SURAH ALI 'IMRAN 121-129 BAGIAN 3

ALI 'IMRAN (39)

ALI 'IMRAN 121-129

PERANG UHUD

PENGORGANISASIAN PASUKAN ISLAM DAN MENGINGATKAN KEMBALI KEPADA KEMENANGAN PADA PERANG BADAR

[Bagian 3/3]

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Inti dari apa yang ditunjukkan oleh ayat-ayat ini adalah seperti berikut:

1. Manusia dalam segala hal mutlak harus melakukan ikhtiar dan usaha serta menjalankan kewajiban dan tugas-tugas yang memang sudah menjadi sebuah keharusan bagi mereka (_al-Akhdzu bil asbaab_), baik dalam keadaan aman maupun ketika dalam keadaan perang. Di antaranya adalah mempersiapkan kekuatan, memobilisasi pasukan dan mengatur barisan prajurit.

2. Di antara hal yang masuk kategori _al-Akhdzu bil asbaab_ adalah taat kepada perintah-perintah Allah SWT dan patuh kepada pemimpin. Pada perang Badar, kaum Muslimin telah berhasil meraih kemenangan yang gemilang dan Allah SWT benar-benar menurunkan pasukan bantuan berupa pasukan malaikat dan ikut berperang bersama mereka secara langsung. Kemenangan ini berhasil mereka raih karena mereka bersabar, tabah, bertakwa dan taat kepada Allah SWT. Sedangkan pada perang Uhud, mereka mengalami sebaliknya, yaitu kekalahan, dikarenakan mereka melanggar instruksi pimpinan tertinggi mereka, Rasulullah saw. dan meninggalkan posisi mereka semula di atas bukit ar-Rumaah. Hal ini menjadi sebuah bukti nyata akan pengaruh ketakwaan dan kesabaran pada perang Badar dan Uhud, seperti halnya ketakwaan dan kesabaran juga memiliki dampak terhadap bentuk interaksi dengan pihak musuh. Seandainya mereka bersabar dan bertakwa, maka tipu daya dan makar para musuh sedikit pun tidak akan menimbulkan dampak negatif terhadap mereka, seperti yang dijelaskan oleh *ayat 120 surah Ali 'Imran.*

3. Peraihan kemenangan digantungkan kepada kesediaan untuk menolong Allah SWT dan menolong agama-Nya. Terealisasikannya hasil yang diinginkan tidak lain berada di dalam genggaman Allah SWT. Semua perkara tidak lain adalah milik Allah SWT. Kepunyaan Allah SWT apa yang ada di langit dan yang ada di bumi. 

Adapun kandungan ayat-ayat ini secara terperinci dan kejadian-kejadian terpenting yang mengiringi kejadian perang Badar dan Uhud adalah seperti berikut.

Seorang panglima perang mutlak harus membuat strategi perang yang akan diterjuninya, mengatur dan mengorganisir barisan serta posisi masing-masing pasukan yang ada dengan baik, cermat dan tepat. Hal ini telah dipraktekkan langsung oleh Rasulullah saw. dalam kapasitas beliau sebagai seorang panglima perang pada perang Uhud, seperti
yang diisyaratkan oleh ayat 121. Sesungguhnya kebenaran dan kesungguhan iman serta keikhlasan para pejuang adalah dua faktor yang mampu menjaga diri dari was-was, niat yang tidak baik dan bisikan-bisikan jiwa, seperti yang dialami oleh bani Salimah dari Aus dan bani Haritsah dari Khazraj yang keduanya berasal dari kaum Anshar. Mereka dilindungi Allah SWT dari sikap mundur dari peperangan. Keinginan mereka ini karena terpengaruh dengan sikap orang-orang munafik yang kembali pulang ke Madinah dan tidak bersedia ikut berperang.

Jumlah peperangan yang diikuti oleh Rasulullah saw. secara langsung adalah sebanyak sembilan peperangan, di antaranya adalah perang Uhud. Pada perang Uhud, beliau mengalami luka pada wajah beliau, gigi kanan bawah bagian depan beliau retak dan topi baja yang beliau kenakan pecah. Orang yang melukai wajah beliau adalah Amr bin Qami'ah al-Laitsi, sedangkan yang melukai bibir dan meretakkan gigi beliau adalah Utbah bin Abi Waqqash.

Di antara bencana perang Uhud adalah syahidnya pimpinan para syuhada, Hamzah r.a., paman Rasulullah saw.. Ia dibunuh oleh Wahsyi, seorang budak milik Jubair bin Muth'im. Sebelumnya, Jubair bin Muth'im pernah berkata kepadanya, "Jika kamu berhasil membunuh Muhammad, maka kami akan memberi kamu hadiah berupa tali-tali kendali unta.

Jika kamu berhasil membunuh Ali bin Abi Thalib, maka kami akan memberimu hadiah 100 unta yang bermata hitam dan jika kamu berhasil membunuh Hamzah, maka kamu bebas." Lalu Wahsyi berkata, "Adapun Muhammad, maka ia memiliki penjagaan dari Allah SWT sehingga tidak akan ada seorang pun yang mampu untuk membunuhnya. Sedangkan Ali, tidak ada seorang pun yang berani lawan tanding dengannya, kecuali Ali pasti membunuhnya. Sedangkan Hamzah, ia adalah seorang pemberani, mungkin nanti kalau saya melihatnya, maka mungkin saya bisa membunuhnya."

Hindun, setiap melihat Wahsyi bersiap siaga atau sedang lewat di dekatnya, maka ia berkata kepadanya, "Hai Abu Dasamah, penuhilah balas dendammu dan balas dendam kami." Kemudian Wahsyi bersembunyi di belakang sebuah batu besar; sedangkan waktu itu, Hamzah tampak sedang menyerang sekelompok orang-orang musyrik. Lalu setelah selesai dari penyerangannya tersebut, ia kembali dan lewat di dekat persembunyian Wahsyi. Ketika itu, Wahsyi langsung melemparkan tombak pendek ke arah Hamzah dan tepat mengenai sasaran, sehingga Hamzah pun terjatuh dan syahid. Semoga Allah SWT meridhai dan merahmatinya. Ibnu Ishaq berkata, "Lalu setelah itu, Hindun menyobek perut Hamzah dan mengambil organ hatinya, lalu dengan suara lantang, ia mengucapkan bait-bait syair yang di antara permulaan syair tersebut adalah seperti berikut:

"Kami telah membalas kalian atas kekalahan kami pada perang Badar. Sebuah peperangan setelah peperangan mengandung hawa panas."

"Saya tidak sabar atas kematian 'Utbah, saudara laki-lakiku, pamannya dan Bakar."

Ayat (وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ) _(dan hanya kepada Allah SWT lah hendaknya orang-orang Mukmin bertawakal)_ mengandung petunjuk bahwa tawakal kepada Allah SWT termasuk bagian dari iman. Tawakal menurut bahasa artinya adalah menampakkan kelemahan dan kebergantungannya kepada orang lain. Sedangkan menurut syara', maka yang dimaksud bukanlah meninggalkan usaha dan ikhtiar seperti yang dipahami secara keliru oleh sebagian kelompok. Akan tetapi yang dimaksud dengan tawakal adalah percaya kepada Allah SWT, yakin bahwa apa yang telah ditetapkan-Nya pasti berlaku dan mengikuti apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw berupa melakukan usaha dan ikhtiar di dalam hal-hal yang memang digantungkan kepada sebab, seperti dalam hal makan, minum, menjaga diri dari ancaman musuh, mempersiapkan perlengkapan persenjataan dan mengikuti sunnatullah atau hukum alam yang berlaku." Imam ath-Thabari dan Baihaqi meriwayatkan dari Ibnu Umar sebuah hadits dha'iif bahwa Rasulullah saw. bersabda:

_"Sesungguhnya Allah SWT mencintai seseorang hamba Mukmin yang berusaha dan bekerja."_

Ayat 123 sampai dengan 125 mengandung petunjuk bahwa Allah SWT menolong dan memenangkan orang-orang Mukmin pada perang Badar yang merupakan kontak senjata yang terjadi pertama kali antara kaum Mukminin dan kaum musyrik. Pada perang Badan Allah SWT memisahkan dan membedakan antara yang hak dan yang batil, oleh karena itu, Allah SWT menyebut perang Badar dengan sebutan, _"Yaumul furqaan."_.  Perang Badar merupakan sebuah pertempuran penentu yang memiliki pengaruh jangka panjang di dalam sejarah manusia. Pada perang Badar Allah SWT mengirimkan bantuan
kepada kaum Mukminin berupa pasukan malaikat yang selanjutnya menjadi salah satu sebab kemenangan kaum Mukminin, agar hati mereka tenang, hanya bergantung dan percaya kepada Allah SWT dan agar mereka mau menunaikan apa yang diperintahkan kepada mereka berupa perintah _al-Akhdzu bil asbaab_ (usaha dan ikhtiar) sebagai sunnatullah yang berlaku,

_"dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah."_ *(al-Ahzaab: 62)*

Namun pada hakikatnya, yang menolong dan memenangkan tidak lain adalah hanya Allah SWT baik melalui adanya sebab atau pun tidak.

_"Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia."_ *(Yaasiin: 82)*

Adapun kata, _"musawwimiin,"_ dengan _wawu_ dibaca _kasrah_ adalah _ismu faa'il_ yang artinya adalah bahwa mereka, para malaikat tersebut menggunakan tanda pengenal untuk diri mereka dan untuk kuda yang mereka naiki. Ada banyak ulama tafsir mengatakan bahwa arti kata ini adalah mereka melarikan kudakuda mereka di dalam penyerangan. Adapun jika _wawu_ dibaca _fathah_ (_musawwamiin_), maka artinya adalah mereka diberi tanda pengenal.

Berdasarkan bacaan yang pertama (_musawwimiin_), dengan _wawu_ dibaca _kasrah_, para ulama berbeda pendapat tentang bentuk tanda pengenal para malaikat tersebut.

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas r.a. dan yang lainnya bahwa para malaikat tersebut mengenakan serban berwarna putih yang mereka letakkan di antara kedua bahu. Riwayat ini disebutkan oleh Baihaqi dari Ibnu Abbas r.a. dan diceritakan oleh al-Mahdawi dari az-Zajjaj. Ar Rabi' berkata, "Tanda pengenal para malaikat tersebut adalah bahwa mereka menaiki kuda yang memiliki dua warna, hitam dan putih.

Hal ini mengandung sebuah anjuran untuk mengenakan tanda pengenal atau ciri khusus bagi setiap kabilah dan setiap kelompok pasukan atau resimen. Tanda pengenal tersebut dibuat oleh pemerintah, hal ini bertujuan agar setiap kabilah atau kelompok pasukan bisa diketahui dan dibedakan dari yang lainnya ketika dalam perang.

Sesungguhnya bantuan yang diberikan kepada kaum Mukminin pada perang Badar berupa pasukan malaikat adalah benar benar bantuan secara nyata atau riil, bukan hanya bersifat maknawi. Hal ini berdasarkan riwayat-riwayat hadits yang shahih. Bantuan tersebut dijadikan oleh Allah SWT untuk menjadi penggembira bagi kaum Mukminin berupa kemenangan, untuk menenangkan dan menenteramkan jiwa mereka serta untuk membinasakan para musuh mereka. Kemenangan yang hakiki baik dengan adanya sebab atau tidak semuanya berasal dari Allah SWT Dzat Yang Maha Kuat, Mengalahkan dan Memiliki hikmah di dalam semua ciptaan dan pengaturan-Nya, Dzat Yang mengatur segala sesuatu sesuai dengan hikmah dengan cara meletakkan setiap sesuatu pada posisinya yang pas dan sesuai.

Sesungguhnya luka yang dialami Rasulullah saw. pada perang Uhud merupakan sebuah kejadian yang menimbulkan efek dan pengaruh besar baik pada diri Rasulullah saw sendiri maupun pada diri kaum Mukminin.  Oleh karena itu, seperti yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah saw mengusap luka yang beliau alami seraya berkata,

 _"Bagaimana akan selamat sebuah kaum yang melukai kepala Nabi mereka dan meretakkan gigi bagian depannya padahal ia mengajak mereka kepada Tuhan mereka." Lalu Allah SWT menurunkan ayat 128 surah Ali 'Imran." Adh-Dhahhak berkata, "Rasulullah saw ingin mendoakan tidak baik (melaknati) kaum musyrik, lalu Allah SWT menurunkan ayat 128 surah Ali 'Imran ini."_

Dikatakan bahwa Rasulullah saw. meminta izin untuk mendoakan kaum musyrik agar mereka dimusnahkan. Namun ketika ayat ini turun, maka beliau menyadari bahwa di antara mereka nantinya akan ada yang masuk Islam. Dan memang benar; banyak di antara mereka yang selanjutnya masuk Islam, seperti Khalid bin Walid, Amr bin Ash, 'Ikrimah bin Abu Jahal dan yang lainnya.

Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Umar r.a., ia berkata, "Rasulullah saw. pernah mendoakan tidak baik atas empat kelompok, lalu Allah SWT menurunkan ayat 128 ini, lalu Allah SWT pun memberi mereka petunjuk kepada Islam". Imam Tirmidzi mengatakan bahwa riwayat ini adalah riwayat hasan ghariib shahiih. Namun bagaimana pun yang penting adalah bahwa ayat 128 surah Ali 'Imran ini merupakan sebuah bukti nyata bahwa Al-Qur'an benar-benar berasal dari sisi Allah SWT.. Ayat ini memberikan penegasan kepada Rasulullah saw bahwa segala perkara dan segala sesuatu adalah hak Allah SWT baik apakah beliau mendoakan tidak baik atas kaum musyrik atau tidak.

Berdasarkan riwayat yang menjelaskan tentang doa tidak baik yang dipanjatkan oleh Rasulullah saw ketika beliau menunaikan shalat subuh, terjadi perbedaan pendapat di antara ulama seputar masalah doa qunut pada shalat subuh atau shalat yang lainnya.

Ulama Kufah (madzhab Hanafi dan Hanbali) berpendapat tidak ada doa qunut di dalam shalat. Pendapat ini didasarkan pada riwayat yang terdapat di dalam kitab al-Muwaththa' dari Ibnu Umar r.a.,

"Rasulullah saw. tidak membaca doa qunut di dalam shalat apa pun."

Juga berdasarkan riwayat An-Nasa'i yang intinya adalah bahwa Rasulullah saw. dan Khulafaa'urraasyidiin tidak membaca doa qunut di dalam shalat.

Sedangkan ulama Hijaz (madzhab Syafi'i dan Maliki) memperbolehkan membaca doa qunut. Hanya saja menurut madzhab Maliki, yang lebih utama doa qunut dibaca sebelum ruku', sedangkan madzhab Syafi'i berpendapat sebaliknya, yaitu doa qunut dibaca setelah ruku'. Pendapat ini didasarkan pada riwayat Daaruquthni dengan sanad shahih dari Anas, ia berkata:

"Rasulullah saw. selalu membaca doa qunut di dalam shalat subuh hingga beliau wafat."

Abu Dawud di dalam al-Maraasiil, meriwayatkan dari Khalid bin Abi 'Imran bahwa malaikat Jibril mengajarkan doa qunut kepada Rasulullah saw. doa tersebut adalah doa Umar:

..... اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِينُكَ وَنَسْتَهْدِيكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَنَتُوبُ إِلَيْكَ

_"Ya Allah, kami meminta pertolongan kepadaMu, meminta petunjuk kepada-Mu, meminta ampunan kepada-Mu dan kami bertobat kepada Mu"_ dan seterusnya.

*Imam Baihaqi* meriwayatkan bacaan doa qunut seperti berikut,

..... اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ

_"Ya Allah, berilah hamba petunjuk Bersama orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk,"_ dan seterusnya.====

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login