AL-MA'IDAH (38)
AL-MAA'IDAH: 109
PERTANYAAN KEPADA PARA RASUL DI HARI KIAMAT MENGENAI DAKWAH MEREKA
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Di dalam Al-Qur'an, pertanyaan yang diajukan kepada Rasul berkaitan dengan pelaksanaan kewajiban mereka untuk berdakwah, berkaitan dengan kaum mereka, sejauh mana respons mereka terhadap dakwah para rasul dan dan bagaimana bentuk jawaban mereka, apakah berupa pengakuan atau pengingkaran?
Dalam ayat ini, Allah SWT mengarahkan pertanyaan kepada para nabi dengan firman-Nya, "Apa yang dijawab oleh kaum kalian, baik dalam keadaan sembunyi-sembunyi maupun dalam keadaan terang-terangan?" Ini ditujukan untuk mencela orang-orang kafir. Mereka (para rasul) menjawab, "Kami tidak mempunyai pengetahuan tentang itu." Dengan demikian, ini menjadi bantahan terhadap orang-orang yang menjadikan al-Masih sebagai tuhan. Ibnu Juraij berkata, "Makna firman Allah SWT ( مَاذَآ أُجِبْتُمْ ۖ ) adalah apa yang mereka lakukan setelah kalian wafat?" Para rasul menjawab, "Kami tidak tahu. Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib."
*Al-Mawardi* berkata, "Jika ada yang bertanya mengapa Allah bertanya kepada para rasul sesuatu yang Dia lebih tahu dari mereka?" Terkait dengan ini ada dua jawaban.
_Pertama_, Dia bertanya kepada mereka untuk mengajari mereka—para rasul—apa yang tidak mereka ketahui, yakni kekufuran, kemunafikan, dan pendustaan yang dilakukan oleh umat mereka kepada para rasul setelah mereka tiada. _Kedua_, Dia ingin mempermalukan kaum mereka di depan seluruh manusia mengenai perbuatan mereka sebagai bentuk hukuman bagi mereka.
Ayat ini menunjukkan—sebagaimana pendapat ar-Razi—kebolehan mengucapkan kata _al-'Allaam_ (Yang Maha Mengetahui) untuk Allah SWT, sebagaimana juga boleh mengucapkan kata _al-Khallaaq_ (Yang Maha Menciptakan) untuk Allah. Adapun _al-Allamah_ para ulama menyepakati tidak boleh mengucapkannya untuk Allah. Hal ini disebabkan adanya _lafazh ta'nits_.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
