HUD (9)
Surah Huud Ayat 25 - 31
KISAH NUH
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Ayat-ayat ini menunjukkan hal berikut ini:
1. Dakwah Nuh kepada kaumnya sama seperti dakwah semua nabi yang lainnya yaitu mengajak penyembahan hanya kepada Allah SWT dan taat hanya kepada-Nya dengan tidak menyekutukan-Nya dan meninggalkan penyembahan berhala.
2. Terus-menerus dalam kekafiran atau menyembah kepada berhala, dipastikan mendapat siksa yang sangat pedih, menyakitkan, dan menyusahkan di akhirat.
3. Sesungguhnya yang paling dominan dalam penolakan kaum Nuh adalah mereka dari para pemuka dan orang-orang terhormat sama seperti penolakan orang-orang pendusta dan pembangkang lainnya berlandaskan pada uzur dan alasan yang lemah, yang paling utama dari alasan mereka adalah kesombongan terhadap manusia lainnya yang mereka anggap sebagai orang-orang miskin dan lemah yang memang biasanya mereka lebih dominan dalam mengikuti yang benar, seperti firman Allah SWT:
_"Dan demikian juga ketika Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum engkau (Muhammad) dalam suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) berkata, 'Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu (agama) dan sesungguhnya kami sekadar pengikut jejak-jejak mereka."_ *(az-Zukhruf: 23)*
Dan begitulah, memang kebanyakan dari orang-orang yang lemah menjadi pengikut kebenaran dan kebanyakan orang-orang yang terpandang dan para pembesar mengingkari kebenaran itu, seperti yang disebutkan dalam ayat _(illa qoola mutrofuhaa)_ dan ketika *Heruclus* raja Romawi bertanya kepada *Abu Sofyan Shakhr bin Harb* tentang sifat-sifat Nabi saw. dia bertanya kepadanya, "Apakah orang-orang yang terhormat atau orang-orang yang lemah yang mengikutinya?” *Abu Sofyan* menjawab "Yang mengikutinya adalah orang-orang yang lemah." *Heruclus* berkata "Mereka adalah para pengikut rasul."
4. Ucapan mereka ( بَادِىَ ٱلرَّأْىِ) yang lekas percaya saja kenyataannya bukanlah satu hal yang hina dan tercela; karena kebenaran itu jika sudah dijelaskan, maka tidak ada lagi kesempatan bagi pendapat dan pikiran, melainkan yang ada saat itu adalah harus mengikuti kebenaran itu bagi setiap orang yang berakal, dan tidak ada yang berpikir untuk menjauh darinya kecuali orang yang bodoh, dan para rasul sesungguhnya telah datang membawa perintah yang jelas dan terang. Disebutkan dalam Hadits Nabi bahwa Rasulullah saw. bersabda:
_“Sesungguhnya aku tidak mengajak seorang pun untuk masuk Islam, kecuali ada pada dirinya kubwah (diam sejenak) kecuali Abu Bakar, dan sungguh dia adalah orang yang tidak ragu dan tergagap sedikit pun.”_
Yaitu orang yang tidak ragu-ragu sama sekali karena dia telah melihat perkara yang sangat agung dan jelas, dia pun bersegera diri untuk mengikutinya.
5. Para nabi biasanya selalu berpegang dengan apa yang menjadi kayakinan bagi mereka berupa wahyu Allah SWT kenabian dan kerasulan itu, walaupun manusia banyak yang menentang mereka.
6. Para nabi biasanya tidak akan mengambil jalan paksaan agar manusia mengikuti dakwah dan seruan mereka ( أَنُلْزِمُكُمُوهَا وَأَنتُمْ لَهَا كَـٰرِهُونَ) dan ini merupakan sebuah pertanyaan dengan makna pengingkaran, yaitu bahwa tidak mungkin bagi diriku untuk memaksakan kalian kepada keimanan dan pengakuan dengannya, yaitu syahadah bahwa tidak ada llah selain Allah, atau kenabian dan rahmat Ilahiah atau dalil-dalil yang jelas. Dan ini merupakan nash pertama yang melarang paksaan dalam agama.
7. Tidak dibenarkan secara rasio, perasaan, dan sopan santun, para nabi mengusir orang-orang yang beriman bersamanya, bukan karena apa-apa hanya karena mereka adalah orang-orang yang miskin dan lemah, dan jika ada di antara mereka yang melakukan itu — hal itu mustahil dilakukannya — maka mereka akan menjadi musuh Allah SWT, dan Allah pun akan memberi balasan atas keimanan para pengikut itu atas keimanan mereka, dan memberi balasan orang yang mengusir mereka dia tidak punya orang yang menolongnya dan melindunginya dari adzab Allah SWT jika dia mengusir orang-orang miskin dan lemah yang telah beriman itu, dan pengusiran orang-orang yang beriman secara terus-menerus untuk mendapatkan keridhaan orang-orang yang kafir merupakan pokok-pokok kemaksiatan dan tidak pernah seorang nabi melakukan hal itu. Yang dimaksud adalah pengusiran secara mutlak secara selama-lamanya.
8. Gudang-gudang rezeki dan kekayaan berada dalam pengendalian Allah SWT, dan hal yang gaib itu tidak diketahui kecuali oleh Allah Azza wa Jalla, seorang nabi tidak akan berkata "Sesungguhnya kedudukanku di sisi manusia adalah kedudukan malaikat"
9. Sebagian para ulama berhujjah dengan ayat (وَلَآ أَقُولُ إِنِّى مَلَكٌۭ) bahwa sesungguhnya malaikat itu lebih mulia dari para nabi? Karena mereka terus-menerus dalam ketaatan, dan kebersinambungan ibadah mereka sejak mereka diciptakan sampai datangnya hari Kiamat.
10. Kemuliaan jiwa yang hakiki tidak lain kecuali tiga perkara: Menjadi kaya yang mutlak dan tidak mengaku-aku (وَلَآ أَقُولُ لَكُمْ عِندِى خَزَآئِنُ ٱللَّهِ) dan ilmu yang sempurna (وَلَآ أَعْلَمُ ٱلْغَيْبَ) dan kemampuan yang sempurna (وَلَآ أَقُولُ إِنِّى مَلَكٌۭ) dan para malaikat adalah makhluk yang paling sempurna dalam hal kemampuan dan kekuatan.
Dan tujuan dari disebutkannya tiga perkara ini bahwa hal itu tidak ada pada diri Nuh kecuali apa yang sesuai dengan kekuatan manusia, adapun kesempurnaan yang mutlak, maka hal itu dia tidak mengaku-akunya.
11. Sesungguhnya hak orang yang Mukmin untuk mendapatkan pahala Allah SWT tidak terhalang dengan protes dan penolakan seseorang (لَن يُؤْتِيَهُمُ ٱللَّهُ خَيْرًا ۖ) yaitu bahwa bukan karena penghinaan kalian terhadap mereka akan membatalkan pahala mereka atau mengurangi pahala mereka, sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui apa yang ada dalam diri mereka, dan Dia akan memberi balasan kepada mereka atau menyiksa mereka sesuai dengan apa yang ada dalam diri mereka.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
