SURAH AL-AN'AAM: 59-62

AL-AN'AAM (19)

AL-AN'AAM: 59-62

KESEMPURNAAN ILMU ALLAH SWT DAN KEKUASAAN-NYA TERHADAP HAMBA

FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM

Ayat-ayat ini menunjukkan beberapa hal berikut:

1. Allah SWT mengetahui alam gaib dan alam yang zahir, baik secara global maupun parsial. Secara khusus. Dia mengetahui lima hal yang tidak diketahui oleh lainnya, yaitu mengetahui hari Kiamat, mengetahui waktu dan intensitas turunnya hujan, mengetahui apa yang terjadi dalam rahim dengan segala sifat-sifat dan karakteristik tertentu, mengetahui masa depan, dan mengetahui ajal manusia.

Ilmu Allah SWT meliputi segala yang bergerak dan yang diam, benda mati, hewan, tumbuhan, rahasia manusia, lintasan pikiran, dan bisikan hati.

Allah SWT mengetahui segala perkara gaib. Dialah yang berkuasa terhadap ilmu gaib. Dialah satu-satunya Zat yang memiliki ilmu gaib. Siapa pun yang dikehendaki oleh-Nya untuk mengetahui perkara-perkara gaib, ia akan diberikan oleh-Nya. Barangsiapa yang dikehendakiNya terhalang dari perkara gaib, ia tak akan mengetahuinya. Hal itu hanya diberikan kepada para rasul-Nya, sesuai dengan *firman Allah SWT:*

_"Allah tidak akan memperlihatkan kepadamu hal-hal yang gaib, tetapi Allah memilih siapa yang Dia kehendaki di antara rasuTrasul-Nya."_ *(Aali Tmraan: 179)*

_"Dia mengetahui yang gaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di depan dan di belakangnya."_ *(al-Jinn: 26-27)*

2. Para ulama mengatakan bahwa di samping yang mengetahui hal-hal gaib adalah Allah, hal gaib juga diketahui oleh orang-orang terpilih dari hamba-hamba-Nya, sebagaimana yang ditunjukkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Jadi, barangsiapa yang mengatakan bahwa Allah akan menurunkan hujan esok hari dan dia yakin dengan ucapannya itu, ia telah kafir, baik ucapannya tersebut didasari dengan hawa nafsu maupun tidak. Demikian pula halnya orang yang mengatakan bahwa dia mengetahui apa yang terjadi di dalam rahim, dia adalah kafir.

Namun, jika dia tidak yakin dan mengatakan bahwa biasanya Allah menurunkan air bersamaan dengan _an-Nau'_# (#= adalah jatuhnya bintang dari orbitnya di arah barat pada saat fajar menyingsing, dan munculnya sesuatu yang lain dari timur setelah beberapa saat orang-orang Arab biasanya menisbahkan hujan, angin, panas dan dingin pada sesuatu yang jatuh darinya)., karena hal tersebut biasanya menyebabkan turunnya air dan hal itu berdasarkan pada takdir dan ilmu Allah, ia tidaklah kafir. Hanya saja ia dianjurkan untuk tidak berbicara tentang hal itu karena ia serupa dengan ucapan orang-orang kafir dan menunjukkan ketidaktahuannya akan hikmah-Nya. Allah SWT akan menurunkan hujan kapan pun Dia kehendaki, terkadang dengan an-Nau' dan terkadang tanpa di dahului dengan itu. Adapun perdukunan (yang mengaku tahu masa lalu dan hal-hal gaib) dan peramal (orang yang mengaku tahu masa lalu dan masa depan) adalah sebuah kebohongan dan bertentangan dengan aqidah yang menegaskan bahwa Allah sajalah yang mengetahui perkara yang gaib. Dalam *Shahih Muslim* diriwayatkan hadits dari beberapa istri Nabi saw. bahwa *Nabi saw. bersabda:*

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ، لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

_“Barangsiapa yang mendatangi peramal dan bertanya sesuatu kepadanya, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh malam.”_ *(HR Muslim)*

_Al-'Arraaf_ adalah peramal dan ahli bintang yang mengaku mengetahui perkara gaib, ia berdalil dengan cara menunjukkan tanda-tanda yang memperkuat ramalannya. Kadang-kadang, dia menggunakan bantuan ramalan bintang ataupun yang lainnya dan dengan hal-hal lainnya yang biasa digunakan dalam hal itu. Keahlian yang semacam ini semuanya dinamakan dengan perdukunan.

*Ibnu Abdul Barr* mengatakan "Di antara perbuatan yang telah disepakati keharamannya oleh para ulama adalah riba, maharnya perempuan pelacur, penghasilan yang tidak halal, harta suap (sogok), mengambil upah atas perbuatannya yang melakukan _niyaahah_ (Berpura-pura menangis saat ada kematian.) dan bernyanyi, peramal dan orang yang mengaku mengetahui hal-hal gaib serta informasi langit, peniup seruling dan permainan yang batil.

3. Adanya *Al-kitab al-Mubin* yakni _Lauh Mahfuzh_ agar menjadi rujukan bagi para malaikat. Allah SWT menuliskan catatan tersebut, bukan karena ia khawatir akan lupa sebab Allah SWT sangat jauh dari sifat tersebut.

4. Allah SWT yang mengatur tidurnya manusia yang disebut juga dengan kematian kecil dan juga mengatur kematian hakiki yang disebut dengan kematian besar. Adapun perbedaan di antara keduanya bahwa di saat tidur ruh manusia tidak memiliki kekuatan untuk beraktivitas, sedangkan ketika kematian hakiki, ruh manusia tidak dapat bergerak secara total dan terpisah dari raga. Di saat tidur, unsur kehidupan masih tetap ada dengan dalil adanya napas dan gerak tubuh. Namun, jika sudah tiba ajalnya, ruh akan keluar dari jasad dan unsur kehidupan akan terputus darinya. Jasad tersebut akan menjadi bangkai yang tidak bergerak dan tidak bernapas.

5. Penangguhan Allah SWT terhadap orang-orang kafir bukan karena Dia lupa atas kekufuran mereka. Allah mencatat apa yang mereka lakukan dan ia mengetahui hal itu dan menetapkannya. Akan tetapi, hal itu dilakukan untuk menuntaskan rezeki dan kehidupan yang telah ditentukan bagi mereka. Setelah itu, mereka akan kembali kepada-Nya dan Allah akan membalas setiap perbuatan yang mereka lakukan.

Ayat ini menunjukkan adanya hari pengumpulan dan kebangkitan manusia. Pembentukan manusia yang kedua kalinya kedudukannya setelah pembentukan yang pertama, sebagaimana halnya orang yang bangun dari tidur. Jika ia mampu melakukan salah satu di antara keduanya, otomatis ia mampu melakukan yang lainnya.

6. Adanya penentuan ajal kehidupan dan waktu kembalinya manusia kepada Allah untuk dihisab dan dibalas merupakan sebuah penegas adanya hikmah dari penangguhan adzab yang diminta oleh kaum musyrik Mekah dan bahwa adzab akhirat lebih mengerikan daripada adzab dunia. Oleh sebab itu, orang yang selamat di dunia belum tentu selamat di akhirat.

Allah SWT adalah Zat yang berkuasa atas hamba-hamba-Nya dan memiliki kedudukan yang lebih tinggi, namun bukan lebih tinggi dari sisi tempat.

7. Allah SWT mempunyai para malaikat yang mencatat segala amal perbuatan manusia dan menjaga mereka dari musibah. Ada tugas lain bagi malaikat yang berkaitan dengan manusia, di antaranya adalah mencabut ruh. Malaikat maut mempunyai anggota yang bertugas menarik ruh. Sampai ketika tiba saatnya nyawa meregang dari tubuh manusia, malaikat mautlah yang mengeluarkan ruhnya.

Pada hakikatnya, yang mematikan adalah Allah SWT, namun kadang-kadang hal itu dinisbahkan kepada malaikat maut yang melaksanakan perintah Allah SWT, seperti *firman-Nya,*

_"Katakanlah, 'Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu, kemudian kepada Tuhanmu, kamu akan dikembalikan."_ *(as-Sajdah: 11)*

Kadang-kadang dinisbahkan kepada para malaikat karena mereka yang mewakili tugas ini, sebagaimana termaktub dalam ayat ini. Namun, kadang-kadang ia dinisbahkan kepada Allah SWT, seperti *firman-Nya:*

_“Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya."_ *(az-Zumar: 42)*

_"Katakanlah, 'Allah yang menghidupkan kemudian mematikan kamu."_ *(al-Jaatsiyyah: 26)*

*Yang menciptakan mati dan hidup* *(al-Mulk: 2)*

8. Satu-satunya penentu hukum pada hari Kiamat adalah Allah SWT semata, yakni Dialah pemberi keputusan dan ketepan hukum. Allah SWT menghisab dengan cepat. Dia tidak membutuhkan pemikiran dan pertimbangan yang lama.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login