*AL-ANBIYA' (20)*
*KESAMAAN RISALAH-RISALAH LANGIT DAN SUNNAH ILAHIYYAH*
*Surah al-Anbiyaa' Ayat 92-97*
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Ayat-ayat di atas menunjukkan kesatuan risalah-risalah langit pada aspek prinsip. Ayat di atas juga menjelaskan bagaimana manusia berpecah belah dalam urusan agama, tentang kesatuan sunnah _ilahiyyah_ (ketentuan Allah) dalam hal pemberian pahala kepada orang Mukmin yang beramal saleh dan adzab bagi orang kafir yang berbuat jelek. Juga menegaskan tentang ba’ts dan pembalasan berikut berbagai kengerian dan kejadiankejadian dahsyat yang terjadi di dalamnya.
Adapun sebab kesatuan risalah-risalah langit adalah karena semua nabi membawa ajaran tauhid. Sudah semestinya manusia juga satu kata dalam hal mengesakan Allah. Beribadah itu hanya kepada-Nya semata. Adapun orang-orang musyrik, mereka telah berlawanan arah dengan para nabi.
Adapun perpecahan dalam agama antara yang membenarkan dengan yang mendustakan adalah sebuah fenomena yang sudah meluas. Oleh karena itu, Allah SWT memberikan kecaman keras atas perpecahan ini, baik terhadap kaum Muslimin, Yahudi, Nasrani, dan yang lainnya dari kalangan orang-orang musyrik, serta mencela mereka disebabkan telah menentang yang haq. Allah SWT juga mengecam orang-orang non-Muslim yang mengambil ilah-ilah selain Allah SWT.
Berdasarkan hal ini, yang dimaksudkan dengan ayat *()* adalah semua manusia. Sebab mereka telah membuat urusan agama menjadi terpecah belah sehingga ada orang _muwahhid_ (yang mengesakan Allah SWT), Yahudi, Nasrani, dan orang yang menyembah malaikat atau berhala. Masing-masing dari golongan yang berbeda-beda pasti kembali kepada hukum Allah SWT Lalu Dia akan membalas perbuatan mereka.
Diriwayatkan dari Rasulullah saw., bahwa beliau bersabda.
_"Sesungguhnya Bani Israil terpecah belah menjadi tujuh puluh satu sekte, lalu yang tujuh puluh sekte binasa dan satu sekte selamat Dan sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, lalu yang tujuh puluh satu golongan binasa, dan hanya satu golongan yang selamat" Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah satu golongan yang selamat itu?" Rasulullah saw, bersabda, "Jama'ah, jama'ah, jama'ah"_
Berdasarkan riwayat ini, yang dimaksudkan dengan ayat *(إِنَّ هَـٰذِهِۦٓ أُمَّتُكُمْ)* adalah jama'ah yang memegang teguh tauhid dan kenabian. Sabda Rasulullah saw. ini juga mengandung isyarat kepada umat keimanan. Akan tetapi, yang dimaksud dengan sabda Rasulullah saw., _“Umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan"_ adalah suatu keadaan tertentu. Hadits ini sama sekali tidak mengandung pengertian bahwa perpecahan itu terjadi dalam semua keadaan, tidak boleh bertambah atau berkurang.
Sebuah kaidah yang sudah pasti yaitu barangsiapa yang mengerjakan suatu amal ketaatan, baik fardhu maupun sunnah, sementara ia adalah seorang _muwahhid_ yang Muslim, membenarkan, memercayai dan beriman kepada Nabi Muhammad saw., maka amalnya tidak akan pernah diingkari dan dimungkiri, pahalanya tidak akan hilang. Kata *(الكُفْرُ)* adalah lawan dari *(الإِيمَانُ)*. Kata ini juga bisa berarti mengingkari nikmat, atau lawan kata dari bersyukur. Allah SWT memelihara amalnya itu, sebagaimana firman-Nya dalam ayat "Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), _'Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan,"_ *(Aali 'Imraan: 195)*
Semuanya itu tersimpan untuk selanjutnya diberi balasan. Di sini terkandung dorongan bagi manusia agar senantiasa taat kepada Allah SWT.
Di antara kaidah dan sunnah yang pasti berlaku berdasarkan satu manhaj adalah mustahil bagi penduduk suatu negeri yang telah Allah SWT binasakan kembali lagi ke dunia. Pengertian ini jika huruf *(لَا)* pada kalimat *(أَنَّهُمْ لَا يَرْجِعُونَ )* adalah _zaa'idah_ (tambahan). Namun, yang rajih menurut Abu Ali al-Farisi dan az-Zajjaj adalah bahwa huruf *(لَا)* bukan _zaa'idah_ karena tidak ada gunanya jika yang dimaksudkan adalah sesuatu yang mustahil. Hal itu memang sudah menjadi keniscayaan. Pengertian yang lebih utama menurut hemat kami adalah kalimat ini mengandung kata yang disembunyikan dan mustahil bagi penduduk suatu negeri yang telah Kami tetapkan pembasmiannya, atau telah Kami kunci mati hatinya, untuk diterima kembali karena mereka tidak kembali (bertobat).
Kondisi ini terus berlangsung sampai terbukanya tembok penghalang Ya'juj dan Ma'juj. Yang dimaksud dengan Ya'juj dan Ma'juj di sini adalah manusia semuanya atau Ya'juj dan Ma'juj itu sendiri. Ini adalah yang azhhar menurut pandangan al-Qurthubi. Juga, sampai keluarnya manusia dari kuburnya melalui setiap tempat yang tinggi di bumi. Hal itu terjadi ketika datangnya hari Kiamat. Ini adalah dalil yang menegaskan adanya anNasyr (hari kebangkitan dari kubur) dan al-Hasyr (digiring ke al-Mahsyar).
Kemudian Allah SWT menegaskan tentang ba'ts dan balasan dengan firman-Nya *(وَٱقْتَرَبَ ٱلْوَعْدُ ٱلْحَقُّ)* Juga tentang apa yang dialami oleh orang-orang kafir berupa berbagai kengerian dan kejadian luar biasa yang membuat mata mereka terbelalak hampir-hampir tidak berkedip disebabkan kedahsyatan hari itu, seraya berkata, "Duh, binasalah kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berbuat zalim dengan berbuat kemaksiatan, kami menempatkan ibadah tidak pada tempat yang semestinya.”===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
