HUD (10)
Surah Huud Ayat 32 - 35
PERMINTAAN KAUM NUH AGAR DISEGERAKANNYA ADZAB DAN KEPUTUSASAAN MEREKA
قَالُوا۟ يَـٰنُوحُ قَدْ جَـٰدَلْتَنَا فَأَكْثَرْتَ جِدَٰلَنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّـٰدِقِينَ ٣٢
*Artinya*: _Mereka berkata, "Hai Nūḥ, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar"._
قَالَ إِنَّمَا يَأْتِيكُم بِهِ ٱللَّهُ إِن شَآءَ وَمَآ أَنتُم بِمُعْجِزِينَ ٣٣
*Artinya*: _Nūḥ menjawab, "Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri._
وَلَا يَنفَعُكُمْ نُصْحِىٓ إِنْ أَرَدتُّ أَنْ أَنصَحَ لَكُمْ إِن كَانَ ٱللَّهُ يُرِيدُ أَن يُغْوِيَكُمْ ۚ هُوَ رَبُّكُمْ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ ٣٤
*Artinya*: _Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasihatku jika aku hendak memberi nasihat kepada kamu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Tuhan-mu dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan"._
أَمْ يَقُولُونَ ٱفْتَرَىٰهُ ۖ قُلْ إِنِ ٱفْتَرَيْتُهُۥ فَعَلَىَّ إِجْرَامِى وَأَنَا۠ بَرِىٓءٌۭ مِّمَّا تُجْرِمُونَ ٣٥
*Artinya*: _Malahan kaum Nūḥ itu berkata, "Dia cuma membuat-buat nasihatnya saja". Katakanlah, "Jika aku membuat-buat nasihat itu, maka hanya akulah yang memikul dosaku dan aku berlepas diri dari dosa yang kamu perbuat"._
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Ayat-ayat ini menunjukkan hal berikut:
1. Sesungguhnya sikap keras kepala orang-orang kafir dan kebodohan mereka membuat mereka tetap menolak dakwah dan seruan Nabi Nuh, walaupun didatangkan kepada mereka dalil-dalil yang kuat tentang keesaan Allah SWT dan kewajiban taat dan beribadah kepada-Nya, dan sikap keterlaluan mereka dalam meminta untuk disegerakannya adzab dan siksa Allah SWT atas mereka, dan bala itu tergantung pada yang dibicarakan.
2. Perdebatan dalam agama demi mengukuhkan dalil dan menghilangkan syubuhat dan keraguan merupakan hal yang terpuji, dan itu menjadi pekerjaan para nabi, untuk itu Nuh dan para nabi lainnya berdebat dengan kaum mereka sehingga terlihat jelas kebenaran yang mereka bawa. Barangsiapa yang menerimanya dia akan selamat, dan Barangsiapa yang menolaknya dia akan celaka dan merugi.
3. Taklid buta, bodoh dan keras kepala pada kebatilan adalah pekerjaan orang-orang yang kafir, dan perdebatan dalam hal yang batil sehingga membuat kebatilan itu terlihat seakan kebenaran merupakan perbuatan tercela, dan orang yang melakukannya itu di dunia dan di akhirat sangat tercela.
4. Firman Allah SWT (إِن كَانَ ٱللَّهُ يُرِيدُ أَن يُغْوِيَكُمْ َۚ) merupakan bantahan terhadap kelompok _Muktazilah_ dan _Qadariyah_ dan orang-orang yang sependapat dengan mereka yang mengatakan bahwa Allah SWT tidak menghendaki adanya orang yang durhaka, dan tidak ada orang yang kafir, dan tidak ada orang yang sesat, sesungguhnya itu dilakukan dan Allah tidak menghendaki itu.
Kenyataannya sesungguhnya Allah SWT Dia-lah Pemberi hidayah dan kesesatan, dan kehendak Allah SWT itu dibenarkan bergantungnya pada penyesatan, maksudnya adalah Allah SWT menerangkan kepada manusia jalan hidayah dan jalan kesesatan, dan manusia itu memilih apa yang dia mau bersama kehendak Allah SWT.
Ucapan Nuh merupakan dalil yang menunjukkan bahwa Allah SWT tidak menyesatkan mereka, melainkan mempersilakan mereka untuk memilih, yaitu dari dua sisi.
_Pertama_ — Jika Allah SWT menghendaki penyesatan mereka, nasihat itu tidak ada gunanya, dan Allah SWT tidak akan memerintahkan Nuh untuk menasihati orang-orang yang kafir, dan umat Islam pun sepakat bahwa Nabi sama seperti para nabi lainnya, diperintahkan untuk berdakwah kepada orang-orang yang kafir serta memberi nasihat mereka.
_Kedua_ — Jika telah ditetapkan hukum Allah SWT atas mereka bahwa Allah SWT menyesatkan mereka atau menciptakan mereka sebagai orang-orang yang sesat, maka hal ini menjadi alasan bagi mereka dalam ketidakberimanan mereka, dan juga tentunya pekerjaan Nuh SWT menjadi tidak ada tujuan dan manfaatnya; karena hal itu akan mempermudah mereka untuk beralasan dan menolaknya karena tidak bergunanya dakwah yang dia sampaikan itu.
*Ringkasnya*: Sesungguhnya prinsip *Ahlus Sunnah* adalah Allah SWT terkadang menghendaki kekafiran dari manusia akan Dia tidak memerintahkan hal itu, melainkan Dia memerintahkan kepada keimanan, dan jika Dia menghendaki kekafiran dari seorang hamba, itu berarti bahwa Dia menutup datangnya keimanan pada hamba itu.
5. Setiap manusia itu bertanggung jawab atas dirinya sendiri, dan jika ada seorang nabi yang membuat-buat wahyu atau risalah kenabian seperti yang dituduhkan oleh kaumnya yang menentangnya, dia akan menanggung dosanya itu, dan jika apa yang dia katakan itu benar, yaitu kebenaran yang hakiki, mereka akan menanggung siksa atas pendustaan dan dosa mereka tersebut.
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
