*AL-BAQARAH (48)*
*AL BAQARAH 186-187*
(Bagian 2)
*APAKAH DOA BERGUNA?*
Sebagian orang menganggap doa tidak ada faedahnya, karena perkara yang didoakan itu jika-menurut pengetahuan Allah-akan terjadi, maka ia pasti akan terjadi, dan jika perkara itu tidak akan terjadi, maka ia pun pasti tidak akan terjadi. Namun jumhur menyatakan bahwa doa adalah tingkat kehambaan yang paling penting dengan dalil firman Allah Ta'ala,
_"Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu."_ *(al-Mu'min: 60)*
Jadi, Allah memerintahkan kita berdoa, dan ini menunjukkan keutamaan amal ini. Dalam ayat lain Dia menjelaskan bahwa Dia murka kalau tidak diminta. *Dia berfirman*, _"Tetapi mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati Ketika siksaan Kami datang menimpa mereka? bahkan hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menjadikan terasa indah bagi mereka apa yang selalu mereka kerjakan."_ *(al-An'aam: 43)*
*Nabi saw. bersabda:*
_"Doa adalah otak (inti) ibadah"._ *(HR Tirmidzi dari Anas, tapi hadits ini lemah)*
*Beliau bersabda pula*:
_"Doa itulah ibadah"_. (HR Ahmad dan Ibnu Abl Syaibah, serta Bukhari dalam al-Adabul Mufrad, empat penyusun kitab Sunaru Ibnu Hibban, dan Hakim dari Nu'man bin Basyir)
Setelah bersabda demikian beliau membaca ayat: _"Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu."_ *(al-Mu'min: 60)*
Dalam hadits lain *beliau bersabda:*
_"Doa adalah senjata orang beriman, tiang agama, dan cahaya langit dan bumi."_ (HR Abu Ya'la dan Hakim dari Ali. Hadits ini shahih.)
Ada beberapa hal yang digantungkan kepada syarat-syarat dan sebab-sebab dalam takdir Allah, di antaranya doa. Doa merupakan ibadah karena ia adalah ma'rifah, sebab ia menuntut orang yang berdoa itu mengenal Tuhannya sepenuhnya, bahwa Dialah yang berkuasa atas segala sesuatu dan yang tinggi di atas hamba-hamba-Nya.
Ayat ini adalah dalil yang pasti yang menunjukkan bahwa doa itu berguna. Makna ayat ini, sebagaimana telah kami terangkan sebelumnya, adalah: Apabila mereka bertanya kepadamu tentang Tuhan yang disembah, beritahulah mereka bahwa Dia dekat Dia memberi ganjaran atas ketaatan, mengabulkan doa orang yang berdoa, dan mengetahui apa yang dilakukan hamba, entah itu puasa, shalat ataupun yang lainnya. Yang dimaksud dengan firman-Nya _"sesungguhnya Aku dekat"_ adalah dalam hal mengabulkan doa; menurut pendapat lainnya, maksudnya adalah dekat dalam hal pengetahuan.
(أُجِيبُ دَعْوَةَادَّاع إِذَا دَعَانِ), artinya: Aku menerima ibadah orang yang beribadah kepada-Ku, termasuk di antaranya ibadah berupa doa. Doa bermakna ibadah, dan ijabah bermakna penerimaan ibadah itu. Dalilnya adalah hadits-hadits di atas. Khalid ar-Raba'i dulu berkata: Aku kagum dengan keberuntungan umat ini yang dinyatakan dalam ayat _"Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu",_ dimana Allah memerintahkan mereka berdoa dan berjanji akan mengabulkan doa mereka, tanpa ada syarat di antara keduanya.
Akan tetapi, dalam kaitannya dengan si manusia, pengabulan doa terikat dengan beberapa hal, di antaranya:
Orang itu tidak melampaui batas hukum-hukum Allah. Setiap orang yang terus-menerus melakukan dosa besar, baik ia mengetahui ataupun tidak bahwa itu dosa besar terhitung melampaui batas, dan Allah Ta'ala menyatakan bahwa Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. *Dia berfirman,* _"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."_ *(al-Araaf: 55)* Rasulullah saw. bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa'id al-Khudri, '
_"Setiap orang Islam yang memanjatkan suatu doa yang tidak mengandung dosa maupun pemutusan tali sihturahmi pasti alan diberi Allah salah satu dari tiga hal: doanya segera dikabulkan, doa itu disimpankan baginya di akhirat, atau disingkirkan darinya keburukan yang setara dengan apa yang ia doakan."_
Dalam riwayat *Muslim dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda:*
_"Doa seorang hamba senantiasa dikabulkan selama ia tidak mendoakan dosa atau pemutusan tali silaturahmi, asalkan ia tidak terburu-buru."_ Seorang sahabat lantas bertanya, _"Wahai Rasulullah, apa maksudnya terburu-buru?"_ Beliau menjelaskan:
_"Yakni ia berkata: "Aku sudah berulang kali berdoa tapi belum juga dikabulkan. Lantas ia pun merasa jenuh berdoa dan akhirnya tidak berdoa lagi."_
Perkara lainnya yang menjadi batasan pengabulan doa adalah memakan barang haram dan hal-hal yang semakna dengannya, dengan dalil sabda Rasulullah saw. dalam hadits shahih:
"Ada orang yang melakukan perjalanan jauh hingga rambutnya kusut dan pakaiannya berdebu; ia mengulurkan tangannya ke langit dan berdoa:
_'Ya Tuhan, ya Tuhan,..', sementara makanannya haram, minumannya haram, dan pakaiannya pun haram, maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan?"_
Kalimat terakhir dalam hadits ini menunjukkan bahwa doa orang yang punya ciri-ciri seperti itu tidak mungkin dikabulkan.
Agar doa terkabul harus terpenuhi sejumlah syarat mengenai diri orang yang berdoa, doa yang dipanjatkan, dan perkara yang didoakan.
Syarat orang yang berdoa adalah ia mengetahui bahwa tidak ada yang berkuasa kecuali Allah dan bahwa segala perantara berada di genggaman-Nya dan ditundukkan oleh-Nya, serta ia berdoa dengan niat yang tulus dan berkonsentrasi, sebab Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.
Syaratnya pula ia tidak memakan barang haram, dan tidak jenuh berdoa.
Di antara syarat-syarat perkara yang didoakan adalah perkara itu termasuk hal-hal yang boleh diminta dan dikerjakan menurut syariat, sebagaimana dinyatakan dalam hadits di atas: _"selama ia tidak mendoakan dosa atau pemutusan tali silaturahmi"_. Dosa di sini mencakup segala dosa, sedang silaturahmi meliputi semua hak kaum muslimin. *Sahl bin Abdullah at-Tustari* berkata : *Syarat-syarat doa ada tujuh*: merendahkan diri, takut, berharap, terus-menerus, khusyuk, umum, dan makan barang halal.
*Syarat-syarat doa, sebagaimana dikatakan Ibnu Atha', ada empat:*
*Pertama*, menjaga hati tatkala sendirian.
*Kedua,* menjaga lisan ketika bersama manusia lain.
*Ketiga,* menjaga mata dari memandang sesuatu yang tidak halal dilihat.
*Keempat,* menjaga perut dari barang haram.
*Waktu-waktu doa* antara lain: waktu sahur; waktu berbuka, antara adzan dan iqamat, antara zhuhur dan ashar pada hari Rabu, dalam keadaan darurat dalam perjalanan dan ketika sakit, ketika turun hujan, dan ketika berbaris di medan perang. Semua ini dinyatakan dalam sejumlah hadits.
Apabila syarat-syarat doa dan batasan-batasannya sudah terpenuhi, tentu doa itu akan dikabulkan. *Ibnu Abbas* berkata: Setiap hamba yang berdoa pasti dikabulkan doanya. Kalau yang ia doakan adalah rezeki baginya di dunia, ia akan diberi rezeki itu. Tapi kalau bukan rezeki baginya di dunia, hal itu akan disimpankan baginya di akhirat.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
