SURAH AN-NISAA': 49-55 BAGIAN 2

AN-NISAA' (42)

AN-NISAA': 49-55

CONTOH LAIN DARI PERBUATAN AHLUL KITAB DAN JUGA BALASANNYA

[Bagian 2/2]

FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM

2. Allah sama sekali tidak akan melakukan kezaliman. Ini dipertegas dalam *firman-Nya*: (وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا). Arti kata (فَتِيلًا) adalah benda serupa benang yang berada di antara pecahan isi kurma. Ada juga yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan (فَتِيلًا) adalah kulit tipis yang berada di antara isi kurma dan buahnya. Kata ini digunakan untuk menggambarkan jumlah yang sedikit dan yang tidak berarti sama sekali. Kalimat yang sama dengan adalah kalimat: _"Dan mereka tidak dizalimi sedikit pun."_ *(an-Nisaa: 124)*

Arti kata (نَقِيرًا ) adalah bintik kecil yang menonjol pada isi buah yang merupakan cikal bakal tumbuhnya pohon kurma.

3. Kaum Yahudi melakukan kebohongan kepada *Allah SWT* yaitu dalam ucapannya, _"Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya."_ *(al-Maa'idah: 18)*

Ada juga ulama yang mengatakan kebohongan mereka adalah ketika mereka menganggap diri mereka orang suci.

Diriwayatkan bahwa mereka pernah berkata, "Kami tidak mempunyai dosa sama seperti keadaan anak-anak kami ketika mereka lahir." Para ahli tafsir sepakat bahwa yang dimaksud orangorang yang mengaku dirinya suci dalam ayat ini adalah orang-orang Yahudi.

4. Bercampur aduknya aqidah kaum Yahudi. Meskipun orang Yahudi beriman kepada Tuhan dan mereka mempunyai kitab suci semawi, mereka juga beriman kepada al-jibt dan ath-thaaghuut yaitu patung dan berhala. Aqidah ini sesuai dengan yang diutarakan oleh sebagian pemuka agama mereka, yaitu Ka'b bin al-Asyraf dan Huyyai bin Akhthab. Dalilnya adalah *firman Allah*: _"Mereka masih menginginkan ketetapan hukum kepada Tagut."_ *(an-Nisaa': 60)*

Selain itu -seperti yang telah diterangkan pada pembahasan sebab turunnya ayat- mereka juga pernah berkata kepada kafir Quraisy, "Jalan agama yang kalian tempuh lebih dekat dengan kebenaran daripada agama yang dianut oleh Muhammad dan orang-orang yang beriman kepadanya"

5. Hilangnya kerajaan dan kekuasaan dari tangan Yahudi. Allah mengingkari wujud kekuasaan dan kerajaan Yahudi pada masa dulu, yaitu dalam *firman-Nya* (أَمْ لَهُمْ نَصِيبٌۭ مِّنَ ٱلْمُلْكِ). Maksudnya adalah mereka sama sekali tidak mempunyai kerajaan. Kalaulah mereka mempunyai sedikit kerajaan maka mereka tidak akan memberikan sedikitpun kepada orang lain karena mereka mempunyai sifat hasad dan bakhil.

6. Bakhil dan dengki merupakan sikap tercela yang dimiliki oleh kaum Yahudi. Dalam ayat-ayat di atas, Allah menginformasikan bahwa kaum Yahudi mempunyai dua sifat tersebut. Sifat bakhil disebutkan dalam firman-Nya (فَإِذًۭا لَّا يُؤْتُونَ ٱلنَّاسَ نَقِيرًا) yang bermaksud kendatipun ada (kekuasaan), mereka tidakakan memberikan sedikitpun (kebajikan) kepada manusia. Maksudnya mereka tidak akan memberikan hak-hak yang semestinya diperoleh orang lain. Ini adalah informasi dari Allah mengenai mereka. Arti asal kata (نَقِيرًا) adalah bintik kecil yang menonjol pada isi buah.

Allah juga menginformasikan bahwa orang-orang Yahudi selalu iri hati terhadap anugerah yang diberikan Allah kepada orang lain. Yang dimaksud dengan kata (ٱلنَّاسَ) pada ayat ini adalah Nabi Muhammad saw.. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas, Mujahid dan yang lain. Orang-orang Yahudi dengki kepada Nabi Muhammad karena beliau dipilih oleh Allah sebagai nabi, sebagaimana mereka juga dengki kepada sahabat-sahabat nabi yang beriman kepadanya. Adapun Qatadah berpendapat bahwa yang dimaksud dengan (ٱلنَّاسَ) dalam ayat ini adalah orang-orang Arab. Orang-orang Yahudi iri hati kepada bangsa Arab karena Nabi Muhammad berbangsa Arab.

*Adh-Dhahhak* berkata, "Orang Yahudi iri hati kepada orang Quraisy karena yang mendapat anugerah kenabian berasal dari kaum Quraisy." Pendapat-pendapat tersebut hampir sama (dan tidak bertentangan).

Iri hati adalah sifat tercela. Orang yang mempunyai sifat ini akan dilanda kegundahan. Sifat ini juga dapat menghapuskan pahala amal kebajikan laksana api menghanguskan kayu, sebagaimana yang diterangkan oleh hadits Rasul yang diriwayatkan oleh *Ibnu Majah* dari Anas.

7. Allah juga menginformasikan bahwa Dia telah memberi anugerah kepada keluarga Nabi Ibrahim, yaitu berupa kitab, hikmah dan juga kerajaan yang agung. *Hammam bin al-Harits* mengatakan bahwa yang dimaksud dengan (مُّلْكًا عَظِيمًۭا) adalah para Malaikat yang membantu dan mendukung keluarga Nabi lbrahim. Adapun Ibnu Abbas berpendapat bahwa yang dimaksud dengan (مُّلْكًا عَظِيمًۭا) adalah kerajaan Nabi Sulaiman. Diceritakan bahwa Nabi Dawud mempunyai sembilan puluh sembilan istri dan Nabi Sulaiman mempunyai istri lebih dari itu.

*Ath-Thabari* memilih pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan (مُّلْكًا عَظِيمًۭا) adalah anugerah kerajaan yang diperoleh Nabi Sulaiman dan beliau dihalalkan menikah dengan istri yang banyak. Dengan demikian, ayat ini juga mengandung sanggahan atas apa yang diucapkan oleh kaum Yahudi, yaitu "Kalau Muhammad adalah nabi, mestinya dia tidak suka dengan istri yang banyak dan dia akan sibuk dengan urusan kenabian." Oleh sebab itu, Allah menerangkan keadaan Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman supaya mereka sadar. Orang Yahudi pun mengakui bahwa nabi Sulaiman mempunyai seribu istri hingga Nabi Muhammad berkata: "Seribu istri!?" Orangorang Yahudi menjawab, "Ya. Tiga ratus istri adalah perempuan merdeka, sedangkan yang tujuh ratus adalah budak. Adapun nabi Dawud mempunyai seratus istri." Kemudian Nabi Muhammad berkata kepada mereka, "Mana yang lebih banyak, seribu istri, seratus atau sembilan?" Akhirnya mereka pun terdiam.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login