SURAH AL-BAQARAH 28 - 29

AL-BAQARAH (5)

FIQIH KEHIDUPAN DAN HUKUM-HUKUM
[SURAH AL-BAQARAH 28 - 29]

TANDA-TANDA KEKUASAAN ALLAH DENGAN MENCIPTAKAN MANUSIA, MEMATIKANNYA, DAN MENCIPTAKAN BUMI DAN LANGIT
Surah al-Baqarah Ayat 28-29

Cap kekafiran melekat pada setiap orang yang tidak mengakui kenabian Muhammad saw. dan ajaran yang dibawanya meskipun mereka beriman kepada kitab samawi terdahulu, sebab mereka tidak mengakui bahwa Al-Qur'an berasal dari Allah, dan siapa pun yang beranggapan bahwa Al-Qur'an adalah perkataan manusia berarti dia menyekutukan Allah serta melanggar "janji". Mazhab Mu'tazilah berpendapat: Ayat _"Mengapa kalian kafir kepada Allah”_ *(al-Baqarah: 28)* menunjukkan bahwa kekafiran itu terjadi dari pihak manusia sendiri.

Dalil-dalil yang menunjukkan kekuasaan dan eksistensi Allah sangat banyak, di antaranya yang disebutkan ayat ini, yaitu penciptaan bumi dan segala isinya serta langit dan semua yang ada padanya, penciptaan manusia dari ketiadaan, kemudian proses mematikannya lalu menghidupkannya, kemudian perhitungan amal yang pernah dilakukannya sepanjang hidupnya, sebagaimana *firman Allah Ta'ala,*

"Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya.” (al-Anbiyaa': 104)

Jadi, proses mengembalikan mereka menjadi hidup adalah sama seperti memulai penciptaan mereka dari awal. Kemudian orang-orang beriman diberi ganjaran berupa surga karena keimanan dan amal saleh mereka, sedangkan orang-orang kafir diadzab karena kekafiran mereka.

Pengurutan dengan kata tsumma, yang berfungsi untuk menyatakan taraakhi (diselingi jeda waktu yang lama), tidaklah dimaksud dalam ayat ini. Yang dimaksud dengan kata tsumma di sini adalah pengurutan pemberitaan dan penyebutan aneka nikmat. Ini tidak bertentangan dengan ayat 30 surah an-Naazi'aat (وَٱلْأَرْضَ بَعْدَ ذَٰلِكَ دَحَىٰهَآ) sebab kata _ba'da_ di sini menyatakan arti "sesudah” dalam penyebutan dan urutan pemberitaan, bukan menyatakan waktu maupun urutan perkara itu sendiri. Ini serupa dengan perkataan seseorang kepada temannya, "Bukankah aku sudah memberimu banyak kenikmatan yang besar, lalu mengangkat derajatmu, lalu menolak musuh-musuh darimu?” Boleh jadi sebagian hal yang disebutkannya belakangan lebih dulu terjadinya.

Ini bisa dibantah bahwa bumi diciptakan sebelum langit, lalu bumi dihamparkan setelah itu, dan dengan demikian tiada kontradiksi di sini. Hal ini dinyatakan oleh Ibnu Jauzi. Namun Ibnu Katsir berkata: Ayat ini (yakni ayat 29 surah al-Baqarah) menunjukkan bumi diciptakan sebelum langit, sebagaimana firman-Nya dalam ayat as-Sajdah (Fushshilat: 9-10),

"Katakanlah: Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa?”

Ayat pertama dan ayat kedua sama-sama menunjukkan bahwa bumi diciptakan sebelum langit. Saya tidak pernah menemukan perbedaan pendapat para ulama dalam hal ini, kecuali riwayat yang dituturkan oleh Ibnu Jarir ath-Thabari dari Qatadah bahwa dia menganggap langit diciptakan sebelum bumi. Sementara itu al-Qurthubi tidak mengambil sikap yang pasti ketika menafsirkan ayat:

"Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya” (an-Naazraat: 30)

Ayat "Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu” menyinggung tentang kodrat ilahi yang mempersiapkan bumi demi manfaat manusia dan merealisasikan maslahatnya serta memenuhi kebutuhan makhluk. Allah Ta'ala mencela orangorang kafir atas kebodohan mereka tentang apa yang ada di bumi dan pendayagunaan makhluk-makhluk, sebagaimana firman-Nya :

"Katakanlah: Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam. Dan Dia menciptakan di bumi itu gununggunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.” (Fushshilat: 9-10)

Jadi, yang dimaksud dengan ayat ini adalah i'tibar (menarik pelajaran), dengan dalil kata-kata sebelum dan setelahnya tentang proses menghidupkan, mematikan, menciptakan, menuju langit, dan menyempurnakan langit.

Akan tetapi, meskipun tujuan utama dari ayat ini adalah sebagaimana disebutkan diatas, para ulama ushul fiqih juga menjadikannya sebagai dalil atas kaidah yang berbunyi: alashlu fil-asyyaa'i al-ibaahah hatta ya'tiya daliilul-azhari (segala sesuatu itu aslinya berhukum mubah, kecuali jika ada dalil yang mengharamkannya). Artinya, pada dasarnya manusia boleh memanfaatkan semua yang diciptakan Allah di bumi, kecuali jika sudah ada dalil yang melarangnya. Jadi, makhluk tak punya hak untuk mengharamkan sesuatu yang diperbolehkan Allah, kecuali dengan izin-Nya, sebagaimana firman-Nya :

"Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal? Katakanlah: Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” (Yunus: 59)

Pengetahuan Allah itu luas, meliputi semua ciptaan-Nya, dan karena Dialah pencipta segala sesuatu maka pasti Dia mengetahui segala sesuatu. Keteraturan yang ada di langit dan bumi ini tidak lain karena ia diciptakan oleh Tuhan yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui akan apa yang diciptakan-Nya. Maka tidak mengherankan jika Dia mengutus seorang rasul yang didukung dengan sebuah kitab untuk memberi hidayah kepada umat manusia, dan di dalam kitab itu Dia membuat perumpamaan dengan makhluk yang dikehendaki-Nya, baik makhluk yang besar maupun yang kecil.

Ayat "kemudian Dia berkehendak menuju langit” dan ayat "(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang beristiwa di atas Arsy” (Thaahaa: 5) tergolong ayat yang sulit ditafsirkan. Ada tiga pendapat para ulama dalam penafsiran ayat ini.”

Pendapat pertama-yang dipegang oleh banyak imam-: Kita membacanya dan mengimaninya, tetapi tidak menafsirkannya. Diriwayatkan dari Imam Malik rahimahullah bahwa beliau pernah ditanya seseorang tentang maksud firman Allah Ta'ala "(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang beristiwa di atas Arsy”, maka beliau menjawab, "Bersemayam itu kita ketahui, tetapi cara bersemayam-Nya itu tak dapat dipahami oleh akal kita. Namun kita wajib mengimaninya. Menanyakan persoalan ini adalah bid'ah, dan kulihat engkau tidak bermaksud baik.”

Pendapat kedua-yang dipegang oleh golongan musyabbihah-: Kita membacanya dan menafsirkannya dengan makna yang sesuai dengan lahiriah bahasa Arab, yaitu bahwa _istiwaa'_ artinya berada tinggi di atas sesuatu, atau artinya berdiri tegak.

Pendapat ini batil, sebab itu termasuk sifat benda, dan Allah Ta'ala bersih dari sifat-sifat kebendaan.

Pendapat ketiga-yang dipegang sebagian ulama-: Kita membacanya, menakwilkannya, serta mengalihkan maknanya kepada lahirnya. Dalam hal ini ada yang mengatakan maknanya adalah istawaa (menduduki, menguasai), seperti kata istawaa yang diucapkan oleh penyair:

"Bisyr telah menduduki Irak tanpa perang dan pertumpahan darah.”

Ada pula yang mengatakan artinya adalah istawaa yang bermakna berada tinggi di atas, dan yang dimaksud-wallahu a'lam-adalah ketinggian urusan-Nya.

Ada pula yang mengatakan: istawaa dengan makna berkehendak menuju ke sana, yakni dengan penciptaan-Nya. Ini dipilih oleh ath-Thabari: tanpa menentukan caranya.

Dalam ayat ini dan ayat lainnya Al-Qur'an menunjukkan adanya tujuh langit dan tujuh bumi. Allah Ta'ala berfirman :

"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi.” (ath-Thalaaq: 12)

Yakni, ketujuh langit itu saling bertumpuk, begitu pula ketujuh bumi. Akan tetapi, dalam Sunnah Nabi saw. tidak ada hadits yang menjelaskan hakikat ketujuh lapis langit dan bumi itu. Karena itu, tidak ada gunanya membahas tabiat langit. Yang harus kita lakukan hanyalah beriman kepada lahir Al-Qur'an mengenai penyebutan jumlah ini, di samping kita memakainya sebagai dalil atas keagungan Tuhan Pencipta Yang meninggikan langit dan menghamparkan bumi. Ar-Razi, dalam tafsirnya, menyebutkan teori-teori yang dikemukakan para ahli ilmu falak (pakar astronomi), yang mengisyaratkan bahwa "tujuh langit” itu adalah al-kawaakibus sayyaarah (planet-planet yang beredar mengelilingi matahari). Hanya saja sains modern mengungkap adanya planet-planet beredar lainnya (seperti: Neptunus, Pluto, dan Uranus) selain dari yang dikenal pada masa silam, yaitu: bulan, Merkurius, Venus, matahari, Mars, Yupiter, dan Saturnus.===

Tafsir Al Munir
KKTA Plus 4 
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login