*AL-ANBIYA' (18)*
*KISAH NABI YUNUS A.S.*
*Surah al-Anbiyaa' Ayat 87-88*
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Keadaan para nabi penuh dengan keajaiban, keunikan, dan mukjizat dari-Nya. Tidak sama seperti keadaan manusia biasa. Kisah Nabi Yunus a.s. termasuk di antara keajaiban-keajaiban yang unik tersebut.
NabiYunus a.s. pergi dalam keadaan marah atas nama Allah SWT dan sudah semestinya seorang Mukmin marah atas nama-Nya jika Dia dimaksiati. Kemarahan Nabi Yunus a.s. pada masa itu menurut pendapat al-Qurthubi termasuk dosa kecil, dan Yunus a.s. tidak sedang marah kepada Allah SWT, tetapi ia marah atas nama Allah SWT, yakni saat adzab itu tidak jadi ditimpakan atas mereka.
Tidak mungkin seorang nabi marah kepada Tuhannya, sebab itu adalah perilaku orang bodoh dan tidak tahu bahwa Allah SWT adalah Penguasa absolut atas perintah dan larangan. Orang yang bodoh dan tidak mengenal Allah SWT bukanlah seorang Mukmin, alih-alih seorang nabi.
Nabi Yunus a.s. ketika itu pergi dalam keadaan marah atas nama Tuhannya. Dia marah karena kekufuran kaumnya kepada Tuhannya. Akan tetapi, memang yang lebih utama baginya adalah bersabar dan menunggu izin berhijrah dari Allah SWT. Oleh karena itu Allah SWT berfirman: _"Dan janganlah kamu seperti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan paus,"_ *(al-Qalam: 48)*
Seakan Allah SWT menginginkan kedudukan yang lebih tinggi dan mulia untuk Nabi Muhammad saw..
Al-Qusyairi mengatakan bahwa yang paling jelas, kemarahan itu terjadi setelah Allah SWT mengutus Nabi Yunus a.s. dan setelah diangkatnya adzab yang hampir ditimpakan kepada kaumnya disebabkan ia tidak ingin adzab itu diangkat kembali dari mereka.
Ketika pergi, Nabi Yunus a.s. mengira bahwa Allah SWT tidak akan mempersempit dirinya dengan kurungan atau membuat ketetapan hukuman atas dirinya. Kata *(نَقْدِرَ)* berasal dari akar kata *(اَلْقَدْرُ)* yang berarti ketetapan dan putusan. Kata ini bisa juga berarti mempersempit, seperti dalam ayat:
_"Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki)."_ *(ar'Ra'd: 26)*
Juga ayat:
_"Dan orang yang terbatas rezekinya"_ *(ath-Thalaaq:7)*
Dijelaskan bahwa *(اَلْتَقْدِيْرُ)* disini iuga berarti ketetapan, bukan kekuasaan atau kemampuan, seperti dalam ayat:
_"Maka bertemulah (air-air) itu sehingga (meluap menimbulkan) keadaan (bencana) yang telah ditetapkan."_ *(al-Qamar: 12)*
Ketika Nabi Yunus a.s. berada di kegelapan malam, kegelapan lautan dan kegelapan perut ikan paus, ia menyadari bahwa dirinya telah menzalimi diri sendiri dengan pergi tanpa izin, atau karena tidak sabar menghadapi kaumnya. Hal seperti itu sama sekali tidak mengandung unsur hukuman dari Allah SWT karena tidak mungkin para nabi mendapat hukuman. Akan tetapi, hal itu lebih sebagai penempaan dan pendidikan. Terkadang ada seseorang yang dididik, tetapi tidak berhak mendapatkan hukuman seperti anak kecil. Nabi Yunus a.s' pun memohon-mohon kepada Allah SWT dengan doa *(لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبْحَٰنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ)*. Kemudian Allah SWT memuliakannya dan memelihara tubuhnya agar tidak dicerna oleh ikan paus. Perut ikan paus itu hanya sebagai tempat pengurungan saja. Allah SWT memerintahkan ikan paus untuk memuntahkan Nabi Yunus a.s. di tepi laut.
Dalam dalam ayat ini Allah SWT menegaskan bahwa Dia akan memperkenankan doanya sebagaimana Dia memperkenankan doa Nabi Yunus a.s., serta menyelamatkannya sebagaimana Dia menyelamatkan Nabi Yunus a.s.
Dan di antara karunia dan rahmat Allah SWT yakni bahwa penyelamatan itu diberikan bagi orang yang memohon pertolongan dan perlindungan kepada-Nya, tidak hanya untuk Nabi Yunus a.s., tetapi bersifat umum mencakup setiap Mukmin yang memohon pertolongan dan memohon rahmat-Nya. Sebab Allah SWT akan membebaskan mereka dari kesulitan dengan amalan mereka sebelumnya. Itu seperti firman Allah SWT dalam ayat:
_"Maka sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak berzikir (bertasbih) kepada Allah, niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai Hari Berbangkit."_ *(ash-Shaaffaat: 143-144)*
Itulah bentuk penjagaan Allah SWT kepada hamba-Nya yang bernama Yunus a.s.. Allah SWT menghargai haq penghambaannya dan mengingat ketaatan yang pernah dilakukannya.
Allah SWT memperkenankan permohonan orang-orang yang berdoa di mana pun. Oleh karena itu, Rasulullah saw. bersabda:
_"Janganlah kamu sekalian lebih mengunggulkan aku atas Yunus bin Mata. Karena aku ketika berada di Sidratul Muntaha tidaklah lebih dekat kepada Allah SWT daripada dirinya ketika ia berada di dasar lautan di dalam perut ikan paus"_ *(Bukhari, Muslim dan Abu Dawud meriwayatkan hadits ini dari Ibnu Abbas r.a. dengan bentuk redaksi yang lain)*
Ini menjadi dalil bahwa Allah SWT tidak berada di pihak tertentu.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
