*AL-HAJJ (15)*
*PENGUKUHAN WAHYU DAN PEMELIHARAANNYA DARI SETAN*
*(KISAH AL-GHARAANIIQ)*
*Surah al-Hajj Ayat 52-57*
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Ayat-ayat di atas menjelaskan sejumlah hal seperti berikut.
1. Ini adalah bentuk penghibur hati dari Allah SWT untuk Nabi Muhammad saw. setelah sebelumnya Allah SWT juga menghibur hati beliau dalam ayat *(وَإِنْ يُكَذِّبُونَ)*
Artinya, wahai Muhammad, janganlah kamu bersedih hati dan gundah gulana atas apa yang didengang-dengungkan orang-orang kafir melalui lisan setan karena apa yang menimpa kamu itu juga pernah dialami oleh para rasul dan nabi sebelummu.
2. Ayat di atas menjelaskan pengukuhan wahyu betapa Al-Qur'an amat terjaga dan terpelihara dari kata-kata palsu yang dibuat-buat oleh setan dan kebatilan-kebatilan yang dikarang-karang olehnya. Ketika setan mencoba menyisipkan suatu perkataan di tengah-tengah ayat-ayat AlQur'an atau hadits yang disabdakan oleh Nabi Muhammad saw., Allah SWT akan membatalkan, melemparkan, dan meng¬ hapus apa yang coba disisipkan oleh setan itu, serta mengukuhkan ayat-ayat-Nya.
Kata *(تَمَنَّىٰٓ)* dalam ayat di atas berarti *(قَرَأَ)* dan *(تَلَى)* atau membaca. Sedangkan, kata *(أُمنِيَّتِهِ)* berarti bacaan nabi atau rasul tersebut. Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. dalam konteks tema ini.
_“Ketika Nabi Muhammad saw. menyampaikan suatu perkataan, maka setan akan berusaha menyisipkan suatu kalimat ke dalam perkataan beliau itu. Lalu Allah SWT menghapus dan menghilangkan apa yang coba disisipkan oleh setan tersebut.”_ *(HR Bukhari)*
Maknanya ketika Nabi Muhammad saw. berbicara kepada diri beliau sendiri, setan berupaya mengelabui dan melakukan tipu daya kepada beliau. Setan berkata, "Seandainya kamu meminta kepada Allah SWT supaya Dia menjadikan untukmu harta _ghanimah_, niscaya kaum Muslimin akan berkelapangan." Sementara Allah SWT mengetahui bahwa kebaikan ada pada yang selain itu. Lalu Allah SWT menghapus dan menghilangkan bisikan setan tersebut. Artinya, ini hanyalah bisikan jiwa. An-Nahhas menuturkan bahwa ini termasuk penafsiran yang paling baik tentang ayat tersebut.
3. Sesungguhnya di balik usaha setan untuk menyisipkan seperti itu terdapat suatu hikmah supaya hal tersebut bisa menjadi ujian bagi orang-orang munafik dan orang-orang musyrik. Mereka adalah orang-orang yang menzalimi diri mereka sendiri. Sesungguhnya orang-orang yang zalim, yakni orang-orang kafir benarbenar berada dalam sikap permusuhan dan pembangkangan terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya.
4. Menyangkut ayat *(لِّيَجْعَلَ مَا يُلْقِى ٱلشَّيْطَـٰنُ فِتْنَةًۭ)* ats-Tsa'labi menuturkan dalam ayat ini terkandung dalil bahwa para nabi bisa mengalami lupa dan keliru disebabkan bisikan setan atau ketika hati dan pikiran sedang kacau dan kehilangan konsentrasi hingga terjadilah kekeliruan. Kemudian ia akan langsung diingatkan dan disadarkan serta kembali kepada yang benar. Ini adalah makna ayat *(فَيَنسَخُ ٱللَّهُ مَا يُلْقِى ٱلشَّيْطَـٰنُ ثُمَّ يُحْكِمُ ٱللَّهُ ءَايَـٰتِهِۦ ۗ)*.
Akan tetapi, kekeliruan itu masih dalam bentuk kekeliruan yang ditolerir seperti kekeliruan yang lumrah dilakukan oleh kita. Adapun yang dinisbahkan kepada Nabi Muhammad saw. dari perkataan mereka *(تِلْكَ الْغَرَانِيقُ الْعُلَى)* merupakan sebuah kebohongan terhadap Nabi Muhammad saw.. Karena perkataan itu berisi pengagungan berhala dan itu tidak akan mungkin terjadi, sebagaimana tidak mungkin beliau membaca sebagian Al-Qur'an, kemudian mendendangkan syair dan berkata, 'Aku keliru karena aku mengira itu adalah bagian dari Al-Qur'an."
5. Terdapat hikmah lain di balik usaha setan untuk menyisipkan suatu kalimat seperti itu, yakni agar orang-orang Mukmin mengetahui bahwa apa yang dikukuhkan dari ayat-ayat Al-Qur'an itulah yang haq dari sisi Allah SWT Lalu mereka pun mengimaninya dan hati mereka khusyu dan tunduk. Sesungguhnya Allah SWT menunjuki orang-orang Mukmin kepada jalan yang lurus, yakni meneguhkan mereka di atas hidayah.
6. Orang-orang kafir akan terus berada da¬ lam sikap keraguan terhadap Al-Qur'an, agama yang merupakan jalan yang lurus, Rasulullah saw., atau terhadap apa yang berusaha disisipkan oleh setan seakanakan tampak seperti diucapkan oleh Nabi Muhammad saw.. Padahal, beliau sama sekali tidak mengucapkannya. Itu adalah suara setan yang mencoba mengelabui pendengaran mereka dan membuat mereka mengira bahwa itu adalah suara Nabi Muhammad saw., sehingga mereka pun berkata, "Apa maunya Muhammad, ia menyebut berhala-berhala dengan sebutan yang baik, tetapi kemudian ia murtad meninggalkan berhala-berhala itu?"
Keraguan mereka terus berlangsung sampai datang waktu yang memaksa mereka harus beriman dan proses datangnya waktu itu sangatlah tiba-tiba. Waktu di sini adakalanya berupa hari Kiamat, waktu kematian, atau hari pertempuran seperti hari pertempuran Badar. Itu adalah hari _'aqiim_.
Di atas, kita telah mengetahui bahwa yang rajih menyangkut penafsiran tentang hari _'aqiim_ adalah hari Kiamat. Adh-Dhahhak menuturkan, yaitu adzab hari yang tidak ada malam lagi setelahnya, yaitu hari Kiamat. Ar-Razi mengatakan pendapat ini lebih utama karena tidak ada relevansi dari ayat *(وَلَا يَزَالُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ فِى مِرْيَةٍۢ)* jika yang dimaksudkan adalah hari peperangan Badar, misalnya. Sebab sudah maklum bahwa mereka tetap berada dalam keraguan setelah kejadian Perang Badar itu. Perlu digarisbawahi meski pengertian yang _raajih_ untuk kata *(يَوْمٍ عَقِيمٍ)* adalah hari Kiamat, hal itu tidak lantas berarti dalam ayat tersebut terdapat pengulangan kata-kata yang sama maknanya, yaitu kata *(يَوْمٍ عَقِيمٍ)* dan kata *(ٱلسَّاعَةُ)* Kenapa? Sebab *(ٱلسَّاعَةُ)* adalah bagian dari permulaan datangnya hari Kiamat, sedangkan *(يَوْمٍ عَقِيمٍ)* adalah hari itu sendiri. Selain itu karena kata yang pertama disebutkan *(ٱلسَّاعَةُ)* sedangkan yang kedua *(عَذَابُ يَوْمٍ عَقِيمٍ)* adalah yaitu adzab pada hari itu. Ada kemungkinan lain bahwa yang dimaksud dengan as-Saa'ah adalah saat kematian pada tiap-tiap orang, sedangkan yang dimaksud dengan 'adzab hari _'aqiim_ adalah kiamat.
7. Kekuasaan dan otoritas hanyalah milik Allah SWT semata pada hari Kiamat, tanpa ada satu makhluk pun yang ikut memiliki. Allah SWT adalah Yang memberikan putusan dengan pembalasan di antara para hamba. Putusan hukum-Nya adalah bahwa orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal-amal saleh berada dalam surga-surga yang penuh dengan kenikmatan dan kesenangan. Orang-orang kafir yang mendustakan dan tidak memercayai ayat-ayat Al-Qur'an berada dalam adzab yang menghinakan.
Ayat *(ٱلْمُلْكُ يَوْمَئِذٍۢ لِّلَّهِ)* termasuk dalil paling kuat yang menunjukkan bahwa hari _'aqiim_ maksudnya adalah hari Kiamat.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
