AL-BAQARAH (35)
FIQIH KEHIDUPAN DAN HUKUM-HUKUM
[SURAH AL-BAQARAH 165 - 167]
KEADAAN KAUM MUSYRIKIN BERSAMA TUHAN-TUHAN MEREKA
Sesungguhnya kejahatan paling besar di mata Allah adalah penyekutuan sesuatu dengan-Nya. Dia berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukannya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki..." (an-Nisaa': 48). Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud, katanya:
"Aku pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, dosa apa yang paling besar?" Beliau menjawab, "Engkau adakan tandingan bagi Allah padahal Dia telah menciptakanmu."
Yang patut disayangkan dan mencengangkan orang-orang berakal adalah orang-orang musyrik yang menyembah Tuhan-tuhan selain Allah (berupa para pemimpin atau berhala) itu mencintai berhala-berhala mereka di atas kebatilan seperti kecintaan kaum mukminin kepada Allah di atas kebenaran, dan kecintaan dan penyembahan mereka kepada berhala-berhala yang tidak mampu berbuat apa-apa itu seperti kecintaan kaum mukminin kepada Allah Yang Mahakuasa.
Seandainya orang-orang musyrik telah melihat adzab, tentu pada saat itu mereka tahu bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya. Dengan kata lain, keputusan berada di tanganNya semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan segala sesuatu berada di bawah kekuasaan-Nya. Dan perlu diketahui bahwa adzab Allah itu berat.
Nabi saw. sebetulnya mengetahui hal itu, tapi beliau tetap diberi tahu, namun yang dimaksud adalah umatnya, sebab di antara mereka terdapat sebagian orang yang perlu diperkuat pengetahuannya dengan menyaksikan kejadian seperti ini.
Pada hari Kiamat sembahan-sembahan itu akan berlepas diri dari para penyembah mereka. Para malaikat, misalnya, berkata, ".. Kami menyatakan kepada Engkau berlepas diri (dari mereka), mereka sekali-kali tidak menyembah kami." (al-Qashash: 63) Mereka juga berkata, "..Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka: bahkan mereka telah menyembah jin: kebanyakan mereka beriman kepada jin itu." (Saba': 41) Sementara itu jin pun berlepas diri dari mereka dan menampik penyembahan mereka terhadapnya, sebagaimana difirmankan Allah Ta'ala:
"Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah selain Allah (sembahan) yang tidak dapat memperkenankan (doa) nya sampai hari Kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari Kiamat), sesembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan yang mereka lakukan kepadanya." (al-Ahqaaf: 5-6) Allah Ta'ala berfirman pula, "Dan mereka telah memilih tuhan-tuhan selain Allah, agar tuhantuhan itu menjadi pelindung bagi mereka, sekali-kali tidak. Kelak mereka (sesembahan) itu akan mengingkari penyembahan mereka terhadapnya, dan akan menjadi musuh bagi mereka." (Maryam: 81-82)
Para penyembah juga berlepas diri dari sembahan-sembahan mereka, dan berangan-angan seandainya mereka bisa kembali ke dunia sehingga dapat beramal saleh dan berlepas diri dari tuhan-tuhan palsu itu. Bahkan mereka pun meminta Allah memberi mereka (tuhan-tuhan palsu itu) adzab yang berlipat ganda. Allah Ta'ala berfirman, "Pada hari (ketika) wajah mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: 'wahai, kiranya dahulu kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.' Dan mereka berkata: 'Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka adzab dua kali lipat dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar." (al-Ahzaab: 66-68)
Dalam angan-angan ini mereka sebetulnya berdusta. Seandainya benar-benar dikembalikan ke dunia, mereka pasti kembali melakukan apa yang telah dilarang bagi mereka: "dan mereka sesungguhnya berbohong", sebagaimana diberitakan Allah Ta'ala tentang mereka.
Akan tetapi telah pasti keputusan adzab atas orang-orang kafir dari kedua kelompok itu: para penyembah dan para sembahan. Allah memperlihatkan kepada mereka amal-amal sesat yang telah mereka perbuat sehingga mereka pantas masuk neraka. Sedangkan Ibnu Mas'ud dan as-Suddi berkata, "Maksudnya: Allah memperlihatkan kepada mereka amal-amal saleh yang mereka tinggalkan sehingga mereka tidak masuk surga." Amal-amal (saleh) ini di _idhaafah_kan" kepada mereka karena mereka diperintahkan untuk mengerjakannya. Adapun peng _idhaafah_an amal-amal sesat kepada mereka adalah karena mereka mengerjakannya.
Firman Allah Ta'ala (وَمَا هُم بِخَـٰرِجِينَ مِنَ ٱلنَّارِ) menjadi dalil kekalnya orang-orang kafir di dalam neraka, dan mereka tidak keluar darinya. Ini serupa dengan firman-Nya, "..Dan mereka tidak akan masuk surga, sebelum unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat." (al-A'raaf: 40)===
Tafsir Al Munir
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
