AN-NISAA' (50)
AN-NISAA': 77-79
SIKAP-SIKAP MANUSIA KETIKA DIWAJIBKAN BERPERANG
Sebab Turunnya Ayat 77:
*An-Nasa'i dan al-Hakim* meriwayatkan dari *Ibnu Abbas* yang bercerita bahwa *Abdurrahman bin Auf* dan kawan-kawannya datang menghadap Rasul dan berkata kepada beliau, "Wahai Nabi Allah. Dulu ketika musyrik kami mulia, namun setelah masuk Islam kami menjadi orang yang lemah." Nabi menjawab, _"Saya diperintahkan untuk memaafkan (orang-orang kafir), maka janganlah kalian memerangi mereka."_ Namun setelah Allah memindahkan mereka ke Madinah, Allah memerintahkan Nabi untuk berperang, namun mereka malah menahan diri tidak mau berperang. Kemudian Allah SWT menurunkan ayat (أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّوٓا۟ أَيْدِيَكُمْ) *Hasan al-Bashri* berkata, "Ayat tersebut turun berkenaan dengan sikap orang-orang Mukmin." *Mujahid* berkata, "Ayat tersebut turun berkenaan dengan sikap Yahudi." Ada juga yang mengatakan bahwa ayat itu turun berkenaan dengan sikap orang-orang munafik. Maksudnya adalah mereka takut berperang melawan kaum musyrikin sebagaimana mereka takut diambil nyawanya oleh Allah.
Adapun firman Allah SWT (أَيْنَمَا تَكُونُوا۟ يُدْرِككُّمُ ٱلْمَوْتُ) mempunyai asbab an-nuzul yang lain.
Syamsul Arifin KKTA arifin, [19/04/2025 4:38]
Diriwayatkan bahwa *Ibnu Abbas* berkata, "Ketika dalam Perang Uhud ada banyak pasukan Muslimin yang mati syahid, orang-orang munafik yang tidak mau ikut perang berkata, "Kalau seandainya saudara-saudara kita yang berperang itu mau ikut bersama kami, mereka tidak akan mati di medan perang." Kemudian Allah menurunkan ayat tersebut."
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Menurut saya ayat (أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ) turun berkenaan dengan sikap orang-orang Yahudi, munafik dan juga orang-orang yang lemah imannya. Dalam sejarah kehidupan sahabat tidak diketahui bahwa di antara mereka ada yang menentang hukum yang ditetapkan Al-Qur'an. Pendapat saya ini didukung dengan rangkaian ayat (وَقَالُوا۟ رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا ٱلْقِتَالَ لَوْلَآ أَخَّرْتَنَآ إِلَىٰٓ أَجَلٍۢ قَرِيبٍۢ ۗ). Ungkapan seperti ini tidak mungkin keluar dari lisan para sahabat karena mereka tahu bahwa ajal sudah ditetapkan dan rezeki sudah ditentukan. Para sahabat selalu mematuhi dan melaksanakan perintah Allah. Mereka yakin bahwa kehidupan di akhirat jauh lebih baik daripada kehidupan di dunia.
Adapun hadits yang diriwayatkan oleh *an-Nasa'i dan al-Hakim* seperti yang diuraikan dalam asbaab an-nuzul, perlu dikaji ulang dan diteliti lagi karena sangat jauh kemungkinannya apabila *Abdurrahman bin Auf* -salah seorang sahabat yang dijanjikan masuk surga ditetapkan sebagai orang yang mengutarakan kata-kata di atas.
Poin-poin yang dapat disimpulkan dari ayat di atas adalah sebagai berikut:
1. Kenikmatan, kelezatan, dan daya tarik dunia sangat kecil, terbatas, dan akan sirna. Adapun kenikmatan surga di akhirat akan kekal selama-lamanya dan akan dirasakan oleh orang-orang yang bertakwa.
*Nabi Muhammad saw. bersabda:*
_"Diriku di dunia ini umpama seorang musafir yang tidur sebentar pada siang hari di bawah pohon kemudian bangun dan meninggalkan pohon tersebut."_
2. Kematian adalah sesuatu yang pasti. Orang yang sudah sampai ajalnya tidak akan ditangguhkan kematiannya. Kematian adakalanya terjadi di dalam benteng yang kukuh, di gedung-gedung atau di medan tempur. Kematian *Khalid bin al-Walid* di atas ranjang merupakan teladan yang dapat dijadikan pelajaran. Dengan kata lain, jika ajal sudah datang ruh pasti akan meninggalkan raga, baik karena mati dibunuh, mati biasa, maupun sebab-sebab yang lain.
3. Merancang suatu negara, membangun gedung-gedung untuk kehidupan, melindungi harta dan jiwa merupakan sunnatullah yang ditetapkan bagi hamba-hamba-Nya. Semua itu merupakan aturan sebab akibat yang umat Islam diperintahkan untuk memerhatikan dan melaksanakannya. Para Nabi juga memerhatikan aturan sebab akibat tersebut. Sewaktu Perang Khandaq Nabi Muhammad menyiapkan parit supaya pertahanan semakin kuat. Ini semua adalah dalil kuat untuk menolak pendapat yang mengatakan bahwa tawakal adalah dengan cara meninggalkan sebab.
4. Menurut para ahli tafsir dan takwil seperti *Ibnu Abbas* dan yang lain, firman Allah SWT: (وَإِن تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌۭ يَقُولُوا۟ هَـٰذِهِۦ مِنْ عِندِ ٱللَّهِ ۖ) turun berkenaan dengan sikap orang Yahudi dan munafik. Hal ini karena ketika Rasululllah saw. mulai tinggal di Madinah dan hidup bersama mereka, orang-orang Yahudi dan munafik berkata: "Semenjak kedatangan Muhammad dan sahabat-sahabatnya, tanaman dan kebun kita semakin berkurang hasilnya.
5. Kesusahan, kemudahan, kemenangan, dan kekalahan berdasarkan keputusan (al-qadhaa') dan kekuasaan (al-qadar) Allah. Yang menciptakan semua itu adalah Allah SWT.
6. Kesejahteraan dan kelapangan rezeki yang kalian peroleh adalah berkat anugerah Allah SWT. Adapun kesempitan dan kesusahan mendapat rezeki adalah disebabkan dosa-dosa kalian, sebagaimana yang diterangkan oleh Hasan al-Bashri, as-Suddi dan lainnya.
Ada orang yang memahami ayat (عِندِكَ ۚ قُلْ كُلٌّۭ مِّنْ عِندِ ٱللَّهِ ۖ) dengan pemahaman yang keliru. Mereka mengartikan kata (اَلسَّيَّئَة) "kejelekan" dengan (اَلْمَعْصِيَة) "kemaksiatan", sehingga mereka menganggap bahwa sumber perilaku maksiat dan perilaku baik yang dilakukan manusia adalah dari Allah.
Pemahaman ini keliru sebab yang dimaksud dengan (اَلسَّيَّئَة) "kejelekan" di sini adalah bencana kelaparan, kekeringan, dan semacamnya. Kalau seandainya yang dimaksud dengan (اَلسَّيَّئَة) adalah tindakan orang-orang yang jelek dan (اَلْحَسَنَة); adalah tindakan orang-orang yang baik, redaksi ayat di atas semestinya berbunyi, (مَا اَصضبْتَ مِنْ حَسَنَةٍ) "kebaikan yang kamu lakukan" dan (مَا اَصضبْتَ مِنْ سَيِّئَةٍ) "kejelekan yang kamu lakukan, di mana manusia menjadi subjek yang melakukan objek kebaikan atau kejelekan, bukan seperti yang tertera dalam ayat Al-Qur'an di mana subjek yang menciptakan kejelekan dan kebaikan bukanlah manusia, bahkan pada ayat tersebut manusia menjadi objek yang terkena kebaikan dan keburukan.
7. Nabi Muhammad saw. adalah utusan Allah yang membawa wahyu Allah. Cukuplah hanya Allah yang menjadi saksi atas kebenarannya sebagai Nabi.====
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
