Surah al-Kahf Ayat 50-53

*AL-KAHF (8)*
 
*KISAH SUJUD KEPADA NABI ADAM*

*Surah al-Kahf Ayat 50-53*

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Ayat 50 hingga 53 dari surah al-Kahf di atas menunjukkan beberapa hal sebagai berikut.

1. Allah memuliakan bapak kita, Adam dan manusia secara keseluruhan dengan memerintahkan malaikat untuk sujud kepada Adam saat pertama kali diciptakan, yaitu sujud untuk memberi hormat dan memuliakan, bukan sujud dengan tujuan menyembahnya dan menganggapnya suci.

2. Seluruh malaikat tunduk kepada perintah Allah untuk bersujud, maka mereka pun bersujud kecuali iblis yang berasal dari jin. Iblis menolak untuk bersujud dan membangkang perintah Tuhannya serta keluar dari ketaatan kepada Allah SWT.

3. Di dalam penolakan iblis untuk bersujud kepada Adam terekandung unsur permusuhannya kepada manusia. Oleh karena itu, Allah mencela siapa pun yang menjadikan setan dan pengikutnya sebagai penolong; karena mereka adalah musuh manusia. Musuh tidak akan pernah menolong orang yang dimusuhinya, dan pertolongannya juga tidak dapat dipercaya. Penolakan itu juga mengandung unsur kesombongan terhadap Adam dan merasa lebih mulia darinya. Hal itu berdasarkan pengakuan iblis bahwa asal usul penciptaannya lebih mulia dari asal usul penciptaan Adam: iblis tercipta dari api dan Adam tercipta dari tanah liat. Oleh sebab itu, iblis merasa lebih mulia dari Adam. Melalui ayat ini, Allah seakan-akan berkata kepada orang orang kafir yang sombong atas orang Muslim yang miskin karena kemuliaan nasab dan status sosial mereka, "Sesungguhnya dengan perkataan tersebut kalian telah mengikuti perbuatan iblis yang sombong terhadap Adam." Semua yang telah diuraikan di atas menunjukkan seburuk-buruk ibadah adalah ibadah kepada setan sebagai pengganti ibadah kepada Allah, atau sangat buruknya penyembahan kepada iblis yang dijadikan sebagai pengganti bagi ibadah kepada Allah.

Firman Allah *(أَفَتَتَّخِذُونَهُۥ وَذُرِّيَّتَهُۥٓ)* menunjukkan bahwa iblis memiliki keturunan. Hal ini membuktikan bahwa iblis memiliki istri karena keturunan tidak akan ada kecuali dari istri. Sekelompok orang berpendapat bahwa iblis tidak memiliki anak dan keturunan. Menurut mereka, maksud kata *(وَذُرِّيَّتَهُ)* adalah para penolongnya dari golongan setan. Al-Qusyairi Abu Nashr berpendapat, "Secara umum ayat ini menjelaskan bahwa Allah ingin memberitahukan bahwa iblis memiliki pengikut dan keturunan, mereka juga bertugas membujuk keturunan Adam (untuk mengikuti mereka), padahal manusia adalah musuh mereka. Kita tidak mengetahui dengan pasti bagaimana mereka beranakpinak juga proses munculnya keturunan dari iblis. Oleh karena itu, masalah ini harus berpijak berdasarkan dalil naqli yang shahih."

Terkait dengan masalah ini terdapat hadits yang disebutkan oleh al-Humaidi di dalam kitab al-Jam'u baina ash-Shahihain dari Salman r.a., dia berkata, "Rasulullah saw. bersabda.

_"Jangan menjadi orang yang pertama kali memasuki pasar dan terakhir kali keluar dari dari dalamnya karena pasar adalah tempat bertelurnya setan dan menetasnya telur tersebut.”_

Al-Qurthubi menanggapi, "Ini menunjukkan bahwa setan memiliki keturunan yang berasal dari tulang sulbinya. Wallahu a'lam.”

5. Allah tidak meminta pertolongan kepada siapa pun dalam penciptaan langit dan bumi. Tidak ada siapa pun saat penciptaan terjadi. Orang musyrik dan iblis berikut keturunannya tidak menyaksikan proses penciptaan itu. Maksudnya Allah tidak mengajak mereka bermusyawarah saat mencipta langit dan bumi juga saat menciptakan mereka, tetapi Dia menciptakan mereka sesuai kehendak-Nya. Oleh sebab itu, setiap makhluk tidak pantas menjadikan iblis, jin, dan setan sebagai penolong selain Allah.

Ini merupakan dalil untuk membantah para peramal, para ahli metafisika, para tabib yang dapat menguasai orang lain dan lainnya yang berkecimpung di bidang ini.

Allah juga tidak menjadikan semua yang menyesatkan manusia sebagai penolong. Maksudnya Dia tidak menjadikan setan-setan dan orang-orang kafir sebagai penolong karena Dia tidak membutuhkan pertolongan siapa pun. Semua yang menyesatkan disebut secara khusus dalam ayat ini untuk semakin mencela dan memojokkan mereka.

6. Ada pemisah antara orang-orang Mukmin dengan orang-orang kafir, juga antara orang-orang musyrik dengan tuhan-tuhan mereka, seperti berhala dan sebagainya pada hari Kiamat. Orang-orang kafir tidak dapat mengambil manfaat dari semua yang mereka jadikan sebagai sekutu Allah. Tuhan-tuhan mereka tersebut juga tidak dapat mencegah datangnya adzab kepada mereka. Mereka semua binasa di dalam neraka Jahannam.

7. Saat orang-orang musyrik melihat neraka, mereka langsung menduga, maksudnya meyakini, bahwa mereka pasti akan dikumpulkan di dalamnya dan jatuh ke dalamnya. Mereka tidak mendapatkan tempat berpaling, yaitu tempat melarikan diri darinya karena tempat itu meliputi dari segala penjuru.

Ketika menafsirkan kata ar-Razi menguatkan pendapat bahwa tafsirnya adalah, "Sesungguhnya, orang-orang kafir itu saat melihat neraka dari tempat yang jauh, mereka langsung menduga bahwa mereka pasti masuk ke dalamnya saat itu juga, tanpa adanya penangguhan dan tenggang waktu. Hal itu karena dahsyatnya suara yang gemuruh karena kemarahan yang mereka dengar dari dalamnya, sebagaimana firman Allah,

_"Apabila ia (neraka) melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar suaranya yang gemuruh karena marahnya."_ *(al-Furqaan: 12)* ====

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login