*MARYAM (5)*
*KENABIAN ISA A.S. DAN KEMAMPUANNYA BERBICARA KETIKA MASIH BAYI DALAM BUAIAN*
*Surah Maryam Ayat 27-33*
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Ayat-ayat di atas menjelaskan beberapa hal berikut ini:
1. Maryam, dengan keimanan dan keyakinan akan datangnya dukungan Allah, mendatangi kaumnya dengan membawa anaknya, setelah dia yakin dengan tanda-tanda kebesaran Allah yang dia lihat, dan setelah tahu bahwa Allah SWT akan menjelaskan kesuciannya.
2. Pada umumnya orang-orang terpengaruh oleh penampilan luar dari suatu perkara dan terburu-buru dalam menghukuminya, sehingga mereka menuduh Maryam telah melakukan perbuatan yang sangat keji. Mereka pun sangat mengingkari apa yang terjadi pada Maryam karena mereka tahu perilakunya yang baik dan dia melewatkan masa mudanya dengan tidak menikah dan hanya beribadah. Mereka Juga mengingkarinya berdasar apa yang mereka ketahui tentang keistiqamahan kedua orang tuanya. Sehingga, mereka pun berkata kepadanya, _"Wahai saudari Harun."_ Maksudnya, _"Wahai orang yang kami kira seperti Harun dalam ibadah, pantaskah kamu melakukan hal seperti ini?"_ Maryam adalah dari keturunan Harun, saudara Musa, walapun antara Musa dan Harun dengan Isa terbentang jarak yang jauh, yaitu sekitar seribu tahun lebih, namun Maryam disebut sebagai saudara Harun karena dia adalah keturunannya. Hal ini sebagaimana orang dari keturunan Tamim dipanggil, _"Yaa akhaa Tamim_ (Wahai saudara Tamim)' dan orang Arab dipanggil, _Ya akhaa Arab_ (wahai saudara orang-orang Arab).
*MARYAM (4)*
*KELAHIRAN NABI ISA DAN PERISTIWA-PERISTIWA YANG MENYERTAINYA*
*Surah Maryam Ayat 23-26*
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Ayat-ayat di atas menunjukkan hal-hal berikut:
1. Rasa sakit ketika kontraksi dan melahirkan merupakan hal yang umum dirasakan oleh para perempuan saat melahirkan. Rasa sakit tersebut seperti yang dirasakan ketika meninggal dunia. Oleh karena ketika itu seorang perempuan memerlukan bantuan dan perhatian, sedangkan *Sayyidah Maryam* tidak mendapati seorang pun yang membantunya kecuali sebatang pohon kurma. Oleh karena itu, dia pun bersandar dan berpegangan padanya, seperti perempuan hamil yang berpegangan pada benda yang ada di dekatnya ketika merasakan sakitnya melahirkan.
2. Berangan-angan untuk mati dibolehkan ketika dalam kondisi seperti Maryam. Ketika itu Maryam berangan-angan untuk mati terkait masalah agama karena dua sebab:
*MARYAM (3)*
*KISAH MARYAM MENGANDUNG ISA*
*Surah Maryam Ayat 16-22*
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Ini adalah awal kisah Sayyidah Maryam. Di dalamnya Allah SWT menceritakan prosesnya mengandung Isa a.s. dengan menjelaskan beberapa hal sebagai pendahuluan dalam rangka menunjukkan kehormatan dan keterjagaan Maryam.
Maryam menjauh dari keluarganya di sebelah timur Baitul Maqdis untuk menyepi, beribadah dan bermunajat kepada Allah. Lalu Allah mengutus Jibril dalam wujud seorang manusia dengan wajah yang rupawan kepada Maryam. Karena, Maryam tidak akan mampu untuk melihat Jibril dalam bentuknya yang asli sebagai malaikat. Ketika Maryam melihat seorang laki-laki rupawan telah menerobos masuk ke dalam tempat ibadahnya, ia mengira laki-laki tersebut ingin berbuat jahat kepadanya. Maka ia berlindung kepada Allah darinya, jika laki-laki tersebut termasuk orang yang bertakwa.
*MARYAM (2)*
*YAHYA A.S. DIANGKAT MENJADI NABI DAN DIBERI HIKMAH KETIKA MASIH ANAK-ANAK*
*Surah Maryam Ayat 12-15*
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Di dalam ayat-ayat di atas, Allah SWT menyebutkan sembilan sifat Nabi Yahya bin Zakariya a.s.. Kesembilan sifat tersebut adalah sebagai berikut:
1. Bersungguh-sungguh dan bersabar dalam menunaikan misi kenabian. Jadi maksud dari firman Allah (خُذِ ٱلْكِتَٰبَ بِقُوَّةٍ) bukanlah kemampuan untuk mengambil kitab karena hal itu sudah diketahui oleh siapa pun. Dengan demikian, kalimat ini harus dipahami dengan makna yang menunjukkan pujian, yaitu kesungguhan dan kesabaran dalam menunaikan misi kenabian.
2. Diangkat menjadi seorang nabi ketika masih kecil. Allah SWT mengangkat Yahya dan Isa menjadi nabi ketika keduanya masih kecil, tidak seperti Nabi Musa dan Nabi Muhammad saw yang diangkat ketika sudah dewasa, yaitu usia empat puluh tahun.
3. Dijadikan orang yang _hannaan_, yaitu orang pengasih, penyayang dan belas kasihan kepada manusia, seperti sifat Nabi Muhammad saw yang pengasih dan penyayang.
4. Allah menjadikannya orang yang membawa berkah dan manfaat dengan memberikan kebaikan dan hidayah kepada manusia. Hal ini sebagaimana sifat yang Allah sematkan kepada Nabi Isa di dalam firman-Nya:
_"Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada."_ *(Maryam:31)*
5. Ia merupakan orang yang bertakwa, sehingga menjauhi larangan Allah dan menunaikan perintah-Nya, tanpa mengabaikannya sama sekali. Oleh karena itu ia tidak pernah melakukan kesalahan dan tidak pernah mendapatkan teguran.
6. Berbakti kepada kedua orang tuanya. Tidak ada ibadah yang nilainya lebih agung dari memuliakan kedua orang tua setelah memuliakan Allah SWT. Allah SWT juga menjadikan ketaatan kepada kedua orang tua langsung setelah ketaatan kepada Allah SWT:
_"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak."_ *(al-Israa': 23)*
7. Tidak sombong dan congkak, akan tetapi sebaliknya, ia adalah orang yang tawadhu. Dan ini merupakan salah satu sifat orang-orang Mukmin. Allah SWT juga telah memerintahkan Rasulullah saw. untuk tawadhu, dalam firman-Nya:
_"Dan berendah hatilah engkau terhadap orang yong beriman."_ *(al-Hijr: 88)*
Allah berfirman:
_"sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu,"_ *(Aali 'Imraan: 159)*
8. Tidak membangkang terhadap Allah dan tidak durhaka terhadap kedua orang tuanya.
9. Keselamatan dan keamanan dari Allah ketika dilahirkan, ketika meninggal dunia dan ketika dibangkitkan kembali.
(وَسَلَٰمٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا)
Athiyyah berkata, "Menurut saya, ini merupakan ucapan selamat (tahiyyah) yang dikenal secara umum oleh orang-orang. Ucapan ini lebih mulia dan lebih mendalam dari sekadar jaminan keamanan. Karena jaminan keamanan didapatkan dengan tidak adanya pembangkangan dari seseorang, dan ini adalah tingkat keamanan terendah. Namun, suatu kehormatan ketika Allah SWT mengucapkan salam kepada Nabi Yahya dan memberinya keselamatan pada kondisi-kondisi seseorang sangat lemah, sangat memerlukan, tidak berdaya dan membutuhkan Allah SWT yang Mahakuasa.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
Halaman 21 dari 197