan.

Kemudian, mereka bertobat dan menyesali perbuatan tersebut. Mereka meminta ampun kepada Allah. Mereka memohon agar tobat mereka diterima dan diampunkan dosa mereka yang sangat besar. Mereka mengakui bahwa mereka akan menjadi orang-orang merugi jika Allah tidak mengampuni mereka.

Ini adalah pengakuan yang jelas menunjukkan penghambaan dan pengakuan terhadap Tuhan yang sebenarnya. Menurut bacaan Imam Hamzah dan al-Kisa'i, "Sungguh, jika Engkau tidak mengasihi kami, wahai Tuhan kami, dan tidak mengampunkan kami," di sini terdapat makna ketundukan dan kerendahan hati ketika mereka meminta dan berdoa. Ini juga menunjukkan pengakuan mereka terhadap besarnya dosa yang telah mereka lakukan, dan bahwa tidak ada tempat lari dari Allah kecuali kepada Allah untuk memaafkan semua kesalahan mereka.

Kalangan _Ahlus Sunnah_ berdalil dengan ayat (أَلَمْ يَرَوْا۟ أَنَّهُۥ لَا يُكَلِّمُهُمْ) bahwa sesuatu yang tidak bisa berbicara dan menunjukkan ke jalan yang lurus tidak berhak menjadi Tuhan karena Tuhan itu adalah Zat yang mampu memerintah dan melarang. Hal tersebut tidak akan terjadi, kecuali jika ia bisa berbicara.

Jadi, sesuatu yang tidak bisa berbicara, tidak bisa untuk memerintah dan melarang. Oleh karena anak sapi itu tidak bisa memerintah dan melarang, ia bukanlah tuhan.

Sehubungan dengan kisah Samiri yang membuat patung anak sapi, untuk dijadikan tuhan bagi Bani Israil, para ulama tauhid menyebutkan sebuah komparasi yang indah yang menunjukkan bahwa kebahagiaan dan kesengsaraan itu sudah ada dalam ilmu Allah sejak zaman azali. Nabi Musa bin Imran a.s. diasuh oleh Fir'aun, namun ia kemudian menjadi seorang yang beriman dengan ilham dari Allah SWT. Musa Samiri diasuh oleh Jibril, namun pada akhirnya ia menjadi seorang yang kafir.

Ini tidak berarti bahwa pendidikan dan pengarahan tidak akan berpengaruh apa-apa. Lingkungan tetap memiliki pengaruh yang besar sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits yang terkenal.

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ

_“Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah.”_ *(HR. Abu YaTa, Thabrani dan Baihaqi dari Aswad bin Surai’)*

Pendidikan juga memiliki peran yang tak kalah penting, karena kalau tanpa pendidik kita tidak akan mengenal Allah.

Namun, yang ditekankan di sini adalah kehendak Allah adalah di atas segala-galanya. Allah Yang Maha Berkuasa terhadap segala sesuatu. Dia yang mengatur segala urusan makhluk-Nya. Dia memiliki hikmah yang sangat tinggi. Boleh jadi, ada orang yang lebih suka pada kerusakan, kejahatan, dan penyimpangan meskipun ia telah dididik dengan baik dan dikontrol oleh pendidiknya sebagaimana kita lihat pada sebagian anakanak para ulama, tokoh-tokoh masyarakat, dan tokoh-tokoh pembaharu.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login