SURAH AL-BAQARAH 138 - 141

AL-BAQARAH (28)


FIQIH KEHIDUPAN DAN HUKUM-HUKUM
[SURAH AL-BAQARAH 138 - 141]

SHIBGHAH IMAN DAN PENGARUHNYA DALAM JIWA SERTA KEHAMBAAN KEPADA ALLAH TA'ALA
Surah al-Baqarah Ayat 138-141

Islam menolak segala bentuk seremoni ritual yang kosong (seperti baptis di kalangan kaum Nasrani, dan sebagainya) dan menyatakan secara terbuka bahwa yang menjadi patokan adalah apa yang telah ditanamkan Allah ketika menciptakan jiwa manusia, yaitu pengakuan akan keesaan Allah, keikhlasan amal kepada Allah, serta cinta kebaikan dan sikap moderat dalam segala hal. Allah Ta'ala berfirman,

"(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus: tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (ar-Ruum: 30)

Jiwa agama adalah tauhid dan asasnya adalah keikhlasan. Semua nabi menyeru umatnya kepada hal ini, dan Nabi Muhammad saw. pun menyeru kepada hal yang sama. Jadi, dakwah atau syariat beliau menyempurnakan dakwah dan syariat para nabi dan rasul terdahulu.



Adapun klaim-klaim murahan, kebohongan yang diada-adakan, dan angan-angan yang tidak berlandaskan pada bukti, yang muncul dari kaum Yahudi dan Nasrani... semuanya batil, digugurkan oleh tiga hujjah yang dipakai Al-Qur'an untuk menyanggah segala hal tersebut, yaitu firman-Nya,

"Padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu." (al-Baqarah: 139)

"Ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?” (al-Baqarah: 140)

"Dan siapakah yang lebih lalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya.” (al-Baqarah: 140)

Keselamatan tidak akan dicapai dengan bergantung kepada amal-amal orang lain, para leluhur dan sebagainya: atau bersandar pada syafaat orang-orang saleh tanpa mengikuti teladan dan perilaku hidup mereka. Kebahagiaan dan keselamatan hanya dapat diraih dengan amal saleh. Asas kesalehan adalah keikhlasan ibadah kepada Allah, dan hakikat ikhlas adalah membersihkan perbuatan dari pamer kepada sesama makhluk.

Ayat-ayat ini menegaskan dua hal yang sangat penting:

Pertama, tanggung jawab pribadi adalah asas hisab dan barometer hukuman. Hal ini menjadi kebanggaan syariat Islam yang datang sebagai penghapus adat kebiasaan era Jahiliyah di kalangan bangsa Arab dan Romawi: membebankan tanggung jawab kepada selain orang yang berbuat kesalahan.

Kedua, para nabi itu-terlepas dari keimaman dan keutamaan mereka-dibalas sesuai dengan amal mereka, maka manusiamanusia biasa selain mereka lebih pantas lagi untuk dibalas sesuai dengan amal masing-masing.===

Tafsir Al Munir
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login