AN-NAHL (14)
DUA PERUMPAMAAN UNTUK BERHALA DAN ARCA
Surah an-Nahl Ayat 75-76
Sebab Turunnya Ayat
*Ibnu Jarir* meriwayatkan dari *Ibnu Abbas r.a.* terkait dengan *ayat 75*. Ia mengatakan, ayat ini turun menyangkut seorang laki-laki Quraisy dan budak miliknya. Sedangkan *ayat 76* turun menyangkut *Utsman bin Affan r.a.* dan seorang budaknya yang membenci Islam, memprovokasi Utsman agar tidak bersedekah dan berbuat kebajikan. Turunlah ayat ini menyangkut keduanya.
Dengan kata lain, ayat 76 turun menyangkut *Utsman bin Affan r.a.* dan budak-nya yang kafir bernama *Usaid bin Abil Ash.* Ia adalah orang yang membenci Islam. *Utsman bin Affan r.a*. memberinya nafkah, menanggungnya dan mencukupi kebutuhannya, sedangkan, ia mencegah *Utsman* untuk bersedekah dan berbuat kebajikan.
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Kedua perumpamaan tersebut menggambarkan kesesatan orang-orang musyrik dan kebatilan penyembahan berhala. Tuhan Yang disembah sudah seharusnya berkuasa dan memiliki otoritas secara total untuk melakukan segala tindakan, memberi manfaat kepada para penyembah-Nya, memerintahkan kebaikan dan keadilan, komitmen atas istiqamah dan adil dalam perbuatan.
Berhala-berhala dalam perumpamaan yang pertama adalah sesuatu yang nihil segalanya, tidak kuasa melakukan tindakan apa pun, ibarat budak sahaya yang dimiliki dan dikuasai penuh oleh majikannya. Adapun orang merdeka yang memiliki harta banyak berinfak dan membelanjakan miliknya secara bebas, baik secara diam-diam maupun secara terangterangan, dia yang mampu melakukan tindakan dan memiliki kebebasan untuk bertindak. Oleh karena itu menurut akal sehat, tidak bisa disamakan antara orang merdeka dengan budak sahaya dalam hal pemuliaan dan penghormatan, padahal keduanya sama-sama manusia, sama bentuk dan wujudnya. Bagaimana mungkin bagi orang yang berakal menyamakan antara Allah SWT Yang Mahakuasa atas segala sesuatu, Mahakuasa memberi rezeki dan karunia, dengan berhala-berhala yang merupakan benda mati yang sama sekali tidak mampu melakukan apa pun?!
Ada pendapat lain yang mengatakan, perumpamaan ini adalah perumpamaan orang Mukmin dan orang kafir. Maksud budak sahaya yang dimiliki yang tidak memiliki kuasa apa pun adalah perumpamaan orang kafir. Atas dasar pertimbangan keadaannya yang terhalang dari menghamba dan taat kepada Allah SWT, ia ibarat seorang budak yang hina, rendah, fakir, dan lemah. Sedangkan maksud ayat *( وَمَن رَّزَقْنَـٰهُ مِنَّا رِزْقًا حَسَنًۭا)* adalah perumpamaan orang Mukmin. Ia adalah orang yang mendedikasikan diri menghormati perintah Allah SWT serta memiliki simpati dan empati kepada makhluk-Nya. Allah SWT menerangkan bahwa keduanya tidak sama dalam hal martabat, kemuliaan, dan kedekatan kepada ridha Allah SWT.
*Ar-Razi* mengatakan, pendapat yang pertama adalah pendapat yang lebih tepat. Karena ayat ini dalam konteks pengukuhan tauhid dan sanggahan terhadap orang-orang musyrik.
Perumpamaan ini selaras dengan apa yang disebutkan sebelumnya berupa pemaparan tentang nikmat-nikmat Allah SWT kepada orangorang musyrik, sementara nikmat-nikmat sama sekali tidak diperoleh dari tuhan-tuhan palsu mereka.
Para ahli fiqih menjadikan ayat ini sebagai dasar dalil bahwa seorang hamba sahaya tidak memiliki apa pun.
Dalam perumpamaan yang kedua digambarkan bagaimana berhala-berhala tidak menguasai apa pun. Adapun Allah SWT, Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Orang bisu yang tidak bisa apa-apa adalah perumpamaan berhala. Sedangkan yang memerintahkan berbuat adil adalah Allah SWT. Apakah sama orang bisu dengan orang yang menyuruh berbuat adil sedang ia berada di atas jalan yang lurus?! Orang yang memerintahkan berbuat adil sudah pasti orang yang bisa berbicara, jika tidak, tentu ia tidak bisa disebut sebagai orang yang memerintahkan, la juga mesti orang yang memiliki kemampuan dan kekuasaan, karena perintah mengesankan pengertian tingginya kedudukan. Itu tidak bisa terjadi kecuali ia adalah orang yang memiliki kemampuan dan kuasa. Juga, ia mesti orang yang memiliki pengetahuan, sehingga memungkinkan baginya untuk membedakan antara keadilan dan kezaliman. Kualifikasi adil di sini menunjukkan bahwa ia juga memiliki kualifikasi orang yang memiliki kemampuan dan kuasa serta memiliki pengetahuan.
Adapun orang yang pertama, ia didefinisikan dengan empat sifat. _Pertama_, bisu. _Kedua_, tidak bisa apa-apa, dan ini mengisyaratkan ketidakmampuan dan kekurangannya secara total. _Ketiga_, menjadi beban berat bagi walinya. _Keempat_, ke mana pun ia disuruh, ia tidak bisa mendatangkan suatu kebaikan sesuai dengan yang diinginkan. Ia adalah orang yang lemah dan tidak bisa apa-apa, tidak bisa mengungkapkan isi hati dan pikiran serta tidak bisa mengerti dan memahami perkataan. Apakah orang yang terdefinisikan dengan empat sifat seperti ini sama dengan orang yang terdefinisikan dengan sifat-sifat sebaliknya, yaitu orang yang memerintahkan bukan orang bisu, orang yang mampu bukan orang yang lemah dan tidak memiliki kemampuan apaapa serta menjadi beban berat bagi walinya, yang memiliki pengetahuan bukan orang yang tidak bisa mendatangkan suatu kebaikan apa pun?!===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
