*AL-ANBIYA' (22)*
*NABI ADALAH RAHMAT YANG DIHADIAHKAN*
*Surah al-Anbiyaa’ Ayat 107-112*
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Penutupan surah al-Anbiyaa' dengan ayat-ayat tersebut mengandung sejumlah bukti yang jelas serta hujjah yang nyata tentang kebenaran yang terang benderang.
1. Sesungguhnya Rasulullah saw. yang merupakan penutup para nabi yang risalah beliau dijadikan oleh Allah SWT sebagai mahkota bagi seluruh risalah para nabi terdahulu adalah rahmat bagi seluruh umat manusia. Barangsiapa beriman kepada beliau dan membenarkan dakwah beliau, ia adalah orang yang berbahagia. Sedangkan, bagi orang yang tidak beriman kepada beliau, di dunia ia selamat dari berbagai bentuk adzab yang pernah ditimpakan kepada umat-umat terdahulu seperti ditenggelamkan ke dalam bumi, ditenggelamkan oleh lautan, dan adzab pembasmian, sedangkan di akhirat ia menjadi orang yang merugi dengan kerugian yang nyata.
2. Seluruh risalah para nabi dan risalah pemungkasnya menyatakan bahwa tidak ada sesuatu apa pun yang diwahyukan menyangkut perkara Allah melainkan tauhid dan keesaan-Nya. Oleh karena itu, tidak boleh menyekutukan suatu apa pun dengan Allah. Apakah kamu wahai umat manusia mau tunduk kepada pengesaan Allah SWT?! Oleh karena itu, masuklah Islam dan kalian akan selamat.
3. Jika orang-orang musyrik dan kafir berpaling dari risalah Islam, sesungguhnya mereka telah diperingatkan sehingga mereka tidak bisa membantah lagi jika diadzab. Mereka juga telah diberitahukan bahwa keimanan dan kekafiran tidak akan bisa bertemu, tidak ada perdamaian antara kaum Muslimin dengan orang-orang kafir, dan konflik serta permusuhan akan terus berlanjut di antara kedua belah pihak. Namun, itu tidak mesti harus berupa pertempuran dan peperangan dalam bentuk yang sesungguhnya. Akan tetapi, itu merupakan sebuah pemberitahuan yang pasti di dalam lubuk hati orang-orang Mukmin berupa pengingkaran dan penolakan dalam hati terhadap semua bentuk kekufuran, tanpa sedikit pun ada sikap menyetujui dan mengakui bentukbentuk kekufuran tersebut.
4. Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang mengetahui batas waktu datangnya adzab dan hari Kiamat, termasuk seorang nabi yang diutus maupun seorang malaikat mugarrabun.
5. Allah SWT Maha Mengetahui segala yang gaib dan yang tampak, segala sesuatu yang tersembunyi dan yang terlihat, batin dan zahir, mengetahui hujatan orang-orang kafir terhadap Islam, tipu daya, kebencian, kesyirikan serta kekufuran mereka, Allah SWT akan membalas semua yang mereka perbuat, baik kecil maupun besar.
Barangkali penangguhan adzab yang ada bisa jadi merupakan sebuah ujian untuk melihat apa yang akan mereka lakukan dan Allah SWT lebih tahu tentang apa yang mereka lakukan. Barangkali juga, penangguhan itu adalah sebuah keadilan dan karunia, supaya orang-orang kafir bisa bersenang-senang dengan kenikmatan duniawi, kemudian di akhirat mereka terhalang dari mendapatkan kesenangan dan kenikmatan seperti itu.
6. Aqidah seorang Mukmin yang tulus dan sungguh-sungguh keimanannya memiliki dua poros dalam menghadapi berbagai krisis pergesekan dengan orang-orang kafir.
_Pertama_, memasrahkan urusan yang ada kepada Allah SWT dan berekspektasi datangnya pertolongan dan kelapangan dari sisi-Nya. Ini adalah yang diperintahkan oleh Allah SWT kepada Nabi-Nya dalam ayat *(رَبِّ ٱحْكُم بِٱلْحَقِّ ۗ)* yakni, ya Rabbi, berilah putusan dengan haq dan adil di antara hamba dengan orang-orang yang mendustakan tersebut dan berilah hamba pertolongan dan kemenangan atas mereka.
_Kedua_, memohon pertolongan kepada Allah SWT Yang Mahakuat lagi Maha Mengalahkan. Ini adalah yang dijadikan sebagai penutup surah al-Anbiyaa’ *(وَرَبُّنَا ٱلرَّحْمَـٰنُ ٱلْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ ١١٢)* Dan Rabb kami Yang Maha Pengasih adalah Zat Yang dimintai pertolongan terhadap apa yang kalian nyatakan berupa kekufuran, pendustaan, dan ketidakpercayaan, serta ambisi untuk meraih kemenangan dan dominasi atas kaum yang beriman.
Syari'at dan agama Allah SWT berlandaskan pada aqidah tauhid yang murni bebas dari polusi-polusi kesyirikan, juga berlandaskan pada keadilan. Oleh karena itu, Allah SWT memberikan putusan dengan haq, menolong ahli haq dan keimanan kepada Allah SWT, menghinakan orang-orang zalim dan orang-orang kafir, me runtuhkan kezaliman dan ahli kezaliman, menolong orang yang dizalimi, yang lemah, dan memberikan keadilan antara si miskin dengan si kaya, memberlakukan kesamaan di antara kedua belah pihak yang beperkara sekalipun salah satunya adalah orang Islam dan yang lainnya adalah orang kafir, menyeru kepada belas kasih dan berbuat baik, melarang perbuatan keji, mungkar dan kezaliman. Ini adalah prinsip peradaban yang benar, benih "demokrasi” yang tepat sehingga tidak ada yang namanya fanatisme, kezaliman, kebodohan dan kekacauan. Akan tetapi, ilmu pengetahuan dan pemahaman adalah yang menjadi _way of life_ Islam, jalan dakwah Qur'ani, dan lentera seluruh alam.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
