Surah Ibraahiim Ayat 1-4

IBRAAHIIM (1)

TUJUAN DARI PENURUNAN AL-QUR'AN, CELAAN TERHADAP ORANG-ORANG KAFIR, DAN PENJELASAN BAHWA RASUL DATANG DENGAN BAHASA KAUMNYA

Surah Ibraahiim Ayat 1-4

FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM

Dari ayat-ayat di atas bisa dipahami sejumlah hal sebagai berikut:

1. Ayat (كِتَٰبٌ أَنزَلْنَٰهُ) merupakan dalil bahwa Al-Qur'an diturunkan dari sisi Allah SWT, bahwa tugas dan fungsi Al-Qur'an adalah untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan-kegelapan kekafiran, kesesatan dan kebodohan, menuju kepada cahaya terang keimanan, petunjuk dan pengetahuan, dengan taufik dan belas kasih Allah SWT kepada mereka. Ini merupakan sebuah nikmat bagi Rasulullah saw. karena beliau dipercaya mengemban tugas dan jabatan yang agung ini. Juga sebuah nikmat bagi manusia karena Allah SWT mengutus kepada mereka seseorang yang menyelamatkan dan mengentaskan mereka dari kegelapan-kegelapan kekafiran, menuju kepada cahaya terang keimanan.

2. Kelompok _Multazilah_ mengatakan, ayat ini mengandung pengertian yang meruntuhkan paham _Jabariyah_ dari tiga sisi. _Pertama,_ mengeluarkan kekafiran dari orang kafir dengan al-Kitab. _Kedua,_ mengeluarkan dari kegelapan menuju cahaya terang disandarkan kepada Rasulullah saw.. _Ketiga,_ mengeluarkan dari kekafiran dengan al-Kitab dengan membacakan kepada mereka supaya mereka merenungi dan memahaminya, sehingga sampai kepada mereka pengetahuan bahwa Allah SWT Maha Mengetahui, Mahakuasa dan Mahabijaksana. Mereka juga bisa memahami bahwa Al-Qur'an adalah mukjizat yang membuktikan kebenaran Rasulullah saw. sehingga mereka dengan sadar menerima syari'at-syari'at yang beliau sampaikan kepada mereka.

Ahlus Sunnah berpendapat, yang menimbulkan efek pertama dari perbuatan seorang hamba dan yang menguatkannya adalah Allah SWT. Perbuatan hamba adalah ciptaan Allah SWT berdasarkan ayat, (بِإِذْنِ رَبِّهِمْ) dengan kehendak-Nya dan penciptaan-Nya.

3. Jalan kekafiran, kebodohan dan bid'ah, banyak jumlahnya. Sedangkan jalan kebaikan adalah satu. Ini berdasarkan ayat ( لِتُخْرِجَ ٱلنَّاسَ مِنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ). Di sini, kejahilan dan kekafiran diungkapkan dengan kata _zhulumaat_ dalam bentuk jamak. Sedangkan keimanan dan hidayah diungkapkan dengan kata, an-Nuur dalam bentuk kata tunggal.

4. Allah SWT mendahulukan kata, _Al-Aziiz_ atas kata _Al-Hamiid_, Karena yang wajib diketahui tentang Allah SWT pertama adalah pengetahuan bahwa Dia Mahakuasa. Kemudian, pengetahuan bahwa Dia Maha Mengetahui. Selanjutnya, pengetahuan bahwa Dia adalah Mahakaya dan tiada butuh pada apa pun. Kata _Al-Aziiz_ identik dengan makna Mahakuasa, sedangkan _Al-Hamiid_ identik dengan makna Yang Maha Mengetahui lagi Mahakaya (tiada butuh apa pun).

5. Segala apa yang ada di langit dan bumi, hamba-Nya, dan ciptaan-Nya adalah kepunyaan Allah SWT. Ini menunjukkan bahwa Allah SWT sama sekali tidak bertempat di atas. Karena setiap apa yang ada di atas, disebut samaa' atau langit, dan oleh kareha segala apa yang ada di langit adalah kepunyaan Allah SWI, Dia tersucikan dari berada di atas. Adapun *ayat 16 Surah al-Mulk* (ءَأَمِنتُم مَّن فِى ٱلسَّمَآءِ) (apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang berkuasa di langit), yang dimaksud adalah kekuasaan dan kuasa-Nya. Ayat ini juga memiliki pengertian al-Hashr, yakni bahwa segala apa yang ada di langit dan bumi adalah kepunyaan-Nya, bukan kepunyaan selain-Nya. Ini menunjukkan bahwa tidak ada pemilik kecuali Allah SWT dan tidak ada penguasa kecuali Allah SWT.

Dari itu, ancaman terhadap orang-orang kafir (وَوَيْلٌ لِّلْكَٰفِرِينَ مِنْ عَذَابٍ شَدِيدٍ) Karena mereka meninggalkan penyembahan kepada Allah SWT Pemilik dan Penguasa langit dan bumi berikut segala apa yang ada pada keduanya, dan beralih kepada penyembahan kepada sesuatu yang tiada kuasa mendatangkan mudharat dan tidak pula manfaat, sesuatu yang diciptakan dan tidak mampu menciptakan, sesuatu yang tidak bisa mengerti dan tidak bisa berbuat apa-apa.

6. Orang-orang kafir berhak binasa dan mendapatkan adzab di dalam neraka Jahannam, karena tiga hal. _Pertama,_ mereka lebih senang dan lebih memilih dunia daripada akhirat. _Kedua,_ tindakan mereka yang menghalang-halangi dan manusia menuju ke jalan Allah SWT dan agama-Nya, yaitu manhaj dan jalan yang lurus'. _Ketiga,_ mereka menginginkan jalan Allah SWT bengkok dan menyimpang supaya sejalan dengan hawa nafsu dan kepentingan mereka. Mereka pun berada dalam kesesatan yang sangat jauh dari yang benar.

7. Di antara karunia dan kemudahan dari Allah SWT untuk mendapatkan petunjuk dengan hidayah-Nya adalah mengutus setiap rasul kepada kaumnya dengan bahasa mereka. Agar para rasul bisa menielaskan perkara agama mereka dengan jelas. Supaya mereka bisa mendapatkan pemahaman darinya tentang syari'at-syari'at Allah SWT, mendalami dan mempelajarinya dari dirinya dengan mudah dan cepat. Kemudian mereka dapat menyebarluaskan kepada kaum dan bangsa yang lain. Pengutusan para rasul dengan bahasa kaum mereka berarti keberadaan bahasa-bahasa sudah lebih dulu ada sebelum pengutusan para rasul. Ini menunjukkan bahwa bahasa muncul dan terbentuk melalui cara istilah, bukan bersifat tauqiifiy sebagaimana yang disebutkan oleh *ar-Razi*.

8. Ayat, (فَيُضِلُّ ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِى مَن يَشَآءُ)- "mengandung sanggahan terhadap paham _Qadariyah_ tentang keefektifan kehendak llahi. Ayat ini juga menginformasikan bahwa kesesatan dan hidayah adalah dari Allah SWT. Allah SWT menyesatkan siapa yang Dia kehendaki untuk disesatkan, dan memberi petunjuk siapa yang Dia kehendaki untuk diberi petunjuk, sesuai dengan pengetahuan-Nya tentang bagaimana kesiapan dan kemauan orang yang bersangkutan. Sedangkan Rasul bertugas menyampaikan dan menerangkan. Seorang rasul tidak dibebani untuk memberi hidayah dan petunjuk. Tetapi, hidayah sepenuhnya berada di tangan Allah SWT berdasarkan ketetapan-Nya terdahulu.

*Zamakhsyari* menuturkan dari perspektif _Muktazilah_, maksud penyesatan adalah membiarkan tanpa memberi taufik dan pemeliharaan. Sedangkan yang dimaksudkan dengan hidayah adalah memberi taufik penjagaan dan pemeliharaan. Ini adalah kinayah tentang kekafiran dan keimanan. Pendapat pertama milik _Ahlus Sunnah_ dikuatkan oleh sebuah riwayat, bahwasanya *Abu Bakar ash-Shiddiq* dan *Umar bin Khathab* berdebat di hadapan banyak orang, hingga suara mereka berdua terdengar keras. Lalu Rasulullah saw. berkata, _"Ada apa ini?'Lalu ada sebagian orang berkata, 'Abu Bakar mengatakan, bahwa kebaikan-kebaikan adalah dari Allah SWT, sedangkan keburukan-keburukan adalah dari diri kita sendiri. Sementara *Umar* mengatakan, bahwa kedua-duanya adalah sama-sama dari Allah SWT, lalu sebagian orang lebih setuju dengan *Abu Bakar* dan sebagian yang lain lebih setuju dengan *Umar*."_ Lalu, Rasulullah saw. mencoba mencari tahu dan menanyakan kepada *Abu Bakar* tentang apa yang ia katakan, dan raut wajah beliau pun menampakkan rasa tidak suka dan tidak setuju. Kemudian, beliau beralih kepada *Umar* untuk mencari tahu dan menanyakan kepadanya tentang apa yang ia katakan, lalu raut muka beliau menampakkan rasa ceria dan gembira. Kemudian, beliau berkata, _"Aku akan memberikan putusan di antara kalian berdua sebagaimana putusan Malaikat Israfil di antara Malaikat Jibril dan Malaikat Mikail. Malaikat Jibril mengatakan seperti apa yang kamu katakan wahai Umar sementara Malaikat Mikail mengatakan seperti apa yang kamu katakan wahai Abu Bakar. Sedangkan putusan Malaikat Israfil adalah, qadar semuanya, yang baik dan yang buruk adalah dari Allah SWT dan seperti itu pula putusanlu di antara kalian berdua"._

Selanjutnya *ar-Razi* menuturkan tiga versi takwil ayat ini, setelah ia mengatakan bahwa tidak mungkin memahami ayat ini dengan pengertian bahwa Allah SWT menciptakan kekafiran pada diri hamba. *Takwil pertama*, maksud penyesatan adalah memvonis sebagai orang kafir yang sesat. Ini seperti perkataan _Fulaan yukaffiru Fulaanan wa yudhalliluhu_ yakni, si A memvonis kafir dan sesat terhadap si B. *Takwil kedua*, penyesatan di sini adalah menjauhi surga dan beralih ke neraka. Sedangkan hidayah adalah membimbing menuju ke surga. *Takwil ketiga*, ketika Allah SWT membiarkan orang yang tersesat tetap berada dalam kesesatannya, seakan-akan Allah SWT menyesatkannya. Sedangkan orang yang mendapatkan petunjuk, ketika Allah SWT memberinya pertolongan dan taufik seakan-akan Allah SWT adalah Yang menunjukinya.

*Kesimpulannya*, tidak ada _ijbaar_ (seorang hamba tidak bisa memilih dan menolak) untuk beriman dan kafir, bahwa Allah SWT tidak menciptakan seorang hamba sebagai orang kafir atau tidak menciptakan kekafiran pada diri hamba. Akan tetapi maksud penyesatan dan hidayah adalah menjelaskan jalan keburukan dan jalan kebaikan, sebagaimana firman-Nya, _"Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan)."_ *(al-Balad: 10)* ====

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login