AL HIJR (6)
MAGHFIRAH DAN ADZAB
Surah al-Hijr Ayat 49-50
Sebab Turunnya Ayat
*Thabrani* meriwayatkan dari *Abdullah bin Zubair r.a.*, ia berkata, "Suatu ketika, Rasulullah saw. melewati sekelompok sahabat yang sedang tertawa-tawa. Lalu, beliau berkata kepada mereka, "Apakah kalian masih bisa tertawa-tawa, sementara penyebutan surga dan neraka berada di antara kalian?" Lalu turunlah ayat ini *(۞ نَبِّئْ عِبَادِىٓ أَنِّىٓ أَنَا ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ٤٩ وَأَنَّ عَذَابِى هُوَ ٱلْعَذَابُ ٱلْأَلِيمُ ٥٠)*
Keterangan serupa juga diriwayatkan oleh *Ibnu Mardawaih* dari jalur lain dari salah seorang sahabat *Rasulullah saw*., ia berkata, "Rasulullah saw. melihat ke arah kami melalui pintu masuk Bani Syaibah. Lalu beliau berkata, _"Aku tidak melihat kalian tertawa-tawa."_ Kemudian, beliau pun berlalu pergi, kemudian kembali lagi, lalu bersabda, "Aku pergi keluar, hingga ketika aku berada di Al-Hijr, Malaikat Jibril a.s. datang, lalu berkata, "Ya Muhammad, sesungguhnya Allah SWT berfirman, _"Janganlah kamu membuat hamba-hamba-Ku pesimis dan putus asa, *(۞ نَبِّئْ عِبَادِىٓ أَنِّىٓ أَنَا ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ٤٩ وَأَنَّ عَذَابِى هُوَ ٱلْعَذَابُ ٱلْأَلِيمُ ٥٠)*
*Abd Ibnu Humaid* meriwayatkan dari *Qatadah*, ia berkata menyangkut ayat 49-50 Surah al-Hijr, "Telah sampai kepadaku berita bahwa *Rasulullah saw. bersabda*, _“Seandainya seorang hamba tahu seberapa besar pemaafan Allah SWT, niscaya ia tidak terlalu berhati-hati dalam memelihara diri dari keharaman. Dan seandainya seorang hamba mengetahui seberapa besar adzab Allah SWT, niscaya ia akan merasakan kesedihan yang sangat mendalam."_
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Ayat ini merupakan dalil lain tentang kemoderatan Islam. Sudah semestinya bagi setiap orang untuk senantiasa mengingatkan diri sendiri dan orang lain sehingga ia senantiasa memelihara rasa takut dan sekaligus pengharapan. Rasa takut ketika dalam keadaan sehat haruslah yang lebih mendominasi dirinya daripada ketika dalam keadaan sakit. Sehingga, ia pun senantiasa berada di antara ketakutan dan pengharapan. Sikap terlalu putus asa akan memicu sikap pesimis, sedangkan sikap terlalu berlebihan dalam pengharapan akan memicu sikap sembrono. Sebaik-baik perkara adalah pertengahan.
Rahmat Allah SWT meliputi segala sesuatu dan Dia Maha Pengampun kepada orang yang bertobat dan kembali kepada-Nya. Akan tetapi, untuk menciptakan keseimbangan serta menekan perbuatan keji, mungkar, dan syirik, Dia juga sangat keras adzab-Nya bagi orang yang terus-terusan di atas kemaksiatan dan mati sebelum bertobat. Ini adalah sebuah keadilan yang mutlak.
Setiap orang yang mengikrarkan penghambaan, yang muncul dalam konteks orang seperti ini adalah bahwa Allah SWT Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Adapun yang mengingkarinya, ia berhak mendapatkan hukuman yang pedih. Karena sebagaimana yang dikatakan oleh ulama ushul fiqih, penetapan hukum berdasarkan suatu sifat, memberikan pengertian bahwa sifat tersebut menjadi sebab hukum itu. Di sini, Allah SWT menyifati mereka sebagai hamba-hamba-Nya, kemudian setelah itu Allah SWT langsung menuturkan sebuah hukum bahwa Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
*Ar-Razi* menuturkan, dalam ayat ini terdapat sejumlah catatan;
1. Allah SWT mengidhaafahkan kata ibaad (para hamba) kepada Diri-Nya, yaitu *(عِبَادِى)*, Ini merupakan sebuah bentuk pemuliaan yang agung.
2. Ketika menyebutkan _maghfirah_ dan rahmat, Allah SWT menyebutkannya dengan penekanan yang sangat kuat, yaitu menguatkannya dengan tiga bentuk penguat, yaitu, *(أَنَا)* dan *(أَنِّىٓ)*dan penggunaan _alif lam_ pada kata *(ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ)*. Selain itu, bentuk susunan kalimat yang sama tidak digunakan ketika menyebutkan adzab. Allah SWT tidak menyebutkannya dengan bentuk susunan kalimat yang penuh penekanan dan penguatan, _innii anaa al-mu'adzdzib_, dan Dia juga tidak mendeskripsikan Diri-Nya dengan hal itu, yaitu tidak menggunakan bentuk kata _isim faa’il_, _Al-Mu'adzdzib_. Tetapi, Dia hanya mengungkapkannya dengan kalimat *(وَأَنَّ عَذَابِى هُوَ ٱلْعَذَابُ ٱلْأَلِيمُ)*
3. Allah SWT memerintahkan kepada Rasul-Nya agar menyampaikan makna tersebut kepada mereka. Di sini, seakan-akan Allah SWT mempersaksikan kepada Rasul-Nya bahwa Dia senantiasa berkomitmen pada _maghfirah_ dan rahmat.
4. Tatkala *Allah SWT berfirman* *(۞ نَبِّئْ عِبَادِىٓ)* maknanya adalah beritakan kepada setiap orang yang mengakui dan mengikrarkan penghambaan kepada-Ku. Ini mencakup orang Mukmin yang taat dan orang Mukmin yang bermaksiat. Semua itu pada gilirannya sekali lagi menunjukkan pengunggulan sisi rahmat dari Allah SWT.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
