Surah al-Kahf Ayat 32-44

*AL-KAHF (5)*
 
*KISAH PEMILIK DUA KEBUN; PERUMPAMAAN BAGI ORANG KAYA YANG TERPEDAYA OLEH HARTANYA DAN ORANG MISKIN YANG BANGGA DENGAN AQIDAHNYA*

*Surah al-Kahf Ayat 32-44*

*Sebab Turunnya Ayat*

Ada pendapat yang mengatakan bahwa ayat ini diturunkan kepada dua orang bersaudara dari Bani Makhzum; al-Aswad bin Abd Yalail, dia seorang kafir, dan Abu Salamah bin Abdullah bin al-Aswad, dia seorang Mukmin, suami Ummu Salamah sebelum dinikahi Rasul saw.

Pendapat lain dari Ibnu Abbas r.a., dua orang tersebut ialah dua bersaudara dari Bani Isra’il, salah satu dari mereka ialah kafir, namanya Furthuus dan satu lainnya seorang Mukmin bernama Yahudza atau Qithfiir. Mereka berdua mendapat warisan dari ayahnya sebanyak delapan ribu dinar. Mereka kemudian membagi dua warisan tersebut. Orang kafir dengan uang tersebut membeli tanah ladang dan perkebunan, sedangkan orang Mukmin justru menggunakannya di jalan kebaikan. Hingga perihal kedua orang tersebut diceritakan Allah.

Dinukilkan dari Muqaatil, dia berpendapat bahwa kedua orang tersebut adalah dua orang yang juga disebutkan dalam surah ashShaaffaat pada firman Allah,

_"Berkatalah salah seorang di antara mereka, "Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) pernah mempunyai seorang teman,"_ *(ash-Shaffaat: 51)*

Kedua orang tersebut berasal dari Bani Isra'il, seperti yang disebutkan Ibnu Abbas r.a..

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Kisah ini mengandung sejumlah nasihat dan pelajaran sebagai berikut.

1. Kisah ini merupakan perumpamaan yang jelas bagi orang Mukmin dan orang kafir. Perumpamaan seorang laki-laki Mukmin yang mengesakan Allah. Orang miskin dan saleh yang mengutamakan akhirat daripada dunia. Laki-laki ini diberi ganjaran berupa surga dan pahala yang agung. Perumpamaan seorang laki-laki yang kafir dan tenggelam dalam kecintaan terhadap dunia, tidak sudi bersosialisasi dengan kaum Mukmin. Kedua orang tersebut — menurut al-Kalbi — adalah dua orang bersaudara dari suku Makhzuum, penduduk Mekah. Atau dua orang bersaudara dari Bani Isra’il, salah satu dari mereka Mukmin dan satu lagi kafir, menurut pendapat Ibnu Abbas dan Maqatil. Laki-laki kafir tersebut memiliki dua buah kebun, pertanian, buah-buahan, dan sungai, serta harta kekayaan lainnya, tetapi ia kufur nikmat, menyombongkan diri karena memiliki harta dan anak yang banyak, serta meragukan hari kebangkitan. Oleh karena itu, Allah menghancurkan kekayaannya dan memusnahkan kedua kebunnya dengan awan hitam yang membawa hujan sangat deras, sambaran petir, atau adzab. Laki-laki yang kafir itu, akhirnya, sangat sedih dan menyesal atas segala upaya dan biaya yang dia belanjakan untuk merawat dan mengembangkan semua kekayaannya, seraya berkata *(يَـٰلَيْتَنِى لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّىٓ أَحَدًۭا )*. "Seandainya aku dahulu mengetahui (bahwa) nikmat-nikmat itu dari Allah yang dianugerahkan kepadaku dan seandainya aku mengetahui bahwa semua itu ialah kehendak dari Allah dan aku tidak mengingkari-Nya.” Penyesalan itu muncul dari dalam dirinya walaupun tidak lagi bermanfaat baginya.

2. Nikmat Allah tetap diberikan kepada orang kafir. Allah telah memberikan pemilik dua kebun tersebut kekayaan, anak yang banyak dan para pengikut.

3. Orang kaya — kecuali yang dirahmati Allah — biasanya sombong dengan hartanya, sangat mencintai dunia dan merasa status sosialnya lebih tinggi dari orang lain karena kekayaannya. Padahal harta tersebut tidak abadi dan pasti akan berubah. Bisa saja nasib orang kaya tiba-tiba berbalik ke titik nadir dalam waktu satu hari.

4. Orang Mukmin hendaknya tidak hanya berdiam saja bila berhadapan dengan kesombongan orang kafir yang kaya. Dia harus memberinya nasihat dan petunjuk untuk beriman kepada Allah, mengikrarkan keesaan-Nya, dan mensyukuri berbagai nikmat dan anugerah-Nya.

5. Kecintaan berlebihan terhadap harta terkadang menjadi penyebab seseorang mengingkari hari kebangkitan. Kiamat, Padang Mahsyar, dan berkumpulnya manusia pada waktu itu. Karena orang kaya yang zalim (terhadap dirinya), melihat materi sebagai segala-galanya. Tipu daya kecintaan harta tersebut yang membuat ia lupa dan lemah akalnya. Ia menduga bahwa pemberian kekayaan dunia tersebut karena memang dia berhak dan layak mendapatkannya. Sehingga ia pun berkata, "Seandainya aku dibangkitkan lagi dari kematian, Allah pasti memberiku nikmat yang lebih baik di akhirat, sebagaimana Dia telah memberiku nikmat-nikmat tersebut di dunia karena kemuliaanku di sisin-Nya."

Imam Malik berkata, "Hendaklah setiap orang yang memasuki rumahnya mengucapkan, _masya Allah, laa quwwata illa billah."_ Kalimat ini, seperti disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a. dari Nabi saw., merupakan salah satu harta karun surga. Nabi saw. juga bersabda.

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

أَسْلَمَ وَاسْتَسْلَمَ عَبْدِي

_“Laa hawla walaa quwwata illa billah (Tiada daya dan upaya kecuali karena Allah). Jika diucapkan seorang hamba, niscaya Allah Azza wa Jalla menjawab, ‘Hamba-Ku telah menyerahkan dan memasrahkan dirinya.”_

Kalimat ini juga terdapat pada kisah laki-laki Mukmin yang memberikan wasiat kepada orang kafir tersebut, tetapi orang kafir itu menolaknya pada saat dia mengira bahwa kebunnya tidak akan pernah musnah dan pada saat dia membanggakan semua kekayaannya kepada sahabatnya yang Mukmin.

Jika bencana telah datang, tidak ada segolongan manusia pun di dunia ini yang mampu mencegah dan membatalkannya, atau berlindung kepada dunia untuk menghilangkan bencana tersebut. Manusia yang tertimpa bencana akan merugi dan tidak dapat menolak datangnya adzab tersebut kepadanya. Tidak ada seorang pun yang dapat ditolong dan menolong orang lain ketika adzab datang mendera.

Sesungguhnya, kekuasaan, kehendak, kerajaan dan keputusan hanyalah milik Allah Azza wa Jalla. Tidak ada satu pun keputusan-Nya yang diserahkan kepada orang lain. Dan kekuasaan setiap saat hanyalah milik Allah. Allah berfirman,

_"Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah."_ *(al-Infithaar: 19)*

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login