AL-AN'AAM (26)
AL-AN'AAM: 84-90
IBRAHIM BAPAK PARA NABI, KARAKTERISTIK RISALAH MEREKA DAN KEWAJIBAN MENGIKUTI JEJAK MEREKA
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Allah SWT memberi kenikmatan yang sangat banyak kepada Nabi Ibrahim. Dalam ayat sebelumnya, disebutkan ada dua nikmat yang diterima oleh Ibrahim, yaitu kekuatan dalam berdialog dan membantah pendapat lawan dengan argumentasi yang kuat dan kenikmatan mendapatkan derajat yang tinggi di dunia dan di akhirat. Dalam ayat ini disebutkan bahwa Ibrahim adalah keturunan sekaligus bapak dari para nabi. Dengan demikian, ia adalah orang yang mulia, baik dilihat dari asal-usulnya maupun dari keturunannya, itu merupakan nasab yang terbaik.
AL-AN'AAM (25)
AL-AN'AAM: 80-83
DIALOG ANTARA IBRAHIM DAN KAUMNYA
Sebab Turunnya Ayat 82
*Ibnu Abi Hatim* meriwayatkan dari *Bakar bin Sawadah*, ia mengatakan bahwa seorang laki-laki dari pihak musuh menyerang kaum Muslimin, lalu dia membunuh seorang Muslim, kemudian membunuh seorang lagi. Lalu, ia berkata, "Apakah Islam masih bisa menerimaku setelah semua perbuatan yang kulakukan ini?" Rasulullah saw. bersabda, "Ya”. Laki-laki itu menunggang kudanya dan lari masuk ke dalam golongannya, lalu ia menyerang sahabat-sahabatnya sendiri dan membunuhnya satu demi satu, kemudian ia pun terbunuh. *Bakar bin Sawadah* mengatakan bahwa kemudian para sahabat meriwayatkan bahwa kisah ini menjadi sebab turunnya ayat (ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَلَمْ يَلْبِسُوٓا۟ إِيمَـٰنَهُم بِظُلْمٍ ) hingga akhir ayat.
AL-AN'AAM (24)
AL-AN'AAM: 74-79
DIALOG ANTARA NABI IBRAHIM DENGAN BAPAKNYA, AAZAR, DAN SEBAB-SEBAB MENINGGALKAN KEMUSYRIKAN
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Demi mengukuhkan ketuhanan Allah SWT, Ibrahim melakukan dialog dan perdebatan serta bantahan dengan argumentasi dan bukti yang nyata. Dialog tersebut meliputi empat hal.
_Pertama,_ dialog Ibrahim dengan ayahnya yang ia berkata kepada ayahnya, _"Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?"_ *(Maryam: 42)*
Al-Qur’an menceritakan kisah perdebatan ini dalam *firman-Nya (۞ وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ)*
AL-AN'AAM (23)
AL-AN'AAM: 71-73
KEISTIMEWAAN BERIMAN KEPADA ALLAH SWT DAN KEHINAAN KEMUSYRIKAN
SEBAB TURUNNYA AYAT
*As-Siddi* mengatakan bahwa orang-orang musyrik berkata kepada orang-orang Muslim; Ikutilah jalan kita dan tinggalkanlah agama Muhammad saw.. Dengan demikian, *Allah SWT menurunkan ayat (قُلْ أَنَدْعُوا۟ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُنَا وَلَا يَضُرُّنَا وَنُرَدُّ عَلَىٰٓ أَعْقَابِنَا).*
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Ada beberapa pelajaran dari ayat di atas, di antaranya sebagai berikut.
1. Tetap teguh di atas jalan kebenaran dan hidayah setelah mengetahui hakikat keduanya dan menjauhkan diri dari kesesatan dan kemusyrikan setelah mengingkari kedustaan dan penyimpangan yang ada dalam di dalamnya.
2. Petunjuk Allah yang ada di dalam Al-Qur’an merupakan petunjuk yang benar. Seorang Muslim diperintahkan untuk ikhlas dalam beribadah kepada Allah SWT Sang Pemilik hidayah dan Tuhan semesta alam, baik jin maupun manusia. Ia juga diperintahkan untuk mendirikan shalat secara sempurna dan diperintahkan untuk bertakwa, yakni menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Halaman 113 dari 197