AL-AN'AAM (24)
AL-AN'AAM: 74-79
DIALOG ANTARA NABI IBRAHIM DENGAN BAPAKNYA, AAZAR, DAN SEBAB-SEBAB MENINGGALKAN KEMUSYRIKAN
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Demi mengukuhkan ketuhanan Allah SWT, Ibrahim melakukan dialog dan perdebatan serta bantahan dengan argumentasi dan bukti yang nyata. Dialog tersebut meliputi empat hal.
_Pertama,_ dialog Ibrahim dengan ayahnya yang ia berkata kepada ayahnya, _"Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?"_ *(Maryam: 42)*
Al-Qur’an menceritakan kisah perdebatan ini dalam *firman-Nya (۞ وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ)*
_Kedua,_ dialog Ibrahim dengan kaumnya, yaitu firman-Nya (فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ ٱلَّيْلُ )
_Ketiga,_ dialog Ibrahim dengan raja pada masa itu. *Allah berfirman:*
_"Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan"_ *(al-Baqarah: 258)*
_Keempat_, dialog Ibrahim dengan orang-orang kafir dalam bentuk sikap, yaitu *firman-Nya:*
_"Maka dia (Ibrahim) menghancurkan (berhala-berhala itu) berkeping-keping, kecuali yang terbesar (induknya); agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya."_ *(al-Anbiyaa’: 58)*
Ini semua menunjukkan kemampuan Nabi Ibrahim dalam berdialog, berdiskusi, dan dalam menghadirkan argumentasi yang dapat menaklukkan lawan bicara dan dapat memperkuat maksud pembicaraannya dengan alasan-alasan yang jelas.
Ibrahim adalah seorang yang hebat dalam hal ini. Ia mampu menunjukkan kesalahan peribadahan pada bintang, bulan, dan matahari sebab semuanya bersifat terbenam dan menghilang. Adapun tuhan tidaklah terbenam dan tertutup, serta tidak pernah berhenti dalam mengawasi ciptaan-Nya. Pada awalnya, Ibrahim mengikuti alur dari keyakinan mereka, namun kemudian ia langsung meruntuhkan teori mereka.
Hal ini menunjukkan bahwa Ibrahim—sebagaimana yang telah dijelaskan—dalam posisi sebagai seorang yang berdebat (dengan musuh), bukan orang yang sedang mengamati bukti ketuhanan. Pasalnya, aqidah yang ia miliki telah mengakar kuat dalam hatinya melalui fitrah, ilham, petunjuk ilahi, dan akal serta pancaindera.
Adapun firman-Nya (لَئِن لَّمْ يَهْدِنِى رَبِّى) maknanya ialah _"Jika Tuhanku tidak menetapkanku di atas jalan hidayah.”_ Sebelumnya, dia adalah orang yang mendapatkan hidayah. Di dalam Al-Qur'an disebutkan:
_“Tunjukilah kami jalan yang lurus."_ *(al-Faatihah: 6)*
Maksudnya ialah tetapkanlah kami di jalan hidayah.
Dalam menjelaskan tiga fenomena alam di atas, Ibrahim melakukannya dengan cara bertahap. Dimulai dari penjelasan atas ketuhanan bintang hingga akhirnya menghasilkan kesimpulan akan ketuhanan Allah yang Mahabenar melalui firman-Nya (إِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِىَ), yakni aku tujukan ibadahku dan aqidahku semata-mata hanya kepada Allah SWT. Adapun penggunaan kata "wajah" karena melalui wajah itulah manusia dapat dikenal. Tahapan tersebut diawali dalam bentuk sindiran akan kebodohan kaumnya dan kesalahan yang terdapat dalam aqidah paganisme. Lalu, ia menunjukkan ketidaksukaannya terhadap sesuatu yang bersifat sementara. Kemudian, ia memberikan peringatan agar jangan sampai jatuh pada kesesatan dan kesalahan. Setelah itu, ia menegaskan bahwa ia berlepas diri dari kemusyrikan dan orang-orang musyrik, serta menunjukkan aqidah yang diyakininya setelah sebelumnya ia menghancurkan prinsip-prinsip kemusyrikan.
*Ar-Razi* mengatakan "Tiada seorang pun di alam ini yang bisa menetapkan adanya sekutu yang sepadan bagi Allah SWT, baik dalam kekuasaan, ilmu, maupun kebijaksanaan-Nya. Adapun paganisme mereka meyakini adanya dua tuhan. Pertama, Tuhan Yang Mahabijak yang memiliki sumber kebaikan. Kedua, Tuhan yang buruk sumber dari kejelekan. Di antara bentuk-bentuk peribadahan kepada selain Allah SWT ialah penyembahan terhadap bintang-bintang, kaum yang mengingkari adanya Sang Pencipta, ateisme, dan orang nasrani yang menyembah selain Allah, yaitu menyembah al-Masih, serta orang-orang yang menyembah berhala.
Penyimpangan yang pertama kali terjadi ialah penyembahan terhadap berhala sebab sejarah kenabian yang pertama kali sampai kepada kita secara rinci ialah sejaran Nabi Nuh. Dalam sejarah tersebut, diceritakan bagaimana sikap Nabi Nuh terhadap kaum yang menyembah berhala, sebagaimana *fiman Allah SWT:*
_"Jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa' Yagus, Ya'uq, dan Nasr."_ *(Nuuh: 23)*
Adapun sebab perkataan mereka ini adalah karena manusia-manusia terdahulu berasumsi bahwa dalam diamnya berhala ada sebuah rahasia yang dapat mengantarkan manusia kepada Allah SWT atau ada asumsi bahwa dalam beberapa makhluk-makhluk Allah seperti pohon-pohon, matahari, ataupun bulan dapat dijadikan sarana menuju kepada Tuhan Yang Mahabenar dan menjadi penolong, serta dapat mendekatkannya kepada Allah dengan cara bersimpuh dihadapan bendabenda tersebut.
Kaumnya Nabi Ibrahim sebenarnya mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak bisa mendengar, tidak bisa melihat, tidak bisa memberi manfaat, dan bahaya, namun mereka hanya mengikuti nenek moyangnya. Oleh karena itu, mereka menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan-tuhan yang disembah saja bukan menganggapnya sebagai tuhan yang mengatur alam semesta. Bahkan mereka menjadikan bintang-bintang sebagai tuhan yang mengatur alam disebabkan ia dapat memengaruhi kondisi bumi ini.
Orang-orang Arab juga bersikap taklid buta terhadap nenek moyangnya dalam menyembah berhala, sebagaimana yang mereka katakan:
_"Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.”_ *(QS. az-Zumar: 3)*
Orang yang beriman wajib menentang setiap bentuk penyembahan kepada berhala dan ritual mereka. Ia hanya menyembah kepada Sang Pencipta langit dan bumi bukan yang lainnya. Hal ini sebagaimana yang ditegaskan oleh Ibrahim yang berkata, berkenaan dengan berhala-berhala,
_“Dia (Ibrahim) menjawab, 'Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan (pemilik) langit dan bumi; (Dialah) yang telah menciptakannya; dan aku termasuk orang yang dapat bersaksi atas itu.”_ *(al-Anbiyaa': 56)*
Seluruh ciptaan Allah SWT menunjukkan adanya pencipta dan kekuasaan-Nya karena semua makhluk bersifat muhdats (baru) dan tidak pasti. Segala sesuatu yang bersifat muhdats serta tidak pasti bergantung pada adanya Sang Pencipta.
Adapun firman Allah SWT (لَآ أُحِبُّ ٱلْـَٔافِلِينَ) menunjukkan pada beberapa hukum sebagaimana yang disebutkan oleh ar-Razi.
1. Ayat ini menunjukkan bahwa Allah SWT tidak berbentuk benda sebab jika tidak, tentu Dia selalu tersembunyi dari kita dan akan selalu terbenam.
2. Ayat ini menunjukkan bahwa Allah SWT tidak memiliki sifat _muhdats_ (yang baru). Jika tidak, ia akan berubah-ubah dan inilah maksud dari kata terbenam, dan hal itu tentu mustahil bagi Allah SWT.
3. Ayat ini menunjukkan bahwa agama harus berlandaskan pada dalil, bukan pada taklid karena jika tidak berlandaskan pada dalil, tidak ada manfaatnya melakukan argumentasi.
4. Ayat ini menunjukkan bahwa pengetahuan para nabi akan Tuhannya bersumber dari dalil dan tidak bersifat spontanitas. Jika tidak, tentu Ibrahim tidak butuh untuk memaparkan dalil dan bukti.
5. Ayat ini menunjukkan bahwa tak ada cara untuk mengenal Allah SWT, kecuali dengan cara analisis dan konklusi (pemaparan dalil) terhadap keadaan makhluk. Seandainya ada cara lain, tentu Ibrahim tidak harus menempuh cara ini.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
