SURAH AN-NISAA': 36-39

AN-NISAA' (33)

AN-NISAA': 36-39

AKHLAK AJARAN AL-QUR'AN: HANYA MENYEMBAH ALLAH, BERBUAT BAIK KEPADA KEDUA ORANG TUA, KERABAT DAN TETANGGA, SERTA LARANGAN _RIYA_ KETIKA BERINFAK

SEBAB TURUNNYA AYAT

*Ibnu Abi Hatim* meriwayatkan bahwa *Sa'id bin Jabir* berkata, "Orang-orang alim di kalangan Bani Isra'il sangat bakhil dalam mengajarkan ilmu kepada orang lain, kemudian Allah menurunkan ayat (ٱلَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلْبُخْلِ)

*Ibnu Abbas* juga menceritakan bahwa suatu hari segolongan orang Yahudi menemui sahabat-sahabat Rasulullah saw.. Mereka menggoda sahabat Rasul supaya tidak menafkahkan hartanya untuk kepentingan agama, mereka juga menakut-nakuti sahabat rasul dengan kefakiran jika masih terus menafkahkan harta untuk perjuangan agama. Kemudian para sahabat Nabi berkata kepada mereka, "Kalian tidak mengetahui apa yang akan terjadi." Dan lalu Allah menurunkan ayat (ٱلَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلْبُخْلِ)

Sebagian besar ahli tafsir mengatakan bahwa ayat (ٱلَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلْبُخْلِ) ini turun berkenaan dengan sikap orang Yahudi yang menutup-nutupi sifat kenabian Muhammad yang mereka ketahui dalam kitab agama mereka. Mereka tidak mau menerangkan sifat-sifat tersebut kepada khalayak ramai.

*Imam al-Kalabi* berkata, "Mereka adalah orang Yahudi yang bakhil sehingga mereka tidak mau membenarkan sifat-sifat kenabian yang dimiliki oleh Nabi Muhammad padahal sifat-sifat tersebut ada dalam kitab suci agama mereka."

*Imam Mujahid* berkata, "Tiga ayat (37, 38, dan 39) hingga firman Allah (عَلِيمًا ) turun berkenaan dengan sikap orang Yahudi."

*Ibnu Abbas dan Ibnu Zaid* mengatakan bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan sekelompok orang Yahudi yang mendatangi orang-orang Anshar dan berkata kepada mereka, "Janganlah kalian menginfakkan harta-harta kalian karena kami khawatir kalian akan menjadi fakir". Kemudian Allah SWT menurunkan ayat (ٱلَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلْبُخْلِ).

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Ayat-ayat ini mengandung beberapa aturan tentang cara berinteraksi dengan Allah dan manusia. Semua aturan tersebut adalah aturan yang terus berlaku dan tidak ada yang dihapus. Semua aturan tersebut juga diterangkan dalam setiap kitab-kitab samawi. Kalau seandainya kitab-kitab tersebut tidak menyebutnya, secara otomatis akal akan mengetahui hukum-hukumnya.

Rangkaian ayat ini diawali dengan perintah Allah kepada hamba-hamba-Nya untuk selalu berserah diri dan ikhlas ketika beribadah. Arti ibadah yang sebenarnya adalah mengikhlaskan amal perbuatan hanya kepada Allah SWT dan menjauhkannya dari niat-niat kotor seperti _riya_ atau yang lain. *Allah SWT berfirman:*

_"Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya."_ *(al-Kahf: 110)*

Ayat ini juga melarang perbuatan syirik yang merupakan kebalikan tauhid. Menurut ulama, syirik ada tiga macam dan ketiga-tiganya adalah haram.

1. Meyakini selain Allah sebagai Tuhan. Ini adalah jenis kemusyrikan yang paling berat dan yang dilakukan oleh orang Jahiliyyah. Kemusyrikan jenis ini adalah yang dimaksudkan dalam firman Allah SWT:

_"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki."_ *(an-Nisaa': 48)*

2. Meyakini bahwa zat selain Allah mempunyai kuasa untuk mewujudkan sesuatu, meskipun tidak meyakini ketuhanannya. Seperti doktrin dalam aliran Qadariyah, yang secara jelas ditolak oleh Ibnu Umar.

3. Menyekutukan Allah ketika beribadah. Inilah yang dinamakan dengan riya. Yaitu ketika seorang hamba melakukan amal ibadah yang diperintahkan Allah tidak ikhlas karena Allah, melainkan karena manusia. Banyak ayat dan hadits yang melarang bentuk syirik jenis ini. _Riya_ dapat membatalkan amal ibadah, ia sangat samar dan tidak diketahui oleh orang-orang yang bodoh. *Ibnu Majah* meriwayatkan dari *Abu Sa'id bin Abi Fadhalah al-Anshari* yang mengatakan bahwa *Rasulullah saw. bersabda:*

_"Ketika Allah mengumpulkan orang-orang terdahulu dan orang-orang terkemudian di hari Kiamat, maka mereka akan diseru,'barangsiapa menyekutukan amalnya kepada selain Allah, maka hendaknya orang itu menuntut pahalanya kepada selain Allah. Sesungguhnya Allah adalah zat yang sangat tidak membutuhkan sekutu"_ *(HR Ibnu Majah)*

Ayat-ayat di atas juga memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, kerabat, anak yatim, fakir miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, kawan dalam waktu tertentu seperti kawan seperjalanan atau kawan dalam satu majelis. Kita juga diperintahkan untuk berbuat baik kepada para musafir dan hamba sahaya. 

Ayat-ayat di atas juga melarang kita bersikap _takabbur_ atau sombong yang diistilahkan dengan _al-mukhtal_ dan _al-fakhur_. Yang dimaksud dengan _al-mukhtal_ adalah orang yang congkak dan sombong, sedangkan _al-fakhur_ adalah orang yang suka menceritakan dirinya dengan perasaan sombong. Allah secara khusus menyebut dua sikap tersebut dalam ayat ini karena kedua sikap tersebut dapat menyebabkan seseorang bersikap angkuh dan congkak di hadapan orang-orang fakir dari kalangan kerabat, tetangga atau orang-orang yang disebut dalam ayat sebelumnya.

Apabila hal ini terjadi, orang tersebut berarti mengabaikan perintah Allah SWT. Allah juga menerangkan sifat-sifat orang sombong tersebut, yang paling buruk adalah sifat bakhil dan membujuk orang lain untuk bakhil. Yang dimaksud adalah tidak mau melakukan apa yang diwajibkan oleh Allah SWT, sebagaimana yang diterangkan dalam *firman Allah SWT:*

_"Dan jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya, mengira bahwa (kikir) itu baik bagi mereka."_ *(Ali 'Imraan: 180)*

Menurut *Ibnu Abbas* dan juga yang lain, orang yang disinggung dalam ayat yang kita bahas ini adalah kaum Yahudi karena mereka telah menggabungkan beberapa sikap, yaitu sombong, bakhil tidak mau menafkahkan harta dan menutup-nutupi ajaran Taurat yang menerangkan sifat Nabi Muhammad saw.

Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang sombong, dan Dia akan membalasnya dengan adzab yang menghinakan. *Imam al-Qurthubi* berpendapat bahwa balasan orang beriman yang bakhil adalah tidak dicintai Allah, sedangkan balasan untuk orang kafir yang bakhil adalah adzab yang menghinakan. Termasuk orang yang sombong adalah orang yang menafkahkan hartanya dengan niat _riya_. Mayoritas ulama mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang munafik, karena dalam ayat tersebut ada kata _riya_ dan _riya_ merupakan perbuatan orang munafik. Sedekah atau nafkah yang dilakukan dengan niat _riya_ tidak akan diterima, karena *Allah SWT berfirman:*

_"Katakanlah (Muhammad), "Infakkanlah hartamu baik dengan sukarela maupun dengan terpaksa, namun (infakmu) tidak akan diterima. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang fasik."_ *(at-Taubah: 53)*

Kemudian Allah SWT mengarahkan orang-orang yang berinfak supaya meninggalkan sikap riya dan supaya meniti jalan yang lebih maslahat yaitu berinfak dengan penuh keimanan kepada Allah dan hari akhir. Sesungguhnya Allah SWT mengetahui segala sesuatu, termasuk tingkah laku dan gerak-gerik manusia dan Allah akan membalas semua perbuatan mereka.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login