Surah Ibraahiim Ayat 5-8

IBRAAHIIM (2)

TUGAS NABI MUSA A.S. DAN NASIHAT-NASIHATNYA KEPADA KAUMNYA

Surah Ibraahiim Ayat 5-8

FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM

Ayat-ayat di atas menjelaskan sejumlah hal seperti berikut:

1. Maksud dan tujuan dari pengutusan para nabi adalah agar para nabi berusaha mengeluarkan manusia dari kegelapan kekafiran dan kesesatan menuju kepada cahaya keimanan dan hidayah.

2. Manusia hendaknya mengambil nasihat dan pelajaran dari hari-hari Allah SWT, yakni peristiwa-peristiwa besar yang terjadi dalam hari-hari itu. Juga, manusia hendaknya senantiasa mengingat nikmatnikmat Allah SWT kepada mereka.

Ini adalah bentuk kombinasi antara _targhiib_ dan _tarhiib_, janji dan ancaman. _Targhiib _atau janji tersebut adalah Musa atau yang lainnya mengingatkan manusia atas nikmat yang telah Allah SWT karuniakan kepada mereka dan kepada orang-orang beriman terdahulu sebelum mereka pada masa-masa lampau. Sedangkan _tarhiib_ atau ancaman adalah mengingatkan manusia atas balasan dan hukuman Allah SWT terhadap orang-orang yang mendustakan para rasul dari umat-umat terdahulu pada masa-masa lampau, seperti adzab yang menimpa bangsa Ad, Tsamud, dan yang lainnya. Itu semua agar mereka senang kepada janji, mereka pun membenarkan dan takut kepada ancaman, sehingga mereka pun meninggalkan sikap kafir, sikap tidak percaya serta mendustakan.

3. Di dalam peringatan dan nasihat itu terdapat tanda-tanda petunjuk bagi orang yang penyabar dan bersyukur. Ketika sedang mengalami cobaan dan musibah, ia bersabar, dan ia bersyukur di kala mendapatkan kesenangan dan kenikmatan. Ini menegaskan bahwa seorang Mukmin, hendaknya tidak lepas dari salah satu dari dua hal ini, yaitu sabar dan syukur. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh *Baihaqi* dari *Anas r.a*. — dha'if— *Rasulullah saw*. bersabda:


_“Iman terbagi menjadi dua bagian, separuh di dalam sabar dan separuh di dalam syukur Kemudian beliau membaca ayat ini"_ *(ٱللَّهِ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَـَٔايَـٰتٍۢ لِّكُلِّ صَبَّارٍۢ شَكُورٍۢ )*

4. Pada masa Fir’aun, Bani Israil mengalami dua keadaan; sengsara dan mendapatkan nikmat. Akan tetapi mereka tidak mensyukurinya, serta tidak sabar ketika mengalami kesengsaraan. Sikap mereka bisa dilihat dari nasihat Musa kepada mereka ketika ia menangkap tanda-tanda sikap kufur, angkuh, dan sikap membangkang pada diri mereka.

5. Sesungguhnya menysukuri nikmat dapat menambahkan nikmat, dan sikap kufur nikmat dapat mengurangi bahkan menghilangkan nikmat. Ayat di atas sangatlah jelas bahwa syukur menjadi sebab bertambahnya nikmat, dan kufur menjadi sebab berkurangnya nikmat. Barangsiapa yang senantiasa banyak mensyukuri nikmat-nikmat Allah SWT, Allah SWT akan menambahkannya. Barangsiapa yang kufur terhadap nikmat Allah SWT, berarti ia adalah orang yang jahil dan tidak mengenal Allah SWT, sementara jahil dan tidak mengenal Allah SWT akan mendatangkan hukuman dan adzab. Maksud, *(وَلَئِن كَفَرْتُمْ)* adalah, kufur nikmat, bukan kafir.

Syukur adalah ungkapan mengapresiasi nikmat disertai dengan memuliakan pihak yang memberi nikmat serta bertindak yang sesuai dan mencerminkan hal itu.

*Kesimpulannya*, sikap kufur nikmat mendatangkan adzab yang keras, terjadinya berbagai malapetaka di dunia dan akhirat. Sikap senantiasa mensyukuri nikmat membuat semakin bertambahnya nikmat.

6. Manfaat dan mudharat dari sikap syukur kembali kepada orang yang bersangkutan. Allah SWT Mahaluhur dan Mahasuci dari mendapatkan manfaat dari syukur hamba-Nya atau mendapatkan mudharat dari sikap kufur hamba-Nya.

Maksud ucapan Musa, ayat *( إِن تَكْفُرُوٓا۟ أَنتُمْ)* menjelaskan bahwa Allah SWT memerintahkan ketaatan adalah demi kebaikan hamba, untuk manfaat-manfaat yang kembali kepada diri hamba, bukan kembali kepada-Nya. Hal ini berdasarkan ayat (فَإِنَّ ٱللَّهَ لَغَنِىٌّ حَمِيدٌ ) sikap mereka tidak akan menimbulkan kekurangan dan mudharat apa pun terhadap-Nya, tetapi Dia Mahakaya, tidak membutuhkan apa pun, lagi Maha Terpuji dalam segala keadaan dan dalam hal apa pun.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login