SURAH AN-NISAA': 49-55 BAGIAN 1

AN-NISAA' (41)

AN-NISAA': 49-55

CONTOH LAIN DARI PERBUATAN AHLUL KITAB DAN JUGA BALASANNYA

[Bagian 1/2]

SEBAB TURUNNYA AYAT

*a. Ayat 49:*
*Imam Ibnu Hatim* meriwayatkan dari *Ibnu Abbas* bahwa dia berkata, "Pada masa dulu orang-orang Yahudi melakukan sembahyang dengan anak-anak mereka dan mereka juga mempersembahkan kurban. Setelah itu mereka menyangka bahwa diri mereka telah bersih dari kesalahan dan dosa. Kemudian Allah menurunkan ayat (أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنفُسَهُم ۚ)

Keterangan ini juga diriwayatkan oleh *Ibnu Jarir* dari *Ikrimah, Mujahid, Abu Malik dan lain-lain.

*Imam al-Kalbi* berkata, "Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang Yahudi yang datang menghadap Rasul bersama anak-anaknya dan mereka berkata,"Wahai Muhammad, apakah anak-anak kami ini mempunyai dosa?" Nabi menjawab,"Tidak". Lalu mereka berkata, "Kami bersumpah bahwa kami sama dengan mereka. Dosa yang kami lakukan pada siang hari akan diampuni pada malam hari. Dan dosa yang kami lakukan pada malam hari akan diampuni pada siang hari. Inilah yang dimaksud bahwa mereka menganggap suci diri mereka."

*Imam Hasan al-Bashri dan Qatadah* berkata, "Ayat (أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنفُسَهُم ۚ) turun berkenaan dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani ketika mereka berkata _"Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya."_ *(al-Maa'idah: 18)* dan juga ketika mereka berkata, _"Tidak akan masuk surga kecuali orang Yahudi atau Nasrani."_ *(al-Baqarah: 111)*

*b. Ayat 51:*
*Imam Ahmad dan Ibnu Abi Hatim* meriwayatkan dari *Ibnu Abbas* bahwa dia berkata: "Ketika Ka'b bin al-Asyraf sampai di Mekah, orang-orang Quraisy berkata kepadanya: "Apakah kamu tahu orang yang memisahkan diri dari kaumnya dan menyangka bahwa dirinya lebih baik dari kami, padahal kami penyambut para jamaah haji, penjaga Ka'bah dan mempersiapkan minum untuk para jamaah haji'. Ka'b menjawab, "Kalian lebih baik (dari dia)'. Kemudian turunlah ayat _"Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah),"_ *(al-Kautsar:3)*

Dan juga turun surah an-Nisaa' ayat 51 dan 52 yang artinya: _"Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Kitab (Taurat)? Mereka percaya kepada Jibt dan Tagut dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya daripada orang-orang yang beriman. Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah. Dan barangsiapa dilaknat Allah, niscaya engkau tidak akan mendapatkan penolong baginya."_ *(an-Nisaa': 51-52)*

*Ibnu Ishaq* meriwayatkan bahwa *Ibnu Abbas* berkata, "Orang-orang yang mengumpulkan gabungan pasukan Quraisy, Ghathfan dan Bani Quraizhah adalah Huyayybin Akhthab, Salam bin Abi al-Huqaia, Abu Rafi, ar-Rabi bin Abi al-Huqaiq, Abu Imarah, Haudzah bin Qais dan yang lainnya adalah dari Bani Nadhir.

Ketika mereka sampai di Quraisy ada yang berkata, 'Mereka adalah ulama Yahudi, ahli ilmu tentang kitab-kitab terdahulu, tanyalah mereka apakah agama kalian itu lebih baik daripada agama Muhammad?' Orang-orang Quraisy pun bertanya kepada mereka, dan orang-orang Yahudi itu menjawab, Agama kalian adalah lebih baik daripada agama Muhammad, kalian juga lebih dekat dengan jalan yang penuh petunjuk daripada Muhammad dan para pengikutnya.'

Kemudian *Allah SWT* menurunkan surah *an-Nisaa' ayat 51 sampai 54*.

*c. Ayat 54:*
*Ibnu Abi Hatim* meriwayatkan melalui jalur sanad al-Aufi dari Ibnu Abbas bahwa dia bercerita, 'Ahlul Kitab pernah berkata, 'Muhammad mengira dengan penuh rendah hati bahwa dia mendapat anugerah (wahyu), dia juga mempunyai sembilan istri, keinginannya hanyalah menikah, raja mana yang lebih mulia dari dia?'Kemudian Allah menurunkan ayat 54 surah an- Nisaa'.

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Ayat-ayat di atas mengandung beberapa aturan hukum:

1. Larangan menganggap diri sendiri sebagai orang yang suci. Sesungguhnya orang yang menganggap dirinya suci berarti dia tidak mengetahui derajat diri yang sebenarnya. Anggapan seseorang atas kesucian dirinya tidak bisa dibenarkan. _Tazkiyyah_ (menilai kesucian orang) hanyalah milik Allah. Pada ayat lain, Allah dengan tegas melarang perbuatan ini, yaitu dalam ayat:

_"Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa."_ *(an-Najm: 32)*

Rasulullah saw. juga melarang perbuatan tersebut. Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa Muhammad bin Amr bin Atha berkata, "Saya menamai anakku dengan Barrah." Kemudian Zainab binti Salmah berkata kepadaku, "Sesungguhnya Rasulullah saw. melarang menggunakan nama tersebut." Kemudian *Rasulullah saw. bersabda:* 

_"Janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Allah lebih mengetahui siapa orang yang baik daripada kalian." Kemudian orang orang bertanya, "Lalu anak tersebut kami beri nama apa?" Rasul menjawab, "Namailah dia dengan Zainab."_ *(HR Muslim)*

Nabi juga melarang memuji seseorang secara keterlaluan hingga mengatakan hal yang sebenarnya tidak ada faktanya, karena sikap seperti ini dapat menyebabkan orang yang dipuji tersebut merasa bangga dan sombong dengan pujian yang sebenarnya tidak ada buktinya, sehingga orang tersebut mengabaikan amal kebajikan dan tidak dapat memperoleh tambahan anugerah.

Dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa Abu Bakrah berkata, 'Ada orang yang sedang dibincangkan di hadapan Rasulullah. Orang tersebut dipuji-puji oleh seseorang yang ada di situ. Lalu Nabi bersabda, _Ah...kamu telah memotong leher sahabatmu,_ -Rasul mengucapkan kalimat ini berulang kali- jika kalian memang mau memuji seseorang, hendaklah berkata,'saya menilai dia begini atau begitu' jika kalian memang melihat sifat baik itu ada pada dirinya, dan yang menilai nantinya adalah Allah. Janganlah seseorang menganggap suci orang lain dan mendahului keputusan Allah."'Dalam hadits lain disebutkan bahwa Rasul bersabda,_'Kamu telah mematahkan punggungnya.'_ Karena pujian tersebut tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.

Oleh sebab kata (الْمَدَّاحِينَ) yang terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh *Imam at-Tirmidzi* dari *Abu Hurairah*, yaitu ("احْثُوا فِي وُجُوهِ الْمَدَّاحِينَ التُّرَابَ") yang arti harfiahnya adalah "tebarkanlah debu ke muka orang yang suka memuji" diartikan oleh para ulama dengan orang-orang yang suka memuji orang lain dengan pujian yang batil dan tidak sesuai dengan kenyataan sehingga dapat membahayakan hati dan sikap orang yang dipuji.

Memuji seseorang karena memang dia berperangai baik dan berakhlak terpuji, dengan maksud supaya dapat dijadikan contoh oleh yang lain, tidak termasuk dalam larangan hadits di atas, meskipun pujian itu diuraikan dengan kata-kata yang indah. Namun semuanya dikembalikan kepada niat orang yang memuji tersebut dan *Allah telah berfirman*:

_"Allah mengetahui orang yang berbuat kerusakan dan yang berbuat kebaikan."_ *(al-Baqarah: 220)*

Rasul sendiri banyak dipuji para sahabat dalam bentuk sya'ir, khutbah dan juga perbincangan biasa, namun beliau tidak menaburi muka orang yang memujinya itu dengan debu dan juga tidak menyuruh orang lain melakukan itu. Contohnya adalah syair yang diucapkan oleh *Abu Thalib*:

وَجْهٌ أَبْيَضُ يُسْتَسْقَى بِالْغَمَامِ، يُطْعِمُ الْيَتِيمَ وَيَعُولُ الْأَرْمَلَةَ

_"Wajah putih yang menjadi sumber air bagi awan, penolong anak-anak yatim dan pelindung janda-janda"._

Syair-syair al-Abbas dan Hassan bin Tsabit juga penuh dengan pujian kepada beliau, begitu juga dengan Ka'b bin Zuhair. Rasul juga pernah memuji para sahabatnya dengan berkata:

_"Sesungguhnya kalian menjadi sedikit (lemah) ketika tamak, dan menjadi banyak (kuat) ketika dalam keadaan takut penuh harap!'_

Adapun maksud *sabda Rasul:*

_"Janganlah kalian menyanjung-nyanjung diriku seperti orang Nasrani menyanjung-nyanjung Isa bin Maryam. Panggillah aku dengan hamba Allah (Abdullah) dan utusanNya (Rasulullah)."_

Adalah janganlah kalian menyifati aku dengan sifat-sifat yang aku tidak memilikinya, seperti orang-orang Nasrani yang menyifati Nabi Isa dengan sifat yang tidak layak baginya hingga mereka menganggapnya sebagai anak Allah, sehingga mereka termasuk orang-orang yang kafir dan sesat. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa pujian yang keterlaluan dapat menyebabkan dosa.

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login