SURAH AL-AN'AAM: 122-123

AL-AN'AAM (36)

AL-AN'AAM: 122-123

PERUMPAMAAN ORANG MUKMIN YANG MENDAPATKAN HIDAYAH DAN ORANG KAFIR YANG SESAT

Sebab Turunnya Ayat (122)

Diriwayatkan oleh *Abu Syekh bin Hayyaan al-Anshaari* dari *Ibnu Abbas* tentang *firman Aliah SWT (أَوَمَن كَانَ مَيْتًۭا فَأَحْيَيْنَـٰهُ)* ia mengatakan bahwa ayat ini turun mengenai Umar dan Abu Jahal. *Ibnu Jarir ath-Thabari* meriwayatkan dari *ad-Dhahhak* serupa dengan riwayat di atas*. Abu Bakar al-Haritsi* meriwayatkan dari *Zaid bin Aslam* riwayat yang serupa dengan di atas, bahwa *firman Allah SWT (أَوَمَن كَانَ مَيْتًۭا)* maksudnya adalah *Umar bin Khaththab.* Sementara *firman Allah SWT (ٱلنَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُۥ فِى ٱلظُّلُمَـٰتِ)* turun mengenai Abu Jahal bin Hisyam.

*Al-Wahidi an-Naisaburi* meriwayatkan dari *Ibnu Abbas* dia berkata, "Firman Allah SWT (أَوَمَن كَانَ مَيْتًۭا) turun pada Hamzah bin Abdul Muthalib dan Abu Jahal. Hal itu karena Abu Jahal melempari Rasulullah dengan kotoran, sementara Hamzah belum beriman. Lalu, Hamzah diberi tahu tentang apa yang dilakukan Abu Jahal. Ketika Hamzah pulang dari berburu dan di tangannya masih ada panah, ia mendatangi Abu Jahal dengan marah sampai mengarahkan panah pada Abu Jahal yang ketakutan sembari berkata, ‘Wahai Abu Ya’la, tahukah kamu apa yang dibawa Muhammad? dia menganggap kita bodoh, mencaci Tuhan kita, dan menyelisihi nenek moyang kita.’ Hamzah berkata, ‘Siapa yang lebih bodoh dari kalian? Kalian menyembah batu bukan Allah. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.’” Lalu, Allah menurunkan ayat ini.

Riwayat-riwayat tersebut memiliki kandungan yang sama bahwa orang kafir yang sesat adalah Abu Jahal. Adapun orang Mukmin yang mendapatkan hidayah ada yang mengatakan Hamzah dan ada yang mengatakan Umar r.a.. Pendapat yang benar sebagaimana dikatakan Ibnu Katsir dan al-Qurthubi adalah bahwa ayat ini umum, berlaku bagi setiap orang Mukmin dan kafir.

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Dua ayat tersebut menunjukkan hal-hal berikut.

1. Orang Mukmin yang mendapatkan hidayah seperti orang yang sebelumnya mati kemudian dihidupkan oleh Allah SWT. Dialah orang yang diberi nikmat kehidupan yang hakiki, lurus, sempurna, dan tenang sebab dia benar-benar memahami kondisinya, amal perbuatan, dan sejarah hidupnya. Dia juga mengetahui secara mendalam mengenai agamanya dan masa depan yang penuh dengan harapan yang dinantikan, kebaikan-kebaikan yang melimpah, serta kenikmatan yang abadi. Adapun orang kafir yang sesat, pada hakikatnya ia hidup dalam kegelapan yang bertumpuk-tumpuk. Kegelapan kekufuran, kegelapan pola pikir dan jalan hidup, kegelapan masa depan yang tidak jelas yang dipenuhi dengan berbagai macam adzab, kesempitan hidup, kebingungan, kegelisahan, dan kegundahan.

2. Sunnatullah dalam kehidupan bermasyarakat bahwa hegemoni dan kekuasaan berada di tangan para pembesar yang jahat, pemimpin yang fasik dan maksiat, dan orang-orang yang menyimpang yang memerangi para rasul dan melawan gerakan perbaikan. Namun demikian, kemenangan dan keberuntungan pada akhirnya akan diraih oleh orang-orang yang benar, beriman, dan istiqamah. Sementara itu, kerugian, kebinasaan, dan dampak buruk dari makar akan menimpa orang-orang kafir dan sesat. Ini adalah balasan atas tipu muslihat yang mereka lakukan, yaitu berupa siksa yang pedih. Mereka sekarang tidak merasakan hal itu disebabkan kebodohan mereka bahwa akibat buruk dari makar mereka akan kembali pada mereka sendiri.

Terkait dengan *firman Allah SWT (كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكَـٰفِرِينَ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ)* para mufasslr menjelaskan permasalahan *al-Jabr dan qadar.* Ahlus Sunnah mengatakan bahwa yang membuat mereka menganggap baik amal perbuatan tersebut adalah Allah SWT sebab setiap perbuatan tergantung pada faktor pendorongnya yang merupakan ciptaan Aliah. Faktor pendorong bisa berupa pengetahuan, keyakinan, atau dugaan bahwa sebuah perbuatan di dalamnya berisi manfaat dan kebaikan. Faktor pendorong inilah penyebab yang menjadikan seseorang menganggap suatu perbuatan itu baik. Jika faktor pendorongnya bersumber dari Allah SWT, yang menjadikan perbuatan itu dianggap baik adalah Allah SWT juga, sebagaimana *firman-Nya:*

_"Kami jadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan mereka (yang buruk)."_ *(an-Naml: 4)*

*Muktazilah* berpendapat bahwa yang menjadikan perbuatan dianggap baik adalah setan yang bersumpah akan menyesatkan anak Adam. Pendapat ini lemah sebab Allah SWT menegaskan bahwa Dialah yang menjadikan sebuah perbuatan dianggap baik dan tidak ada yang berkuasa atas hai itu selain Allah SWT.====

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login