AL-AN'AAM (38)
AL-AN'AAM: 125- 128
SUNNAH ALLAH TERHADAP ORANG-ORANG YANG SIAP MENDAPATKAN KEIMANAN DAN ORANG-ORANG YANG TIDAK SIAP, JUGA BALASAN KEDUA KELOMPOK SETELAH PENJELASAN MENGENAI KEBENARAN DAN JALAN KEBENARAN ITU
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
(فَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يَهْدِيَهُۥ) menunjukkan bahwa hidayah dan taufik kepada keimanan, kebaikan, dan kebenaran begantung pada kehendak Allah SWT. Berdasarkan ayat ini, Ahlus Sunnah berpendapat bahwa kesesatan dan hidayah berada di tangan Allah SWT. Dialah yang menciptakan dan mewujudkannya. Maksudnya ialah bahwa hamba berpotensi untuk beriman dan kufur. Kedua potensi ini memiliki peluang yang sama. Hanya saja, ia bergantung pada faktor pendorong dalam diri dan hati yang mengarahkan manusia kepada keimanan atau kekufuran. Faktor pendorong ini adalah berupa pengetahuan, keyakinan atau dugaan bahwa perbuatannya itu mengandung kemaslahatan atau bahaya. Jika dalam hatinya cenderung pada sebuah kemaslahatan atau kebaikan, dia akan melakukan hal itu. Jika dalam hatinya terbentuk kecenderungan kepada bahaya atau kerusakan, dia akan meninggalkannya. Munculnya kecenderungan ini berasal dari Allah SWT. Gabungan antara kemampuan manusia dengan faktor pendorong Ilahi menghasilkan sebuah perbuatan.
AL-AN'AAM (37)
AL-AN'AAM: 124
KEANGKUHAN ORANG-ORANG MUSYRIK DAN TUNTUTAN MEREKA ATAS KENABIAN
Sebab Turunnya Ayat
Ayat ini turun kepada *Walid bin Mughirah*. Dia berkata, "Kalau saja kenabian itu benar, aku lebih berhak mendapatkannya daripada Muhammad sebab aku lebih tua dan lebih banyak harta dan anak.
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Kenabian atau risalah diberikan kepada orang yang bisa dipercaya dan berhak juga paling mampu menanggung beban risalah. Risalah tidaklah seperti kedudukan dunia yang bersandarkan pada pengaruh, kekuasaan, harta, kedudukan, nasab, banyaknya pendukung, dan anak keturunan. Manusia tidak lain hanyalah diperintahkan untuk beriman kepada apa yang dibawa para nabi sebab kenabian mereka telah dilegitimasi dengan dalil yang jelas dan dengan mukjizat yang luar biasa. Jika mereka tidak beriman, mereka akan mendapatkan dua perkara: kehinaan dan kenistaan serta siksa yang pedih di akhirat karena dosa, tipu daya, rasa iri, dan kedengkian mereka. Ini adalah sesuatu yang haq dan adil sebagai pembeda antara orang-orang yang taat dan orang-orang yang maksiat. Ancaman kehinaan didahulukan daripada siksa karena pembangkangan yang dilakukan oleh kaum tersebut disebabkan keinginan mereka untuk mendapatkan kejayaan dan kemuliaan. Oleh sebab itu, Allah pun membalas mereka dengan kebalikan dari yang mereka inginkan.
AL-AN'AAM (36)
AL-AN'AAM: 122-123
PERUMPAMAAN ORANG MUKMIN YANG MENDAPATKAN HIDAYAH DAN ORANG KAFIR YANG SESAT
Sebab Turunnya Ayat (122)
Diriwayatkan oleh *Abu Syekh bin Hayyaan al-Anshaari* dari *Ibnu Abbas* tentang *firman Aliah SWT (أَوَمَن كَانَ مَيْتًۭا فَأَحْيَيْنَـٰهُ)* ia mengatakan bahwa ayat ini turun mengenai Umar dan Abu Jahal. *Ibnu Jarir ath-Thabari* meriwayatkan dari *ad-Dhahhak* serupa dengan riwayat di atas*. Abu Bakar al-Haritsi* meriwayatkan dari *Zaid bin Aslam* riwayat yang serupa dengan di atas, bahwa *firman Allah SWT (أَوَمَن كَانَ مَيْتًۭا)* maksudnya adalah *Umar bin Khaththab.* Sementara *firman Allah SWT (ٱلنَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُۥ فِى ٱلظُّلُمَـٰتِ)* turun mengenai Abu Jahal bin Hisyam.
AL-AN'AAM (35)
AL-AN'AAM: 116-121
KESESATAN ORANG-ORANG MUSYRIK DAN LARANGAN MEMAKAN SEMBELIHAN MEREKA
*Sebab Turunnya Ayat*
1. Ayat 118:
*Abu Dawud dan at-Tirmidzi* meriwayatkan dari *Ibnu Abbas*, dia berkata, "Sekelompok orang mendatangi Nabi Muhammad saw. lalu berkata, "Wahai Rasulullah, apakah kita makan apa yang kita bunuh, sementara kita tidak makan apa yang dibunuh Allah?" lalu Allah menurunkan ayat (فَكُلُوا۟ مِمَّا ذُكِرَ ٱسْمُ ٱللَّهِ عَلَيْهِ) sampai pada ayat (وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ).
*Abu Dawud, al-Hakim,* dan lainnya meriwayatkan dari *Ibnu Abbas* mengenai firman Allah SWT, (وَإِنَّ ٱلشَّيَـٰطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰٓ أَوْلِيَآئِهِمْ) Ibnu Abbas berkata, "Orang-orang mengatakan Apa yang disembelih Allah tidak boleh kalian makan, sedangkan apa yang kalian sembelih sendiri, makanlah.’" Lalu, turunlah ayat tersebut.
Halaman 110 dari 197