SURAH AL-BAQARAH 153 - 157

AL-BAQARAH (32)

FIQIH KEHIDUPAN DAN HUKUM-HUKUM
[SURAH AL-BAQARAH 153 - 157]

SABAR ATAS COBAAN
Surah al-Baqarah Ayat 153-157

Dunia adalah negeri ujian dan cobaan. Ujian itu ada yang baik dan ada yang buruk. Allah Ta'ala berfirman,

"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati, Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami." (al-Anbiyaa': 35)

Dia berfirman pula,

"Maka (sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah yang membunuh mereka, dan bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sungguh Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui." (al-Anfaal: 17)

Allah Azza wa Jalla menguji hamba-Nya dengan karunia yang baik untuk menguji syukurnya, dan mengujinya dengan malapetaka untuk menguji kesabarannya. Ujian yang berupa anugerah nikmat disebut balaa', begitu pula ujian yang berupa malapetaka disebut balaa'. Ayat 155 menegaskan bahwa ujian itu berlangsung. Arti ayat ini: Sungguh Kami akan menguji kalian agar Kami mengetahui secara nyata siapa yang berjihad dan bersabar, supaya ganjaran Kami berikan kepadanya.

Kesabaran yang berat atas jiwa, yang pahalanya besar, adalah kesabaran pada saat musibah baru saja menimpa, sebab itu membuktikan kekuatan hati dan keteguhannya pada maqam ash-shabr (derajat sabar), dan itulah makna hadits Anas di atas: "Sesungguhnya kesabaran (yang mendapat pahala besar) adalah yang ada pada saat musibah baru saja menimpa." Adapun setelah efek musibah itu tidak begitu terasa lagi (karena seiring berjalannya waktu, lambat laun efeknya akan berkurang), setiap orang dapat bersabar.

Sabar ada dua macam : sabar dalam menghindari maksiat (orangnya disebut mujahid) dan sabar dalam melaksanakan ketaatan (orangnya disebut abid). Yang kedua lebih banyak pahalanya sebab itulah yang dikehendaki. Jika seseorang sabar dalam menghindari maksiat dan juga sabar dalam menjalani ketaatan, Allah akan memberinya keridaan terhadap qadha-Nya, dan tanda keridaan adalah tenangnya hati dalam menghadapi segala hal (baik musibah maupun kesenangan) yang menerpa jiwa. Adapun sabar yang ketiga, yaitu sabar dalam menghadapi musibah dan bencana, hukumnya juga wajib, sama seperti hukum beristigfar atas dosa-dosa.

Apabila seorang mukmin dirundung musibah, meskipun kecil, ia akan berkata: innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Ikrimah meriwayatkan bahwa pada suatu malam, lampu Rasulullah saw. tiba-tiba padam, maka beliau berucap: innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Seseorang lantas bertanya, "Apakah itu termasuk musibah, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Ya. Setiap perkara yang menyakiti seorang mukmin adalah musibah." Jadi, musibah adalah setiap perkara yang menyakiti seorang mukmin. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. dan Abu Sa'id ra. bahwa mereka pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:

"Apabila seorang mukmin mengalami sakit, capek, atau sedih, bahkan meski hanya mengalami kegelisahan, maka itu akan menyebabkan sebagian kesalahannya dihapus."

Musibah terbesar adalah musibah dalam agama. As-Samarqandi (Abu Ahmad) menyebutkan dalam Musnad-nya dari Atha' bin Abi Rabah, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda,

"Apabila seseorang di antara kalian mengalami musibah, hendaknya ia ingat seandainya ia mengalami musibah berupa meninggalnya diriku, sebab itu termasuk musibah paling besar."

Ibnu Abdil Barr mengatakan bahwa benarlah sabda Rasulullah saw. ini, sebab musibah berupa meninggalnya beliau lebih besar dari segala musibah lain yang menimpa seorang muslim sepeninggal beliau hingga hari Kiamat: turunnya wahyu berhenti, cahaya kenabian padam, dan itu juga menjadi awal munculnya bencana dengan murtadnya bangsa Arab berikut dampak-dampak lainnya. Musibah berupa meninggalnya Nabi saw. menjadi titik awal terputusnya keberkahan dan awal berkurangnya.

Bacaan innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun adalah ungkapan penyerahan diri dan kepasrahan. Allah Ta'ala menjadikan kalimat ini sebagai tempat berlindung bagi orang-orang yang dirundung musibah dan sebagai pegangan bagi mereka yang sedang diuji karena kalimat ini mengandung arti yang penuh berkah. Innaa lillaahi (sesungguhnya kami adalah milik Allah) adalah pengesaan Allah dan pengakuan bahwa diri kita adalah hamba dan milik-Nya, sedang _wa innaa ilaihi raaji'uun_ adalah pengakuan bahwa kita akan mati dan akan dibangkitkan lagi dari kuburan kita, dan kita meyakini bahwa segala sesuatu akan kembali kepada-Nya. Sa'id bin Jubair rahimahullah berkata: Tak seorang pun nabi sebelum nabi kita yang diajari kalimat ini. Sekiranya Ya'qub mengenal kalimat ini, tentu ia tidak akan berkata: "Aduhai duka citaku terhadap Yusuf!" (Yusuf: 84)

Berita gembira buat orang-orang yang sabar adakalanya berupa ganti (yang lebih baik). Contohnya, Allah memberi Ummu Salamah ganti berupa Rasulullah saw. yang menikahinya setelah suaminya, Abu Salamah, meninggal dunia. Adakalanya pula berupa pahala yang besar, misalnya yang disebutkan dalam hadits Abu Musa terdahulu yang menyatakan dibangunnya sebuah rumah di surga bagi orang-orang yang sabar, yang disebut "Rumah Hamdalah".

Allah memberi orang-orang yang sabar, yang mengucapkan innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun, nikmat-nikmat yang besar, yaitu ampunan dan rahmat, karena shalat dari Allah kepada hamba-Nya adalah ampunan, rahmat, berkah, dan pemuliaan dari-Nya kepada si hamba di dunia dan di akhirat. Az-Zajjaj berkata: "Shalat dari Allah 'Azza wa Jalla adalah ampunan dan pujian yang baik."

Ada pula yang berpendapat bahwa maksud rahmat adalah penyingkiran kesusahan dan pemenuhan kebutuhan. Ampunan dan rahmat itu adalah keadilan Tuhan, dan Allah memberi tambahan kepada orang-orang yang sabar, berupa hal ketiga, yaitu hidayah, sebagaimana firman-Nya, "dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (al-Baqarah: 157)

Ringkasan apa yang menjadi keyakinan saya sebagai berikut. Barangsiapa bersabar pada saat musibah baru saja menimpa, rida dengan qadha dan qadar, meminta dan mengharap pahala dari Allah atas musibahnya, dan tidak tercetus dari mulutnya kalimat yang mengandung kekurangajaran (etika buruk) terhadap Allah, maka Allah akan memberinya ganti yang lebih baik dari musibah itu di dunia, melimpahkan kepadanya kasih sayang ilahi di dunia dan akhirat, dan menyempurnakan baginya nikmat yang besar dan anugerah yang agung di akhirat: ampunan atas dosa-dosa dan kesalahan, masuk surga, dan mendiami Rumah Hamdalah. Semoga Allah mengkaruniakan iman kepada kita, membina jiwa kita agar kita senantiasa berbekal kesabaran dalam menghadapi setiap musibah, besar maupun kecil. Hanya kepada Allah-lah kita memohon pertolongan, dan Allah beserta orang-orang yang sabar, memberi mereka pertolongan, perlindungan, perhatian, dan kemenangan.===

Tafsir Al Munir
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login