*AL-HAJJ (13)*
*MEMETIK PELAJARAN DARI KEBINASAAN UMAT-UMAT TERDAHULU*
*Surah al-Hajj Ayat 42-48*
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Ayat-ayat di atas menunjukkan sejumlah pengertian seperti berikut:
1. Sesungguhnya keberhasilan Nabi Muhammad saw. dalam menjalankan risalah dan misi beliau tergantung pada kesabaran beliau atas berbagai gangguan yang dilancarkan kaumnya. Oleh karena itu, Allah SWT mengajari beliau tentang kesabaran. Ayat-ayat tersebut sebagai penghibur hati Nabi Muhammad saw..
Sebelum beliau, para nabi terdahulu pun mengalami hal yang sama, mereka semua didustakan. Di sini, Allah SWT menyebutkan tujuh diantaranya. Lalu mereka pun bersabar sampai akhirnya Allah SWT membinasakan orang-orang yang mendustakan itu. Oleh karena itu, hendaklah beliau meniru dan mencontoh kesabaran mereka.
2. Diantara hikmah dari kesantunan dan kesabaran Allah SWT adalah Dia menunda hukuman orang-orang kafir yang mendustakan para rasul, yang menyimpang, kufur dan ingkar terhadap Tuhan mereka. Kemudian Allah SWT menghukum mereka. Hukuman yang ditimpakan kepada mereka itu adalah pelajaran bagi setiap orang yang mau mengambil pelajaran dan menjadi perangsang kesadaran untuk memerhatikan dan merenungkan betapa Allah SWT mengubah nilonat-nikmat yang ada pada mereka menjadi bencana dan kebinasaan.
Seperti itulah yang akan Allah SWT perbuat terhadap kaum Quraisy yang mendustakan. Menurut logika dan prinsip keadilan, apa yang berlaku terhadap sesuatu, juga berlaku terhadap padanannya.
3. Ayat *(فَأَمْلَيْتُ لِلْكَٰفِرِينَ)* menunjukkan sebuah pengertian bahwa Allah SWT juga berbuat sama terhadap kaum Nabi Muhammad saw, seperti halnya yang pernah Dia perbuat terhadap umat terdahulu, kecuali adzab isti'shaal (pembasmian), Allah SWT tidak melakukannya. Hasan al-Bashri menuturkan penyebab adzab _isti'shaal_ tidak menimpa umat ini karena adzab isti'shaal memiliki dua syarat. _Pertama,_ Allah SWT memiliki batas ukur kekufuran yang apabila telah dilanggar, Allah SWT akan mengadzabnya. Namun selama belum mencapai batas tersebut, Dia tidak akan mengadzabnya. _Kedua,_ Allah SWT tidak mengadzab suatu kaum kecuali Allah SWT tahu tidak ada satu orang pun diantara mereka yang beriman. Jika kedua syarat tersebut telah terpenuhi, Allah SWT akan mengisyaratkan kepada para nabi. Para nabi itu pun mengutuk dan mendoakan tidak baik atas umat-umat mereka. Allah SWT kemudian memperkenankan doa itu dan datanglah adzab _isti'shaal_ terhadap mereka. Ini yang dimaksud dari ayat:
_"Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan kaumnya)."_ *(Yuusuf: 110)*
Juga firman Allah SWT kepada Nabi Nuh a.s. dalam ayat:
_"Ketahuilah, tidak akan beriman diantara kaummu, kecuali orang yang benar-benar beriman (saja).'_ *(Huud: 36)*
Jika Allah SWT mengadzab mereka, Dia menyelamatkan orang-orang yang beriman, _"Dan ketika adzab Kami datang,"_ *(Huud: 58)*
4. Banyak dari penduduk negeri yang dibinasakan oleh Allah SWT sedang mereka tetap konsisten pada kezaliman (kekufuran), sehingga tembok-tembok rumah mereka runtuh menutupi atap-atapnya atau rumah-rumah mereka menjadi kosong tidak berpenghuni. Sumur-sumur mereka pun terbengkalai dan tidak ada seorang pun yang datang mengambil air. Kastil dan istana-istana mereka yang tinggi juga porak-poranda dan kosong tak berpenghuni. Semua yang mulanya ramai berubah menjadi sepi. Yang awalnya penuh geliat aktivitas pembangunan, berubah menjadi gersang dan tandus tidak terurus. Pada semua itu benar-benar terdapat nasihat dan peringatan terhadap akibat kemaksiatan, betapa buruk dampak menentang perintah-perintah dan larangan-larangan Allah SWT.
5. Ayat *(أَفَلَمْ يَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ)* adalah dorongan yang sangat gamblang untuk memetik pelajaran dari jejak-jejak para umat yang telah dibinasakan oleh Allah SWT karena kekufuran dan kezaliman mereka. Jika manusia bisa mengambil pelajaran dari semua itu, mereka telah menggunakan indra, pemahaman, dan akal pikiran dengan benar sebagaimana mestinya. Jika mereka tidak mengambil pelajaran dari semua itu, berarti mereka telah menyia-nyiakan potensi dan nikmat-nikmat tersebut, tidak menggunakan dan tidak memanfaatkan sebagaimana mestinya sehingga mereka berhak mendapatkan hukuman.
Barangsiapa yang di dunia ini buta mata hatinya terhadap Islam, di akhirat tempatnya adalah neraka.
6. Seandainya manusia mengetahui hal ihwal adzab akhirat, betapa keras dan memilukan adzab di sana, sampai-sampai satu hari pada hari itu seperti seribu tahun waktu di dunia, niscaya mereka tidak akan menantang untuk menyegerakan adzab yang telah dijanjikan pada mereka karena Allah SWT tidak akan menyalahi janji-Nya. Az-Zajjaj menuturkan bahwa mereka meminta supaya adzab yang dijanjikan itu segera didatangkan. Lalu Allah SWT memberitahukan kepada mereka bahwa tiada suatu apa pun yang bisa luput dari-Nya. Adzab itu benar-benar menimpa mereka di dunia pada kejadian Perang Badar.
Ikrimah menuturkan, 'Allah SWT memberitahukan kepada mereka bahwa jika mereka menantang penyegeraan adzab di hari-hari dunia yang pendek, adzab itu akan datang kepada mereka di hari-hari yang panjang."
Al-Farra menuturkan, "lnilah ancaman bagi mereka adzab itu akan terus berlanjut di akhirat dan jangka waktunya sangatlah panjang."
Kesimpulannya bahwa ayat ini adalah bantahan terhadap orang-orang musyrik dengan nada tidak percaya. Mereka mendustakan dan meminta agar adzab segera datang dikarenakan mereka tidak beriman kepada hari akhir. Sekaligus informasi yang pasti dan tegas tentang datangnya adzab.
7. Banyak dari penduduk negeri-negeri yang Allah SWT berikan penangguhan, sedang mereka terus konsisten berada dalam pembangkangan dan keangkuhan. Kemudian Allah SWT menghukum mereka dengan menimpakan adzab kepada mereka. Hanya kepada Allah SWT tempat kembali. Artinya hukum dan ketetapan akhirnya kembali kepada Allah SWT.====
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
