AN-NAHL (8)
ORANG-ORANG KAFIR MENGGUNAKAN TAKDIR SEBAGAI ALASAN DAN SIKAP MEREKA YANG MENGINGKARI _BA’TS_ SERTA KESERUPAAN MISI PARA RASUL
Surah an-Nahl Ayat 35-40
Sebab Turunnya Ayat 38
*Ar-Rabi’ Ibnu Anas* mengatakan dari *Abui Aliyah*, "Ada seorang musyrik yang berutang kepada seorang Muslim. Ia pun menagih. Di antara kata-kata yang ia ucapkan ketika menagih adalah, "Demi Zat Yang aku harapkan setelah mati." Lalu si musyrik berkata, "Kamu mengira bahwa kamu akan dibangkitkan kembali setelah mati?! Demi Allah, sungguh Allah tidak akan membangkitkan kembali orang mati." Lalu turunlah ayat ini.
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Ayat-ayat di atas menunjukkan sejumlah hal sebagai berikut.
1. Sesungguhnya pengutusan rasul-rasul pada setiap umat merupakan ketentuan baku yang umum. Tujuannya untuk berdakwah menyembah Allah SWT semata dan meninggalkan penyembahan kepada thaghut, yaitu segala sesuatu yang disembah selain Allah SWT, seperti setan, dukun, berhala, arca, juga setiap orang yang mengajak kepada kesesatan.
2. Manusia di hadapan dakwah para rasul terbagi dua kelompok. _Pertama_, kelompok yang dibimbing oleh Allah SWT kepada agama-Nya dan penyembahan kepada-Nya. _Kedua_, kelompok yang disesatkan Allah SWT dalam _qadha'_-Nya terdahulu hingga mereka mati dalam keadaan tetap di atas kekafiran. Masing-masing dari dua kelompok tersebut telah memilih jalannya sendiri atas kesadarannya. Pengetahuan Allah SWT luas meliputi segala sesuatu, Allah SWT telah mengetahui apa yang akan dipilih oleh masing-masing dari kedua kelompok tersebut, Karena itu, qadha'- Nya yang terdahulu pasti cocok dengan apa yang akan terjadi. Karena Dia Maha Mengetahui segala sesuatu, dan pengetahuan-Nya tidak berubah. Sunnah Allah SWT yang berlaku pada para hamba sudah ada sejak dulu, Allah SWT memerintahkan semua untuk beriman dan melarang mereka dari kekafiran. Kemudian, Allah SWT menciptakan keimanan pada sebagian dan menciptakan kekafiran pada sebagian yang lain sesuai dengan pengetahuan-Nya dari kecenderungan hamba kepada jalan yang dipilihnya.
3. Orang yang berakal adalah orang yang mengambil pelajaran dari apa yang menimpa kelompok orang-orang sesat yang mendustakan, bagaimana nasib mereka berujung kepada kehancuran, adzab, dan kebinasaan.
4. Keinginan kuat, tekad, dan usaha keras Nabi Muhammad saw. atau yang lainnya untuk menunjuki seseorang tidak ada berguna, jika dalam ilmu dan pengetahuan Allah SWT orang itu adalah orang yang tersesat Karena Allah SWT tidak menunjuki orang yang Dia sesatkan setelah ia tersesat dari jalan yang lurus atas kesadaran dan kemauannya sendiri.
Orang-orang yang tersesat tidak mendapatkan penolong, pemberi syafaat dan kawan yang bisa menyelamatkan mereka dari adzab yang berhak mereka dapatkan atas kesesatan dan kekafiran mereka.
5. Semuanya merasa heran terhadap kebodohan orang-orang musyrik ketika mereka bersumpah dan bersungguh-sungguh bahwa Allah SWT tidak akan membangkitkan kembali orang mati _(ba’ts)._ Allah SWT menyanggah pernyataan mereka dengan menegaskan bahwa _ba'ts_ adalah pasti dan benar tanpa diragukan lagi sedikit pun, dan sungguh pasti akan terjadi, meskipun kebanyakan manusia tidak mengetahui bahwa mereka akan dibangkitkan kembali.
6. Hikmah adanya _ba’ts,_ Kiamat, dan kehidupan akhirat sudah jelas yaitu untuk memperlihatkan kebenaran menyangkut apa yang selama ini diperselisihkan berupa perkara _ba’ts_ dan segala sesuatunya. Juga, supaya orang-orang kafir yang tidak memercayai _ba’ts_ dan mereka bersumpah mengingkarinya, tahu dan sadar bahwa mereka berbohong.
7. Allah SWT, memiliki kuasa mutlak tanpa batas. Jika Dia ingin membangkitkan kembali orang mati, sama sekali tidak ada kesulitan bagi-Nya dalam menghidupkan mereka kembali dan tidak pula dalam segala hal yang lain dari apa yang Dia adakan di alam ini. Karena titah-Nya ketika hendak mengadakan sesuatu hanyalah _kun_ (terjadilah), maka terjadilah apa yang Dia inginkan seketika itu juga.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
