Surah al-Anbiyaa' Ayat 83-84

*AL-ANBIYA' (16)*
 
*KISAH NABI AYYUB A.S.*

*Surah al-Anbiyaa' Ayat 83-84*

*Beberapa Catatan tentang Kisah Nabi Ayyub a.s.*

Nama Nabi Ayyub a.s. disebutkan dalam Al-Qur'an sebanyak empat kali, yaitu dalam surah an-Nisaa’, surah al-An'aam, surah alAnbiyaa', dan surah Shaad.

Nama lengkapnya adalah A3vub bin Amwash. Ibunya berasal dari keturunan Nabi Luth a.s.. Ia berkebangsaan Romawi dari keturunan Ya'qub a.s. bin Ishaq a.s.. Ia tinggal di daerah Awash, bagian dari wilayah gunung Sa’ir, atau negeri Adum.

Ada keterangan lain yang menyebutkan bahwa Nabi Ayyub a.s. diutus sebelum Nabi Musa a.s., atau seratus tahun lebih se¬ belum Nabi Ibrahim a.s.. Ibnu Ishaq mengata¬ kan bahwa yang benar adalah ia berasal dari Bani Israil. Tidak ada keterangan valid mengenai nasabnya, kecuali bapaknya bernama Amwash.

Allah SWT mengaruniai Nabi Ayyub a.s. kenabian, melapangkan dunia untuknya, memberinya banyak anak, dan harta yang melimpah. Nabi Ayyub a.s. memiliki tujuh anak laki-laki dan tujuh anak perempuan. Semua itu sebagai ganti atas cobaan yang menimpa dirinya berupa sakit yang cukup lama, yaitu delapan belas tahun, atau tiga belas tahun, atau tujuh tahun sekian, menurut berbagai versi riwayat yang ada. Akan tetapi, penyakit yang dideritanya bukan penyakit yang menjijikkan karena para nabi adalah orang-orang yang selamat dari bentuk penyakit yang menjijikkan.

Allah SWT juga memberikan cobaan kepada A3^ub a.s. berupa kematian anakanaknya akibat tertimbun reruntuhan rumah. Begitu juga dengan harta kekayaannya yang lenyap seketika. Nabi Ayyub a.s. adalah sosok yang memiliki empati yang tinggi kepada orang-orang miskin, suka menyantuni anakanak yatim dan para janda, serta sangat memuliakan tamu.

Allah SWT memuliakan Nabi Ayyub a.s. dengan memperkenankan kafarat atas sum¬ pahnya, seperti yang diceritakan dalam surah Shaad, ia mengambil segenggam rumput, lalu ia pukulkan ke tubuh istrinya supaya ia tidak termasuk orang yang melanggar sumpah.

Nama istri Nabi Ayyub a.s. adalah Rahmah binti Afrayim bin Yusuf, atau Makhir binti Misya (Minsa) bin Yusuf, atau Liya binti Ya'qub, menurut berbagai versi keterangan yang ada.

Kisah yang melatarbelakangi sumpah Nabi Ayyub a.s. adalah pada suatu ketika istrinya pergi untuk suatu keperluan, namun lama tidak kembali. Dikisahkan bahwa istri¬ nya mendapat bisikan setan agar Ayyub a.s. mengucapkan perkataan yang terlarang jika ingin sembuh dari penyakitnya. Secara tidak langsung istrinya berkata, "Sampai kapan cobaan ini terus berlangsung?" Nabi

Ayyub a.s. pun bersumpah jika ia sembuh nanti ia akan memukul istrinya sebanyak seratus kali. Lalu Allah SWT memerintahkan untuk membatalkan sumpahnya itu dengan membayar kafarat dengan cara mengambil seikat kecil rumput dan memukulkan ke tubuh istrinya. Hal itu sebagai rahmat bagi dirinya dan istrinya karena istri Ayyub a.s. begitu baik merawat dan berbakti kepadanya, dan Nabi Ayyub a.s. juga sangat sayang kepadanya.

Demikianlah bentuk keringanan yang dikukuhkan pula dalam syari'at kita menyangkut sanksi _hadd_ dan yang lainnya dalam kondisi darurat seperti kondisi sakit dan sedang hamil.

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Al-Qurthubi menyebutkan tujuh belas pendapat dalam kaitannya dengan _adh-Dhurru_ (penyakit dan penderitaan) yang dialami oleh Nabi Ayyub a.s.. Namun, yang benar semestinya berpatokan pada zahir nash Al-Qur'an saja, yang intinya bahwa Nabi Ayyub a.s. mengalami kemudharatan pada dirinya, fisiknya, keluarganya dan hartanya. Lalu ia bersabar; kemudian Allah SWT menyembuhkannya, mengembalikan kondisi fisiknya menjadi baik kembali, serta memberinya ganti atas apa yang hilang darinya, serta memujinya dengan kesabaran

_"Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah)."_ *(Shaad: 44)*

Yang pasti bahwa penyakit yang ia derita bukanlah penyakit yang menjijikkan. Kisahnya bertujuan memberi keteladanan, memberitahukan bahwa dunia adalah ladang akhirat bahwa manusia harus tabah atas musibah yang menimpanya di dunia, bersungguh-sungguh dalam melaksanakan hak-hak Allah SWT, tidak jemu terhadap sesuatu, serta tidak menggerutu. Justru ia mesti menghiasi diri dengan kesabaran, baik di kala susah maupun senang.

Allah SWT menyebutkan pelajaran ini secara global dalam firman-Nya *(رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَذِكْرَىٰ لِلْعَٰبِدِينَ)* Kami melakukan hal itu terhadap Nabi Ayyub a.s. sebagai rahmat dari sisi Kami sekaligus mengingatkan para ahli ibadah, ketika mereka ingat cobaan Nabi Ayyub a.s. dan kesabarannya. Dengan demikian, ia menjadi orang yang terbaik di masanya. Mereka pun akan bersabar seperti kesabaran Nabi Ayyub a.s., sehingga mereka sadar untuk tetap konsisten menjalankan ibadah dan tabah menghadapi musibah.

Adapun tentang berapa lamanya Nabi Ayyub a.s. menjalani cobaan tersebut, dalam hal ini terdapat sejumlah riwayat. Al-Qurthubi menuturkan diantara riwayat-riwayat tersebut, yang paling shahih -wallaahu a'lam- adalah delapan belas tahun. Hal ini diriwayatkan oleh Ibnu Syihab az-Zuhri dari Rasulullah saw. sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Mubarak.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login