SURAH AL-BAQARAH 63 - 73

AL-BAQARAH (14)

FIQIH KEHIDUPAN DAN HUKUM-HUKUM
[SURAH AL-BAQARAH 63 - 73]

SEBAGIAN KEJAHATAN KAUM YAHUDI DAN HUKUMAN MEREKA
Surah al-Baqarah Ayat 63-66

Ayat-ayat ini menunjukkan tiga hal: diangkatnya gunung Thur, diubahnya mereka menjadi kera, dan nasihat bagi para pendurhaka yang melanggar perintah-perintah dan larangan-larangan Allah.

Tentang pengangkatan gunung Thur di atas kaum Yahudi seperti payung, itu menjadi peringatan untuk menakut-nakuti mereka. Ayat ini menafsirkan makna firman Allah Ta'ala:

"Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas mereka seakan-akan bukit itu naungan awan." (al-A'raaf: 171)

Kata Abu Ubaidah : Maknanya adalah "Kami guncangkan gunung itu dan memindahkannya dari tempatnya”.

Ada perbedaan pendapat tentang "Thur” ini. Sebuah riwayat dari Ibnu Abbas menyatakan bahwa Thur adalah nama gunung tempat Allah berbicara kepada Musa a.s. dan menurunkan Taurat kepadanya. Sedangkan Mujahid dan Qatadah berkata: Ia adalah gunung mana pun.

Sebab diangkatnya Thur adalah ketika Musa a.s. mendatangi Bani Israel dengan membawa loh-loh Taurat yang diterimanya dari Allah, dia berkata kepada mereka, "Ambillah loh-loh ini dan amalkanlah.” Namun mereka menjawab, "Tidak, kami tak mau, kecuali jika Allah berbicara dan menyampaikannya kepada kami secara langsung sebagaimana Dia berbicara kepadamu.” Maka mereka pun disambar halilintar kemudian mereka dihidupkan. Lantas Musa berkata kepada mereka, "Ambillah loh-loh ini” Mereka tetap menjawab, "Tidak." Maka Allah memerintahkan malaikat mencabut salah satu gunung di Palestina yang panjangnya satu farsakh”#) dan lebarnya juga satu farsakh (pemukiman mereka luasnya juga sedemikian) lalu gunung itu diangkat ke atas mereka seperti naungan awan, kemudian didatangkan laut di belakang mereka dan api di depan mereka, lalu dikatakan kepada mereka, "Ambillah loh-loh ini dan berjanjilah bahwa kalian tidak akan menyia-nyiakannya. Jika tidak, gunung itu akan jatuh menimpa kalian.” Akhirnya mereka bersujud sebagai pernyataan tobat kepada Allah dan mereka mengambil Taurat dengan janji itu. AthThabari menukil perkataan sebagian ulama: Seandainya mereka langsung mengambil lohloh itu pada perintah pertama kali, tentu mereka tidak diharuskan mengucapkan janji apa-apa. Sujud mereka miring sebab mereka melakukannya sambil mengawasi gunung itu dengan rasa takut. Setelah Allah memberikan rahmat-Nya kepada mereka, mereka berkata, "Tidak ada sujud yang lebih afdhal daripada sujud yang diterima Allah dan menjadi sebab turunnya rahmat-Nya kepada hamba-hambaNya.” Maka dari itu mereka melakukan sujud mereka miring, di atas satu sisi tubuh.

#) Satu farsakh sama dengan 3 mil, atau 5544 meter, atau 12.000 langkah. 160 Tafsir ath-Thabari (1/257).

Ibnu Athiyyah berkata: Yang paling benar, Allah Ta'ala menciptakan iman di dalam hati mereka tatkala mereka melakukan sujud itu. Mereka bukannya beriman secara terpaksa dan hati mereka tidak menerimanya secara tulus.

Dari Mujahid diriwayatkan sebab yang lain dari pengangkatan Thur ini. Katanya: Musa memerintahkan kaumnya memasuki pintu gerbang negeri itu sambil bersujud (membungkuk) dan mengucapkan hith-thaah (Hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, wahai Tuhan kami). Lalu pintu gerbang itu pun direndahkan supaya mereka bersujud, tetapi ternyata mereka tidak bersujud. Mereka masuk sambil merangkak dan mengucapkan hinthah (gandum). Maka diangkatlah gunung itu di atas mereka."

Adapun tentang pengubahan menjadi kera, jumhur berpendapat bahwa Allah Ta'ala mengubah bentuk/rupa orang-orang Yahudi yang melampaui batas dengan menangkap ikan di hari Sabtu, padahal telah diharamkan bekerja pada hari itu oleh Musa a.s.. Qatadah berkata: Yang muda berubah menjadi kera sedangkan yang tua berubah menjadi babi. Tak ada yang selamat kecuali orang-orang yang telah melarang (yaitu kelompok yang melarang kaum Yahudi melakukan pelanggaran, mereka melarang secara terang-terangan dan melakukan uzlah). Orang-orang selain mereka semuanya binasa.

Ada riwayat dari Mujahid tentang penafsiran ayat ini, bahwa yang diubah hanya hati mereka, dan akal mereka juga menjadi seperti akal kera.

Adapun tentang nasihat bagi orang-orang yang melanggar aturan, Allah Ta'ala telah memberikan hukuman al-maskh (pengubahan menjadi kera) kepada para pendurhaka yang melanggar aturan di hari Sabtu dan menangkap ikan pada hari itu dengan mempergunakan muslihat, sebagaimana disebutkan oleh Allah Ta'ala dalam surah al-A'raaf ayat 163

"Dan tanyakanlah kepada Bani Israel tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.” (al-A'raaf: 163)

Yakni, mereka membuat sekat-sekat dan kolam-kolam ketika air laut pasang. Apabila air surut, ikan-ikan itu terperangkap di dalam kolam-kolam itu, lalu mereka datang pada pagi hari Ahad untuk mengambil ikan-ikan itu.

Demikian pula hukuman orang-orang Yahudi yang enggan mengamalkan Taurat. Mereka melupakannya dan menyia-nyiakannya. Mereka tidak merenungkannya dan tidak menjaga perintah-perintah dan ancamannya. Maka hukuman mereka adalah diangkatnya gunung Thur di atas mereka seperti naungan awan.

Ini menunjukkan bahwa maksud dari kitab-kitab samawi adalah mengamalkan kandungannya, bukan sekadar membacanya dengan lidah sebab perbuatan ini termasuk kategori membuang ajaran kitab-kitab itu.

Ini berarti bahwa sekadar memperindah bacaan Al-Qur'an saja tanpa memperhatikan wejangan-wejangannya dan tanpa mengamalkan hukum-hukumnya tidak bermanfaat sama sekali. An-Nasa'i meriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

"Sesungguhnya di antara manusia paling buruk adalah orang fasik yang membaca Al-Qur'an, ia sedikit pun tidak meninggalkan perbuatan buruknya dan kembali ke apa yang diajarkan Al-Qur'an.”

Dengan sabda ini Rasulullah saw. menjelaskan bahwa maksud dari kitab-kitab yang diturunkan Allah adalah agar kitab-kitab itu diamalkan.

KISAH PENYEMBELIHAN SAPI BETINA
Surah al-Baqarah Ayat 67-73

Ada banyak pelajaran yang dapat dipetik dari kisah ini yang menjelaskan sebagian keburukan kaum Yahudi serta pendirian mereka yang keras dan suka membangkang. Pelajaran-pelajaran tersebut, yang terpenting, antara lain berikut ini.

1. Sikap keras dalam beragama bukanlah terpuji, dan mendesak dengan banyak pertanyaan bukanlah perbuatan yang dikehendaki. Oleh karena itu Allah Ta'ala melarang kita berbuat begitu pada waktu turunnya Al-Qur'an. Dia berfirman :

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu.” (al-Maa'idah: 101)

Rasulullah saw. bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dari Sa'd bin Abi Waqqash,

"Orang Islam yang paling besar dosanya terhadap sesama kaum muslimin adalah orang yang menanyakan suatu perkara yang sebetulnya tidak diharamkan bagi kaum muslimin, tetapi kemudian perkara itu diharamkan gara-gara pertanyaannya”

Beliau bersabda pula dalam riwayat yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah,

"Jauhilah perkara yang kularang, dan laksanakanlah sebisa kalian perkara yang kuperintahkan. Banyak pertanyaan dan menentang para nabi telah menyebabkan kaum sebelum kalian binasa."

Beliau juga bersabda dalam riwayat Bukhari dan Muslim :

".. dan Allah juga tidak menyukai desas-desus, banyak pertanyaan, dan pemborosan harta.”

Pertanyaan yang dilarang adalah, misalnya, pertanyaan tentang perkara yang disembunyikan Allah Ta'ala dari hamba-hamba-Nya, tidak diberitahukan-Nya kepada mereka, contohnya pertanyaan tentang waktu hari Kiamat, tentang hakikat ruh, tentang rahasia qadha dan qadar, juga pertanyaan yang diajukan untuk membingungkan, main-main, dan mengejek, pertanyaan/permintaan agar dimunculkan mukjizat dan ditampilkan perkara-perkara yang luar biasa sebagai bentuk pembangkangan/ pertanyaan tentang aghaaliith (masalah-masalah yang sukar, yang diajukan kepada ulama agar ia keliru menjawab sehingga timbul fitnah), pertanyaan tentang sesuatu yang tidak dibutuhkan dan tidak ada faedah praktis dari menjawab pertanyaan tersebut, dan pertanyaan tentang hukum halal dan haram yang didiamkan oleh syariat.

Allah mencatat ke dalam rekening kaum Yahudi dosa mengajukan pertanyaan secara mengejek, membangkang, membantah, dan mengingkari kebenaran yang jelas.

2. Perintah untuk menyembelih sapi betina, bukan hewan lainnya, alasannya karena sapi betina ini sama jenisnya dengan hewan yang pernah mereka sembah, yaitu 'ijl (anak lembu), agar mereka tidak lagi mengagungkan hewan tersebut. 

3. Olok-olok mereka terhadap perintah para nabi menyebabkan mereka mendapat celaan dan hukuman.

4. Proses penghidupan orang yang terbunuh dengan cara membunuh makhluk yang hidup menunjukkan dengan amat jelas kodrat Allah Ta'ala dalam menciptakan sesuatu dari lawannya. Dalam surah al-Baqarah, Allah Ta'ala menyebutkan penghidupan orang-orang mati di lima tempat: dalam firman-Nya :

"Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati” (al-Baqarah: 56)

Dalam kisah ini:

"Lalu Kami berfirman: Pukullah mayat itu dengan sebagian anggota sapi betina itu!” (al-Baqarah: 73)

Dalam kisah orang-orang yang berjumlah ribuan yang keluar dari kampung halaman mereka:

"Maka Allah berfirman kepada mereka: Matilah kamu, kemudian Allah menghidupkan mereka.” (al-Baqarah: 243)

Dalam kisah Uzair:

"Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali.” (al-Baqarah: 259)

Dan dalam kisah Ibrahim:

"Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” (al-Baqarah: 260)

5. Kecaman yang keras atas pembunuhan jiwa yang tak bersalah. Allah menyebutkannya belakangan, terlebih dahulu menyebutkan sikap mereka yang mengejek dan membangkang, dengan tujuan untuk memberi perhatian dan menunjukkan kekejian serta memberi celaan terhadap sikap pembangkangan tersebut, di samping untuk merangsang keingintahuan tentang sebab-musabab penyembelihan sapi betina ini. Perilaku ini adalah kebiasaan dan watak kaum Yahudi yang tak pernah mereka tinggalkan. Al-Qur'anul Karim, dalam menceritakan berbagai kejadian dan peristiwa, tidak mengikuti urut-urutan waktu seperti cara yang diambil para sejarawan. Dia menyebutkan suatu kisah sesuai dengan tujuannya, yaitu untuk memberi pelajaran, menarik perhatian, serta membangkitkan kesadaran.

6. Tidak ada yang lebih buruk dan lebih aneh ketimbang pernyataan bahwa batu lebih bermanfaat daripada hati kaum Yahudi, sebab air bisa memancar keluar dari batu itu. *Mujahid* berkata: "Tak ada batu yang jatuh dari puncak gunung, tak ada sungai yang mengalir dari batu, dan tak ada air yang memancar dari batu, kecuali semua itu terjadi karena batu itu takut kepada Allah. Al-Qur'anul Karim menyatakan begitu.” Ini berarti bahwa rasa takutnya batu itu hakiki, sebagaimana firman Allah Ta'ala :

"Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya.” (al-Israa': 44)

Ath-Thabari menukil perkataan sebagian ahli tafsir, bahwa takutnya batu itu cuma ungkapan majaaz dan isti'aarah, sama seperti ungkapan isti'aarah dalam pemakaian kata "kehendak" untuk dinding, dalam firman-Nya :

"Dinding rumah yang hendak roboh." (al-Kahfi: 77)

7. Kisah sapi betina ini menjadi dalil bahwa syariat kaum sebelum kita menjadi syariat pula bagi kita. Ini adalah pendapat jumhur ulama ushul fiqih, selain Imam Syafi'i.

8. Imam Malik membuktikan bolehnya qasaamah'# dengan berargumen kepada perkataan orang yang terbunuh itu: "Darahku ditumpahkan oleh Fulan” atau "Fulan yang telah membunuhku”. Sedangkan Imam Syafi'i dan jumhur ulama tidak membolehkan argumen seperti ini, sebab perkataan korban pembunuhan itu "Darahku ditumpahkan oleh Fulan” atau "Fulan yang telah membunuhku” adalah berita yang mungkin benar dan mungkin dusta.

#) Qasaamah adalah lima puluh sumpah yang diucapkan oleh lima puluh orang. Sumpah ini, menurut mazhab Hanafi, diucapkan oleh penduduk daerah di mana mayat orang yang terbunuh itu ditemukan, dan wali korban memilih orang-orang itu untuk bersumpah, guna menafikan tuduhan pembunuhan dari orang yang dituduh. Sedangkan menurut jumhur, sumpah ini diucapkan oleh para wali orang yang terbunuh untuk menguatkan tuduhan pembunuhan atas si pelaku pembunuhan.===

Tafsir Al Munir
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login