SURAH AL-ANFAAL: 30-31

AL-ANFAAL (9)

AL-ANFAAL: 30-31

BERBAGAI BENTUK TIPU DAYA DAN KONSPIRASI ORANG-ORANG MUSYRIK TERHADAP NABI SAW.

SEBAB TURUNNYA AYAT

Sebab turunnya ayat 30 (وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ), *Ibnu Abi Hatim* dan *Ibnu lshaq* meriwayatkan dari *Ibnu Abbas*, "Beberapa orang pemuka Quraisy dan pemuka setiap suku sedang berkumpul untuk masuk ke dalam _Darun Nadwah_. Tiba-tiba Iblis menghadang mereka dengan menyamar sebagai seorang bapak tua. Ketika melihatnya, para pemuka Arab itu bertanya, "Siapa engkau?" Ia berkata, "Seorang Bapak Tua dari negeri Nejd. Aku dengar untuk apa kalian berkumpul, maka aku berniat untuk ikut hadir. Kalian akan mendapatkan dariku gagasan-gagasan atau nasihat." Mereka berkata, "Baiklah, silakan masuk." Ia pun masuk bersama mereka. Ia kemudian berkata, "Pikirkanlah tentang orang itu (maksudnya Nabi Muhammad saw)" Ada yang berpendapat, "Ikat ia dengan tali. Kemudian, tunggu saja hari kematiannya sebagaimana para penyair sebelumnya juga telah mati seperti Zuhair dan Nabighah. Ia tak lain adalah seorang penyair seperti mereka."

Orang tua yang sesungguhnya musuh Allah, Iblis yang menyamar sebagai bapak tua dari Nejd itu berkata, "Demi Tuhan, ini bukan pendapat yang tepat. Akan ada orang yang akan mengabarkan hal itu kepada para pendukungnya. Lalu, mereka akan datang dan mengambilnya dari kalian. Lalu, mereka akan menjaganya dari tangan kalian. Boleh jadi saja ia keluar dari negeri kalian ini. Cobalah pikirkan ide yang lain." Lalu ada yang berpendapat, "Usir saja ia dari tengah-tengah kita agar kita tidak susah. Sesungguhnya kalau ia pergi niscaya apa pun yang ia lakukan tidak akan mengganggu kita." Bapak tua itu pun berkata lagi, "Demi Tuhan, ini bukan pendapat yang tepat. Tidakkah kalian perhatikan ucapannya yang manis, lidahnya yang fasih, dan bagaimana ia bisa menarik hati kalian kalau ia berbicara, jika ide ini yang kalian lakukan, lalu ia pergi ke kalangan Arab yang lain niscaya mereka akan tertarik padanya. Setelah itu ia akan datang pada kalian untuk mengusir kalian dari negeri kalian lalu membunuh pemuka-pemuka kalian."

Mendengar hal itu mereka berkata, "Benar kata Bapak Tua ini. Carilah ide yang lain." Akhirnya berkatalah Abu Jahal, "Aku akan menyampaikan pada kalian sebuah ide yang belum terpikirkan oleh kalian dan aku melihat ide inilah yang paling tepat." Mereka berkata, "Apa itu?" Ia berkata, "Kita minta dari setiap suku seorang pemuda yang kuat sebagai wakil mereka. Lalu kita berikan setiap pemuda itu pedang yang tajam untuk membunuhnya sekali pukul. Kalau kita telah membunuhnya dengan cara demikian, darahnya akan tercecer dan berserakan di seluruh suku. Aku yakin Bani Hasyim (suku Nabi Muhammad) tidak akan sanggup untuk memerangi seluruh suku dalam Quraisy. Kalau demikian, maka mereka (Bani Hasyim) akan bersedia menerima tebusan atas pembunuhan itu dan kita pun tenang tanpa terganggu dengan terbunuhnya dia." Bapak Tua itu berkata, "Demi Tuhan, inilah pendapat yang tepat. Ide pemuda ini (Abu Jahal) sangat bagus. Aku tak melihat ide lain yang lebih hebat."

Mereka pun pulang dengan membawa kesepakatan tersebut. Kemudian, Jibril datang menemui Nabi saw. di rumahnya pada malam itu. Setelah itu, Allah SWT mengizinkan Nabi-Nya untuk meninggalkan Mekah. Setibanya di Madinah, Allah menurunkan ayat ini untuk mengingatkan padanya nikmat yang diberikan-Nya (وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟), Inilah sebab terjadinya hijrah Nabi dari Mekah al-Mukarramah ke Madinah al-Munawwarah.

Penyebab turunnya ayat 31 (وَإِذَا تُتْلَىٰ), Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan dari Sa'id bin Jubair, ia berkata, "Dalam Perang Badar, Nabi saw. membunuh beberapa orang secara shabr (maksudnya ditahan lalu dipanah sampai mati) yaitu *Uqbah bin Abi Mu'aith, Thu’aimah bin Adi, dan Nadhar bin al-Harits*. Nadhar sendiri adalah tawanan Miqdad. Ketika Nabi saw. memerintah untuk membunuhnya, Miqdad berkata, "Wahai Rasulullah, ia tawananku." Rasul berkata.

إِنَّهُ قَدْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ مَا قَالَ

_“Sesungguhnya ia telah mengatakan tentang Al-Quran apa yang telah ia katakan.”_

*Sa’id bin Jubair* melanjutkan, "Mengenai Nadharlah diturunkannya ayat, "Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka berkata, "Kami telah mendengar..." dan seterusnya.

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Ayat yang pertama menjelaskan bahwa peristiwa hijrah merupakan mukjizat Allah untuk Muhammad saw. Orang-orang musyrik sudah berkumpul di _Darun Nadwah_ dan sepakat untuk membunuhnya. Mereka berniat meminta seorang pemuda yang kuat dan tangguh dari setiap suku untuk membunuhnya dengan sekali pukul supaya darahnya tercecer di seluruh suku sehingga dengan demikian kaum Nabi yaitu Bani Hasyim tidak akan sanggup untuk memerangi seluruh suku itu.

Kemudian Nabi saw. memerintahkan *Ali bin Abi Thalib* untuk tidur di kasurnya. Nabi saw. berdoa kepada Allah untuk menghilangkan jejaknya dari mereka. Allah SWT menutup mata mereka. Nabi pun keluar dari rumahnya, sementara para pemuda kafir itu terlelap. Nabi saw. menaburkan tanah di kepala mereka lalu ia berangkat. Ketika hari sudah pagi, keluarlah Ali menemui mereka. Ali mengatakan bahwa di dalam rumah tidak ada siapa-siapa. Barulah mereka sadar bahwa Rasulullah saw. sudah pergi dan selamat. Kisah ini sangat terkenal dalam sirah.

Kesimpulannya, mereka berusaha untuk menghancurkan dakwah Muhammad saw. Namun Allah membantunya dan menguatkannya sehingga rencana mereka kandas dan rencana Allah yang berlaku.

Yang dimaksud dengan firman Allah (وَٱللَّهُ خَيْرُ ٱلْمَـٰكِرِينَ ), meskipun sebenarnya tidak ada kebaikan sama sekali dalam makar mereka karena Dialah yang lebih kuat dan lebih tahu. Hal ini untuk mengingatkan bahwa setiap makar akan hancur dan gagal jika berhadapan dengan rencana Allah SWT. Dalam ayat tersebut juga terdapat isyarat bahwa sikap orang-orang kafir itu selalu saja menyakit Nabi saw. dan orang-orang yang mengikuti ajarannya.

Sebagaimana Allah SWT menghancurkan makar mereka terhadap diri Nabi saw., Allah juga menghancurkan makar mereka terhadap agama dan syari'atnya. Mereka mengklaim bahwa Al-Qur’an hanyalah dongeng orang-orang terdahulu. Allah bantah dengan mengatakan bahwa Allah yang mengetahui segala rahasia di langit dan di bumilah yang menurunkan Al-Qur’an itu.

Perkataan orang-orang kafir (لَوْ نَشَآءُ لَقُلْنَا مِثْلَ هَـٰذَآ ۙ), menunjukkan bahwa penentangan mereka terhadap Al-Qur'an hanyalah omong kosong belaka, padahal sebenarnya mereka tidak mampu sebenarnya untuk menentangnya. Ucapan belaka tidak ada gunanya ini adalah bentuk kepongahan dan kebohongan. Ada yang berpendapat bahwa mereka beranggapan bahwa mereka mampu membuat yang sama dengan Al-Qur’an sebagaimana halnya para penyihir di masa Nabi Musa juga menganggap bahwa mereka bisa menandingi Musa. Namun, ketika mereka coba mereka tidak mampu, lalu dengan penuh congkak mereka berkata,

_"Al-Qur'an ini tidak lain hanyalah dongeng orang-orang terdahulu."_ *(al-An'aam: 25)* dan di beberapa tempat lain.

Mengeluarkan ucapan seperti ini dan tuduhan yang tidak berdasar sebenarnya menunjukkan sebuah kelemahan dan ketidakberdayaan serta keluguan seorang yang bodoh dan awam. Di sisi lain, hal itu merupakan sikap yang mudah diperolok-olokkan karena kalau mereka memiliki dalil logika yang dapat diterima dan kuat, tentu akan mereka ungkapkan.====

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login