AN-NAHL (6)
SIFAT ORANG YANG BERTAKWA, KEIMANAN MEREKA KEPADA WAHYU, DAN BALASAN MEREKA
Surah an-Nahl Ayat 30-32
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Ayat-ayat ini merupakan contoh nyata gaya bahasa Al-Qur’an dalam menjelaskan hal-hal yang kontras. Penjelasan tentang keadaan orang-orang musyrik berikut balasan mereka di dunia dan akhirat diikuti dengan penjelasan tentang keadaan orang-orang Mukmin yang bertakwa.
Mereka beriman, percaya, dan membenarkan kenabian Muhammad saw. serta keabsahan Al-Qur'an yang diturunkan Allah SWT kepada beliau. Ganjaran mereka lebih baik dari amal mereka,
_"Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula)”_ *(ar-Rahmaan: 60)*
Di dunia, mereka memperoleh ganjaran yang mulia berupa pertolongan, kemenangan, keberhasilan, dan kemuliaan. Sedangkan di akhirat, mereka memperoleh surga. Barangsiapa yang taat kepada Allah SWT, ada surga untuknya kelak. Dan, apa yang mereka peroleh di akhirat berupa pahala surga lebih baik dan lebih agung daripada dunia, karena dunia adalah fana, sementara akhirat adalah kekal. Sebaik-baik tempat orang-orang yang bertakwa adalah akhirat, yaitu surga Adn yang mereka masuki. Di taman-taman surga itu, terdapat sungai-sungai, dan di dalamnya mereka memperoleh apa pun yang mereka kehendaki dan inginkan. Seperti itulah Allah SWT mengganjar orang-orang yang bertakwa, dan demikianlah adanya ganjaran ketakwaan.
Malaikat senang mengambil nyawa orang-orang yang bertakwa, seraya mengucapkan salam kepada mereka. Juga memberi kabar gembira berupa surga kepada mereka. Karena salam adalah keamanan. *Ibnu Mas'ud r.a.* mengatakan, ketika malaikat maut datang mencabut nyawa seorang Mukmin, ia berkata, "Tuhanmu mengirimkan ucapan salam kepada Anda." *Mujahid* mengatakan, seorang Mukmin diberi berita gembira dengan kesalehan anaknya setelah kematiannya, supaya hatinya merasa tenteram.
Malaikat juga berkata kepada mereka, "Bergembiralah kalian dengan masuk surga karena amal-amal saleh yang kalian perbuat selama di dunia."
Kesimpulannya, malaikat mengucapkan salam dan memberi kabar gembira dengan surga. Di sini, yang disebutkan lebih dulu adalah salam, karena salam adalah keamanan dan ketenangan yang bersifat umum, lalu diikuti dengan sesuatu yang lebih bersifat khusus dan spesifik, yaitu kabar gembira.
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
