*AL-HAJJ (18)*
*TIAP-TIAP UMAT MEMILIKI SYARI'AT DAN MANHAJ YANG SESUAI*
*Surah al-Hajj Ayat 67-70*
*Sebab Turunnya Ayat*
Ada keterangan yang menuturkan bahwa turunnya ayat ini dilatarbelakangi oleh perbantahan orang-orang kafir menyangkut masalah hewan sembelihan. Mereka adalah kaum kafir Khuza’ah. Mereka berkata kepada kaum Muslimin, "Kalian memakan hewan yang kalian sembelih, tetapi justru kalian tidak mau memakan hewan sembelihan Allah SWT (maksudnya hewan yang mati dengan sendirinya)." Atau mereka berkata, "Kenapa kalian memakan hewan yang kalian bunuh, tetapi kalian tidak mau memakan hewan yang dibunuh oleh Allah?! Padahal semestinya hewan yang dibunuh oleh Allah itu lebih berhak untuk kalian makan daripada hewan yang kalian bunuh dengan pisau-pisau kalian." Lalu Turunlah ayat ini.
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Dari ayat-ayat di atas, bisa diambil sejumlah pemahaman seperti berikut:
1. Tiap-tiap umat terdahulu memiliki syari'at khusus yang sesuai dengan masanya. Pada setiap masa ada syari'atnya tersendiri. Merupakan sebuah kekeliruan jika seseorang tetap memegang syari'at umat terdahulu seperti syari'at Taurat dan Injil karena Al-Qur'an telah me-nasakh syari'at-syari'at sebelumnya.
2. Jika ada orang yang membantah secara batil, seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrik Mekah terhadap Nabi Muhammad saw., hendaklah seorang Mukmin itu berkata *(ٱللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَعْمَلُونَ)* artinya Allah SWT lebih tahu tentang perbuatan yang kalian lakukan berupa kekufuran dan pendustaan.
Ini adalah perintah dari Allah SWT kepada Nabi-Nya supaya tidak usah menanggapi perbantahan yang dilancarkan oleh kaum beliau. Ini demi menghindarkan beliau dari sikap keras kepala dan keangkuhan mereka yang hanya bertujuan mempersulit dan memojokkan.
Tidak perlu meladeni dan menjawab orang yang angkuh dan keras kepala. Jika telah dilakukan langkah-langkah menyelesaikan perselisihan yang ada sedangkan mereka tetap membantah dan mendebat, hendaklah mereka ditanggapi dengan perkataan: sesungguhnya Allah SWT lebih mengetahui tentang perbuatan kalian dan keburukannya serta tentang balasan yang berhak kalian terima karena Allah SWT pasti membalasi kalian atas amal perbuatan yang kalian lakukan.
Ini adalah sebuah ancaman, teguran dan peringatan, tetapi dengan nada yang agak halus dan lembut.
3. Allah SWT Yang akan melakukan peradilan diantara Nabi Muhammad saw. dengan kaum beliau, antara kaum Mukminin dengan orang-orang kafir tentang apa yang mereka perselisihkan dari urusan agama. Dengan demikian akan diketahui mana yang benar dan mana yang salah, mana yang hak dan mana yang batil.
Al-Qurthubi menuturkan, "Dalam ayat ini terkandung nilai etika yang luhur yang ingin diajarkan oleh Allah SWT kepada para hamba-Nya dalam menghadapi orang yang suka membantah dan mendebat secara batil karena sikap angkuh, keras kepala, serta hanya ingin memojokkan dan mempersulit. Bukan ingin mencari kebenaran, yaitu dengan cara tidak perlu ditanggapi dan diladeni. Cukuplah dijawab dengan perkataan di atas yang diajarkan oleh Allah SWT kepada Nabi-Nya *(ٱللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَعْمَلُونَ)*
4. Tugas dan kewajiban Nabi Muhammad saw. dan kaum Mukminin setelah beliau adalah terus berdakwah kepada agama Allah SWT yang haq. Agama ini adalah sebuah jalan yang terang dan lurus yang membawa manusia menuju maksud dan tujuan yang benar. Setiap juru dak'wah yang mengajak kepada Allah SWT, mengesakan-Nya, dan menyembah hanya kepada-Nya, hendaknya tidak memedulikan berbagai aral rintangan, tidak perlu memerhatikan bantahan orang-orang yang membantah dan cara-cara mereka dalam menghambat jalan dakwah.
5. Allah SWT Maha Mengetahui semua tingkah dan hal ihwal manusia serta apa yang mereka perselisihkan. Segala yang terjadi dan berlangsung di alam ini telah tertulis di sisi Allah SWT dalam Ummul Kitab, yaitu al-Lauhul Mahfuzh.
Sesungguhnya pengetahuan yang komprehensif dan total tentang segala yang di langit dan bumi serta peradilan untuk memberikan putusan diantara orang-orang yang berselisih adalah sangat mudah bagi Allah SWT.
Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Ibnu Amr r.a., ia berkata, "Rasulullah saw. bersabda:
_"Sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan kadar ukuran semua makhluk lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Dan'Arsy-Nya berada di atas air."_
*(HR Muslim)*
Dalam as-Sunan diriwayatkan dari hadits sejumlah sahabat, bahwa Rasulullah saw. bersabda:
_"Makhluk yang pertama kali diciptakan oleh Allah SWT adalah qalam (pena). Allah SWT berfirman kepadanya, 'Tulislah.' Lalu qalam berkata, Apa yang harus hamba tulis?' Allah SWT berfirman kepadanya, 'Tulislah apa yang akan ada dan terjadi.' Lalu qalam pun menulis semua apa yang akan ada dan terjadi sampai hari Kiamat."_
Apa yang akan dilakukan para hamba telah diketahui oleh Allah SWT sama seperti yang mereka kerjakan. Sebelum penciptaan, Allah SWT telah mengetahui bahwa orang ini taat dengan kemauan sendiri, bahwa orang ini membangkang dan bermaksiat dengan kemauan sendiri, dan Allah SWT mencatat semua itu di sisi-Nya. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, dan itu adalah sangat mudah bagi-Nya.====
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
