SURAH AL-BAQARAH 163 - 164

AL-BAQARAH (34)

FIQIH KEHIDUPAN DAN HUKUM-HUKUM
[SURAH AL-BAQARAH 163 - 164]

KEESAAN TUHAN, KASIH SAYANG-NYA, DAN TANDA-TANDA KEKUASAAN-NYA

Setelah memperingatkan manusia agar tidak menyembunyikan kebenaran, Allah Ta'ala menjelaskan bahwa perkara pertama yang wajib ditampakkan dan tidak boleh disembunyikan adalah soal tauhid. Selanjutnya Dia menyebutkan bukti dan pentingnya memikirkan keajaiban-keajaiban alam agar manusia tahu bahwa penciptaan alam ini pasti ada pelakunya yang tidak serupa dengan sesuatu pun. Dalam ayat (وَإِلَـٰهُكُمْ إِلَـٰهٌۭ وَٰحِدٌۭ ۖ) Allah menyatakan bahwa hanya diri-Nya-lah yang memiliki sifat uluhiyah (ketuhanan) dan bahwa tiada sekutu bagi-Nya: Dialah Allah Yang Maha Esa, Yang Maha Tunggal, Yang menjadi tempat bergantungnya segala sesuatu, Yang tiada Tuhan selain Dia, dan Dialah Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Asma' binti Yazid ibnus Sakan, Rasulullah saw. bersabda:

"Nama Allah yang paling agung terdapat dalam ayat ini: 'Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa: tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang' dan ayat ini: 'Alif laam miim. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya."

Firman-Nya (لَّآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ) berisi nafi (penyangkalan) dan itsbaat (afirmasi). Bagian pertamanya (yakni kalimat: tiada Tuhan) adalah pernyataan kekafiran, tapi kalau kalimat ini diteruskan maka itulah iman. Makna kalimat ini adalah: Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Imam Muslim meriwayatkan dari Nabi saw. bahwa beliau pernah bersabda:

"Barangsiapa ucapan terakhirnya adalah Tiada Tuhan selain Allah! niscaya ia masuk 'surga.” Yang dimaksud di sini adalah hati, bukan lisan. Jadi, kalau seseorang baru berucap "Tiada Tuhan” lalu ia mati, sementara hati dan nuraninya mengimani keesaan Allah serta sifat-sifat-Nya yang lain, tentu ia termasuk penghuni surga, dengan kesepakatan Ahlus Sunnah.

Selanjutnya Allah SWT membeberkan bukti bahwa hanya Dialah yang memiliki sifat uluhiyah, dengan penciptaan langit dan bumi serta segala yang terdapat di antara keduanya, makhluk-makhluk yang diciptakanNya yang menunjukkan keesaan-Nya. Alam yang menakjubkan ini pasti ada yang menciptakannya.

# Bukti langit adalah terpasangnya langit di ketinggian tanpa disanggah tiang dari bawahnya maupun gantungan di atasnya.

# Bukti bumi adalah laut, sungai, tambang, pepohonan, tanah datar, dan tanah yang sukar dilalui.

# Bukti malam dan siang adalah pertukarannya, dengan datangnya salah satunya dan perginya yang lain secara tidak terasa, juga perbedaan sifat-sifat keduanya: yang satu terang dan yang lain gelap, yang satu panjang dan yang lain pendek. Siang adalah jarak waktu antara terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, sedang malam adalah waktu antara terbenamnya matahari sampai terbitnya fajar.

# Bukti kapal adalah pengendalian Allah terhadapnya sehingga ia dapat bergerak di atas permukaan air dan mengapung meskipun ia berat. Orang pertama yang membuatnya adalah Nabi Nuh a.s., sebagaimana diberitakan Allah Ta'ala. Malaikat Jibril berkata kepada Nuh, "Buatlah kapal dengan desain seperti _ju'ju' burung_. Nuh lantas membuatnya sesuai dengan petunjuk Jibril. Jadi, kapal adalah burung yang terbalik, dan air di bawahnya setara dengan udara di atasnya.
(Ju'ju' artinya dada. Ada pula yang berkata, ju'ju' artinya tulang dada.)

Kalau kapal ditundukkan Allah buat manusia, berarti boleh mengarungi laut, untuk tujuan apa pun, baik untuk berdagang maupun ibadah, misalnya haji dan jihad.

Bukti hujan adalah cara terbentuknya, akumulasinya, penyebarannya, penyegaran alam dengannya, dan pengeluaran tumbuhan dan rezeki. Sebagian dari air hujan itu lantas tersimpan di bumi sebagai cadangan air pada selain musim hujan, sebagaimana firman Allah Ta'ala: "...Lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi...” (al-Mu'minuun: 18)

Sementara itu di langit terdapat berbagai macam hewan. Allah Ta'ala berfirman, "...dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang...” (al-Baqarah: 164) Kata daabbah mencakup semua hewan.

Bukti angin adalah pengisarannya, yakni bertiupnya angin terkadang tanpa mengawinkan tumbuh-tumbuhan dan terkadang mengawinkannya, terkadang pula mendatangkan bencana dan terkadang membawa pertolongan Allah, kadang panas dan kadang dingin, kadang berembus perlahan tapi kadang berupa badai. Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Hurairah, katanya: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:

"Angin adalah bagian dari rahmat Allah, ia membawa rahmat dan membawa adzab. Karena itu, apabila kalian melihatnya, jangan mencelanya, tapi mintalah kepada Allah kebaikannya, serta berlindunglah kepada-Nya dari keburukannya.”

Perlu diketahui bahwa kata ar-riyaah dipakai untuk angin yang membawa kebaikan, sedang kata ar-riih untuk angin yang membawa adzab. Apabila angin bertiup, Rasulullah saw. biasanya berdoa begini:

"Ya Allah, jadikanlah angin ini riyaah (angin yang membawa kebaikan), dan jangan jadikan ia riih (angin yang membawa adzab).” Asal usul penamaan ini adalah karena angin adzab bertiup keras dan rapat bagian-bagiannya seolah-olah ia adalah satu badan, sedangkan angin rahmat lembut dan terpisah-pisah bagian-bagiannya.

Adapun bukti awan adalah berkumpulnya dan bergeraknya dari suatu tempat ke tempat lainnya dan mengambangnya di antara langit dan bumi tanpa tiang maupun gantungan, mirip gunung-gunung. Hal ini memukau para penumpang pesawat terbang yang melihatnya apabila pesawat melintas di atas awan itu. Ka'b al-Ahbar berkata: "Awan adalah ayakan hujan. Kalau tidak ada awan ketika air turun dari langit, tentu air itu akan merusak apa-apa yang ditimpanya.”

Kesimpulan: Firman Allah Ta'ala (وَإِلَـٰهُكُمْ إِلَـٰهٌۭ وَٰحِدٌۭ ۖ) adalah untuk menetapkan prinsip 'keesaan Allah dan menyatakan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada makhluk. Adapun firman yang disebutkan setelahnya adalah untuk membeberkan bukti-bukti yang nyata atas keesaan, kodrat, dan rahmat. Dalam menyebutkan keesaan-Nya, Allah Ta'ala tidak hanya memakai bentuk pemberitahuan, melainkan juga mengiringinya dengan perintah untuk memikirkan dan mengambil iktibar dari ayat-ayat Al-Qur'an. Dia berfirman kepada nabi-Nya, "Katakanlah: Perhatikanlah: apa yang ada di langit dan di bumi!...” (Yunus: 101) Perintah untuk memperhatikan di atas ditujukan kepada orang-orang kafir, dengan dalil firman-Nya, "...Tidaklah bermanfaat tanda-tanda (kebesaran Allah) dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.” (Yunus: 101) Dia berfirman pula, "Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi...” (al-A'raaf: 185) Maksud al-malakuut (kerajaan) adalah tanda-tanda kekuasaan Allah. Dia berfirman pula, "Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (adz-Dzaariyaat: 21) Maknanya: Apakah mereka tidak memperhatikan alam ini—yang menjadi tempat berlangsungnya berbagai kejadian dan perubahan— dan menjadikannya sebagai bukti bahwa alam ini adalah baru, dan sesuatu yang baru pasti ada yang membuatnya, dan si pembuat itu Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Mahakuasa, Maha berkehendak, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Berbicara, sebab kalau Dia tidak memiliki sifatsifat tersebut, berarti manusia lebih sempurna darinya, dan itu mustahil.===

Tafsir Al Munir
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login