AT-TAUBAH (25)
SURAH AT-TAUBAH: 61
TINDAKAN ORANG-ORANG MUNAFIK YANG MENYAKITI NABI SAW. DAN PELURUSAN PEMAHAMAN MEREKA
وَمِنْهُمُ ٱلَّذِينَ يُؤْذُونَ ٱلنَّبِىَّ وَيَقُولُونَ هُوَ أُذُنٌۭ ۚ قُلْ أُذُنُ خَيْرٍۢ لَّكُمْ يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَيُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَرَحْمَةٌۭ لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ ۚ وَٱلَّذِينَ يُؤْذُونَ رَسُولَ ٱللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌۭ ٦١
*Artinya:* _Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti nabi dan mengatakan, "Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya". Katakanlah, "Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu". Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih._
*SEBAB TURUNNYA AYAT*
*Ibnu Abi Hatim* meriwayatkan dari *Ibnu Abbas*, dia mengatakan bahwa, "Nabtal bin alHarits# dahulu mendatangi Rasulullah saw. dan duduk bersama para sahabat di majelis beliau serta mendengarkan apa yang beliau sampaikan. Kemudian dia menyampaikannya kepada orang-orang munafik apa yang dia dengar tersebut. Kemudian, Allah menurunkan ayat (وَمِنْهُمُ ٱلَّذِينَ يُؤْذُونَ ٱلنَّبِىَّ) dan seterusnya.
#)- _Nabtal adalah orang yang bertubuh besar, dengan rambut dan jenggot yang acak-acakan, berkulit sawo matang, bermata merah, berpipi hitam kemerah-merahan dan bertubuh cacat dan dialah yang dikatakan oleh Rasulullah saw.,_
"مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى شَيْطَانٍ فَلْيَنْظُرْ إِلَى نَبْتَلِ بْنِ الْحَارِثِ"
_"Barangsiapa ingin melihat setan, maka lihatlah Nabtal bin al-Harits"_
*Al-Qurthubi* menyebutkan bahwa ayat ini turun pada *Attab bin Qusyair* yang mengatakan bahwa, "Muhammad adalah seperti telinga, dia menerima semua yang dikatakan kepadanya."
*Ibnu Abbas r.a.* mengatakan bahwa, "Beberapa orang munafik menyebut Nabi Muhammad saw. dengan ungkapan-ungkapan yangtidakpantas. Kemudian, salah seorang dari mereka mengatakan bahwa, "Jangan ucapkan ungkapan-ungkapan ini untuk menyebut Muhammad, karena kami takut apa yang kita ucapkan ini sampai padanya." Namun *al-Jallas bin Suwaid bin ash-Shamit* membantah, 'Tidak, kita ucapkan saja apa yang kita inginkan kemudian kita mendatanginya dan bersumpah bahwa kita tidak mengatakannya maka dia akan menerima perkataan kita, karena Muhammad adalah telinga yang selalu mendengar." Lalu turunlah ayat ini."
Tujuan dari kata-kata mereka tersebut adalah Rasulullah saw. tidak memiliki kecerdasan, tidak dapat menyikapi masalah dengan baik, berhati lugu, dan cepat tertipu oleh semua yang beliau dengar. Oleh karena itu mereka menyebut beliau sebagai udzun (telinga), seperti 'ain yang digunakan oleh orang Arab untuk menyebut mata-mata.
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Ayat at-Taubah: 61 menunjukkan bahwa Nabi saw. adalah pemilik akhlak yang sempurna, pemilik pemahaman yang luas dan dalam, serta pemilik kecerdasan yang luar biasa. Jadi, diamnya beliau terhadap orang-orang munafik bukan karena kebodohan dan tertipu. Akan tetapi hal itu karena suatu hikmah, yaitu memberikan kesempatan kepada orang-orang munafik untuk meninggalkan semua keburukan mereka dengan sendirinya dan agar tidak memberikan kesempatan kepada orang-orang Musyrik untuk memanfaatkan kondisi orang-orang munafik dan mengatakan bahwa Nabi saw. membunuh orang yang beriman.
Ayat di atas juga menunjukkan bahwa Nabi saw. ini adalah telinga untuk kebaikan, bukan untuk keburukan. Dia mendengar apa yang mengandung kebaikan dan dia tidak mau mendengar keburukan dan kerusakan. Beliau juga merupakan rahmat bagi orangorang Mukmin karena beliau telah memberi petunjuk kepada mereka menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Ayat di atas juga mengajarkan bahwa Nabi saw. tidak percaya begitu saja kepada informasi dari orang-orang munafik. Beliau juga tidak percaya terhadap apa yang mereka katakan walaupun mereka menegaskan ucapan mereka dengan sumpah. Namun, akhlak Nabi saw. menghalangi beliau untuk menghadapi orang-orang dengan apa yang tidak mereka sukai sehingga beliau menyikapi orang-orang munafik dengan kondisi luar mereka dan tidak berlebihan dalam memeriksa kondisi batin mereka.
Allah memberi Nabi saw. tiga sifat, yaitu beriman kepada Allah, percaya kepada orang-orang Mukmin maksudnya menerima informasi mereka, dan mengasihi orang yang beriman. Sifat-sifat ini mengharuskan beliau menjadi telinga yang mendengar kebaikan.
Dari ayat di atas, juga dapat disimpulkan bahwa menyakiti Rasulullah saw. dalam perkara yang berkaitan dengan risalah beliau adalah sebuah kekafiran yang mengakibatkan pelakunya mendapatkan siksa yang berat. Adapun menyakiti dengan perbuatan ringan yang berkaitan dengan diri beliau, sisi kemanusiaan beliau dan kebiasaan duniawi beliau, juga menyakiti keluarga beliau, perbuatan ini adalah haram. Namun, tidak mengakibatkan kekafiran. Misalnya tindakan beberapa sahabat yang menyakiti beliau karena mereka terlalu lama berada di rumah beliau. Hal ini seperti yang disebutkan dalam *firman Allah SWT,*
_"Sesungguhnya yang demikian itu adalah mengganggu Nabi sehingga dia (Nabi) malu kepadamu (untuk menyuruhmu keluar)"_ (al-Ahzaab: 53)
Juga seperti memanggil beliau dengan suara keras dan memanggil beliau dengan nama saja, seperti dalam *firman Allah SWT,*
_"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan Janganlah kamu mengatakan bahwa kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain, nanti (pahala) segala amalmu bisa terhapus sedangkan kamu tidak menyadari."_ (al-Hujuraat: 2).===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
