*AL-KAHF (14)*
*BALASAN BAGI ORANG-ORANG MUKMIN DAN LUASNYA PENGETAHUAN ALLAH SERTA TENTANG KEESAAN-NYA*
*Surah al-Kahf Ayat 107-110*
*Sebab Turunnya Ayat*
*1. Ayat 109*
Al-Hakim dan lainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, "Orang-orang Quraisy berkata kepada orang-orang Yahudi, "Beri kami sesuatu untuk kami tanyakan kepada laki-laki itu." Orang-orang Yahudi berkata, "Tanyakan kepadanya tentang ruh." Orang-orang Quraisy pun menanyakannya kepada Rasulullah saw., lalu turun ayat,
_"Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, 'Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit."_ *(al-Israa': 85)*
Orang-orang Yahudi berkata, "Kami diberi banyak ilmu. Kami diberi Taurat, barangsiapa diberi Taurat maka dia diberi kebaikan yang banyak." Lalu turun ayat, *(...قُل لَّوْ كَانَ ٱلْبَحْرُ مِدَادًۭا لِّكَلِمَـٰتِ رَبِّى)*
*2. Ayat 110*
Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Abi ad-Dunya dalam kitab al-Ikhlaash meriwayatkan dari Thawus, dia berkata, "Seorang laki-laki berkata, ‘Wahai Rasulullah, saya berdiri di sini menginginkan ridha Allah dan saya ingin Dia melihat ke tempatku ini.' Beliau tidak menjawabnya sama sekali, hingga turun
ayat ini *(فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًۭا صَـٰلِحًۭا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا)*.
Ini adalah riwayat yang mursal.
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam _al-Mustadrak_ secara _maushul_ (bersambung) dari Thawus dari Ibnu Abbas r.a. dan dishahihkan oleh al-Hakim sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim.
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Mujahid, dia berkata, "Seorang laki-laki Muslim berperang dan dia ingin agar Allah melihatnya, lalu Allah menurunkan ayat *(...فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ)*
Abu Nu’aim dan Ibnu 'Asaakir meriwayatkan di dalam kitab _Tariikh_-nya, dari Ibnu Abbas r.a., dia berkata, "Jundub bin Zuhair berkata, ‘Jika seseorang melakukan shalat, puasa atau bersedekah, lalu dia disebut-sebut dengan baik maka dia merasa tenang, kemudian dia semakin semangat melakukan ibadah-ibadah tersebut karena komentar baik dari orangorang, turunlah ayat, *(...فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ)*
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Dari rangkaian ayat di atas dapat disimpulkan beberapa hal berikut.
1. Orang-orang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya yang melakukan amal saleh berhak mendapatkan surga Firdaus, yaitu surga tertinggi, dan mereka akan kekal di dalamnya. Mereka tidak ingin berpindah darinya ke tempat yang lain.
2. Tidak ada seorang pun yang mampu meng¬ hitung kalimat-kalimat, ilmu, hikmah, dan rahasia Allah. Bahkan jika seluruh lautan, benua dan semua yang tiada ada batasnya menjadi tinta untuk mencatatnya.
Ibnu Abbas r.a. berkata, "Ketika Nabi saw. bersabda kepada orang-orang Yahudi *(وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا)* Mereka berkata, 'Bagaimana demikian, padahal kami telah diberi Taurat dan barangsiapa diberi Taurat dia telah diberi kebaikan yang banyak.’ Lalu turun ayat *(قُل لَّوْ كَانَ ٱلْبَحْرُ مِدَادًۭا)*,
3. Allah memerintahkan Rasul-Nya agar bersikap tawadhu, menyatakan sifat kemanusiaan beliau, bahwa beliau tidak memiliki sifat istimewa dibanding yang lain dan menyatakan bahwa beliau tidak memiliki ilmu kecuali yang diajarkan oleh Allah, sedangkan ilmu Allah tiada terhingga, hanya saja Allah memerintahkan beliau untuk menyampaikan kepada orang-orang bahwa tiada tuhan selain Allah.
4. Ayat *(قُلْ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٌۭ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰٓ إِلَىَّ)* menunjukkan dua hal berikut.
_Pertama_, lafal *(إِنَّمَآ)* menunjukkan makna _hashr_ (batasan), yaitu firman Allah *(أَنَّمَآ إِلَـٰهُكُمْ إِلَـٰهٌۭ وَٰحِدٌۭ)*.
_Kedua_, keberadaan Allah SWT sebagai Tuhan yang Esa dapat dibuktikan dengan dalil-dalil _sam’iyyah_ (dari nash Al-Qur'an atau hadits).
5. Sesungguhnya, orang yang beriman kepada Tuhannya yang mengharap untuk melihat-Nya, mengharapkan pahala dariNya serta takut dari hukuman dari-Nya, wajib untuk melakukan amal saleh yang diridhai oleh Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun dari makhluk-Nya.
Ibnu Abbas berkata, "Ayat di atas turun pada Jundub bin Zuhair al-Amiri, dia berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku melakukan amal ibadah untuk Allah SWT dan saya menginginkan keridhaan-Nya, tetapi jika ada orang yang mengetahui amal ibadahku maka aku merasa senang.’ Rasulullah saw. bersabda,
إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَلَا يَقْبَلُ عَمَلًا أُشْرِكَ فِيهِ مَعَهُ غَيْرُهُ
_"Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik, dan Dia tidak menerima amal yang Dia disekutukan di dalamnya."_ Lalu turunlah ayat di atas.
Di dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah r.a., dengan redaksi,
_“Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik. . .”_ *(HR Muslim)*
Ayat di atas bersifat umum mencakup seluruh amal perbuatan, baik ibadah, jihad, sedekah dan lainnya. Temanya adalah mengikhlaskan amal untuk Allah Azza wa Jalla semata.
Hasan al-Bashri ditanya tentang ikhlas dan riya, dia menjawab, "Termasuk keikhlasan adalah kamu ingin menyembunyikan perbuatan-perbuatan baikmu dan tidak ingin menyembunyikan keburukanmu. Jika Allah menampakkan kebaikan-kebaikanmu, katakanlah, 'Ini berkat anugerah dan kebaikan-Mu, ya Allah. Ini bukanlah dariku dan bukan dari perbuatanku.' Ingatlah firman Allah SWT, *(فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًۭا صَـٰلِحًۭا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا)*
Firman Allah SWT,
_"Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan..."_ *(al-Mu'minuun: 60)*
Yaitu mereka memberi dengan ikhlas, namun mereka tetap takut jika tidak diterima. Adapun riya adalah mencari bagian dari amal yang dilakukan untuk kepentingan dunia." Lalu Hasan al-Bashri ditanya, "Bagaimana hal itu?" Dia menjawab, "Barangsiapa menginginkan selain Allah dan selain balasan akhirat dari amal yang dia lakukan, itu adalah riya."===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
