IBRAAHIIM (3)
BEBERAPA KISAH PARA RASUL TERDAHULU DENGAN UMAT-UMAT MEREKA
Surah Ibraahiim Ayat 9-12
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Ayat-ayat di atas menjelaskan sejumlah hal sebagai berikut,
1. Manusia hendaknya mengambil pelajaran dari umat-umat terdahulu yang mendustakan, mencemooh, dan mengolok-olok para rasul. Akibat yang harus mereka tanggung adalah kehancuran dan kebinasaan.
2. Sikap dan respon orang-orang kafir terhadap para nabi mereka memiliki tiga tingkatan.
_Pertama_, mereka bersikap diam dan berupaya membungkam para nabi agar tidak mengaku bahwa diri mereka adalah nabi.
_Kedua_, mereka secara terbuka menyatakan bahwa mereka mengingkarinya.
_Ketiga_, mereka meragukan dan menyangsikan keabsahan kenabian.
Semua itu menjadi bukti bahwa mereka tidak mengakui kenabian.
3. Para nabi memaparkan bukti-bukti wujud Allah SWT dan keesaan-Nya, dengan menegaskan bahwa fitrah yang lurus mengikrarkan kesaksian atas hal itu. Penciptaan langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya, menunjukkan makna _huduuts_, kreasi, dan penundukkan untuk semua makhluk. Hal ini merupakan bukti pasti yang tak terbantahkan wujud Sang Khaliq, _uluuhiyyah_- Nya, _rubuubiyyah_ -Nya, dan hanya Dia semata yang layak disembah. Tidak ada keraguan bagi orang yang berakal atas keesaan Allah SWT, setelah semuanya jelas dan umat-umat pun mengikrarkan pengakuan bahwa Dia-lah Sang Pencipta segala hal yang ada. Mustahil keberadaan suatu rumah misalnya yang penuh dengan keunikan, kreasi, struktur, bentuk, ornamen, hiasan dan pahatan yang indah, tanpa ada ahli yang membuatnya. Jika Allah SWT adalah Sang Pencipta, tidak ada yang berhak disembah melainkan Dia semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya.
4. Allah SWT Sang Pencipta langit dan bumi, Dia juga Zat Yang Maha Pengasih, Maha Pemurah dan Penyantun. Itu dibuktikan bahwa tujuan dari menyeru manusia untuk beriman kepada-Nya dan mengesakan-Nya ada dua. _Pertama_, pengampunan dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan. Hal itu dapat membersihkan jiwa yang menjadikannya layak untuk masuk surga. Hanya jiwa-jiwa yang bersih saja yang berhak memasuki surga. _Kedua_, memberikan penangguhan dan penundaan kepada manusia sampai akhir usia mereka, yaitu kematian sehingga Allah SWT tidak mengadzab mereka di dunia ini.
5. Tanggapan orang-orang kafir sangatlah lemah dan mengandung tiga bentuk opini sesat.
_Pertama_, opini bahwa kesamaan dari sisi kemanusiaan menjadi alasan tidak boleh ada perbedaan di antara mereka, termasuk pengakuan salah seorang di antara mereka menjadi seorang rasul dari sisi Allah SWT dan mengetahui hal-hal gaib dan berinteraksi dengan golongan malaikat. Sementara yang lain tidak mampu melakukan hal itu. Ini adalah makna perkataan mereka seperti dalam ayat *( إِنْ أَنتُمْ إِلَّا بَشَرٌۭ مِّثْلُنَا )* (kalian tidak lain hanyalah manusia sama seperti kami).
_Kedua_, berpegangan pada sikap taklid, mereka mendapati leluhur, nenek moyang, para ulama dan pembesar mereka, semuanya sama-sama menyembah berhala. Lebih jauh, mereka tidak mengetahui kebatilan agama yang selama ini mereka peluk. Ini adalah makna perkataan mereka seperti dalam ayat *( تُرِيدُونَ أَن تَصُدُّونَا عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ ءَابَآؤُنَا)*
_Ketiga_, sesuatu yang luar biasa yang tidak setiap orang bisa melakukannya, tidak menjadi bukti kebenaran pengakuan para nabi. Jika seandainya diterima bahwa itu menunjukkan kebenaran dan keabsahan, namun apa yang didatangkan oleh para rasul adalah hal-hal yang biasa, bukan termasuk kategori mukjizat yang berada di luar kemampuan manusia. Ini adalah makna pernyataan mereka dalam ayat *(فَأْتُونَا بِسُلْطَـٰنٍۢ مُّبِينٍۢ)*
6. Tanggapan para nabi terhadap ketiga opini sesat itu adalah:
_Pertama_, unsur kesamaan sebagai manusia sama sekali tidak bisa menjadi alasan mencegah adanya sebagian manusia yang mendapatkan keistimewaan kenabian. Karena kenabian adalah karunia dari Allah SWT kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara para hamba-Nya.
_Kedua_, menjadikan kesamaan para leluhur dalam memeluk agama paganisme dengan agama yang benar. Jawabannya, kemampuan membedakan antara yang haqq dan yang batil, antara yang benar dan yang bohong, merupakan pemberian dan karunia dari Allah SWT. Sesuatu yang sangat mungkin jika Allah SWT mengistimewakan sebagian hamba-Nya dengan pemberian dan karunia tersebut, sedangkan sebagian besar yang lain tidak.
_Ketiga_, pernyataan mereka kepada para nabi, "Kami tidak puas dengan mukjizat-mukjizat yang telah kalian datangkan kepada kami. Tetapi, kami menginginkan mukjizat-mukjizat lainnya yang lebih kuat dan tak terbantahkan.” Jawabannya, apa yang kalian minta merupakan hal-hal tambahan, dan itu sepenuhnya terserah Allah SWT. Jika Allah SWT berkenan memperlihatkannya, itu adalah karunia dan kemurahan-Nya, dan jika tidak, itu adalah keadilan dan hak-Nya, dan tidak perlu lagi meminta sesuatu dari-Nya setelah Dia memberikan apa yang sudah mencukupi.
7. Tidak ada jalan di hadapan para nabi selain jalan kesabaran atas berbagai gangguan, berpegang teguh, dan percaya sepenuhnya kepada Allah SWT. Memasrahkan segala urusan yang ada kepada-Nya dan bertawakal sepenuhnya kepada-Nya. Sesungguhnya kesabaran adalah kunci kelapangan dan awal terbitnya kebaikan-kebaikan. Bertawakal kepada Allah SWT dan bersandar penuh mengandalkan karuniaNya adalah kunci terwujudnya pertolon gan dan kemenangan.
Perintah bertawakal di sini disebutkan berulang-ulang faedahnya. _Pertama_, ditujukan kepada diri para nabi, kemudian kepada para pengikut mereka. Setelah para nabi memerintahkan diri mereka sendiri untuk bertawakal kepada Allah SWT dalam ayat *(وَمَا لَنَآ أَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى ٱللَّهِ)*, mereka memerintahkan hal itu kepada para pengikut mereka dalam ayat *(وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُتَوَكِّلُونَ)* Ini memberikan sebuah pengertian bahwa seseorang yang memerintahkan kebaikan tidak akan efektif, tidak memiliki dampak dan pengaruh kecuali jika dirinya sendiri pertama-tama melakukan dan mempraktikkan kebaikan itu terlebih dahulu.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
