SURAH ALI 'IMRAN 121-129 BAGIAN 2

ALI 'IMRAN (38)

ALI 'IMRAN 121-129

PERANG UHUD

PENGORGANISASIAN PASUKAN ISLAM DAN MENGINGATKAN KEMBALI KEPADA KEMENANGAN PADA PERANG BADAR

[Bagian 2/3]

*PETIKAN KISAH TENTANG PERANG BADAR DAN UHUD*

*2. Perang Uhud*
Kekalahan telak kaum kafir pada perang Badar membuat kebencian mereka kepada kaum Muslimin semakin memuncak. Lalu salah seorang pemuka kaum Quraisy, Abu Sufyan berusaha mengagitasi dan memprovokasi orang-orang musyrik untuk melakukan perlawanan dan mengobarkan perang terhadap Rasulullah saw. Kemudian mereka mulai melakukan mobilisasi kekuatan dengan mengumpukan harta serta membentuk pasukan yang berjumlah tiga ribu personil. Di antara mereka terdapat 700 personil yang mengenakan baju besi dan 200 tentara berkuda yang di antaranya adalah prajurit berkuda yang terkenal, yaitu Shafwan bin Umayyah.

Sedangkan di pihak umat Islam, Rasulullah saw. langsung mengumpulkan para sahabat untuk meminta pendapat mereka. Lalu para sahabat yang terdiri dari kalangan tua, termasuk pimpinan orang-orang munafik, Abdullah bin Ubai bin Salul mengusulkan untuk tetap tinggal di dalam kota Madinah dan melawan pihak musuh di jalan-jalan kota Madinah. Dan memang waktu itu, Rasulullah saw. juga memiliki pandangan untuk tidak keluar dari dalam kota Madinah. Namun para sahabat dari kalangan muda, termasuk di antara mereka adalah orang-orang yang tidak ikut dalam perang Badar mengusulkan untuk keluar menjemput pasukan musuh di luar kota Madinah. Mereka berkata, "Wahai Rasulullah, bawa kami pergi keluar menjemput musuh, agar mereka tidak menuduh bahwa kita lemah dan takut kepada mereka."

Mereka pun terus mencoba mendesak Rasulullah saw. untuk keluar hingga akhirnya mereka pun berhasil. Lalu Rasulullah saw akhirnya mengambil pendapat mayoritas  waktu itu yang mengusulkan untuk keluar, lalu beliau pun masukke dalam rumah beliau untuk mempersiapkan diri. Melihat hal tersebut, kalangan sahabat yang mengusulkan untuk pergi keluar merasa menyesal, lalu mereka berkata kepada Rasulullah saw. "Wahai Rasulullah, apakah kami telah memaksamu? Padahal kami dilarang untuk memaksamu. Wahai Rasulullah, jika ingin, maka tetaplah baginda duduk dan membatalkan niat untuk pergi, semoga Allah SWT mencurahkan shalawat kepadamu." Lalu beliau berkata, "Tidak pantas bagi seorang Nabi meletakkan pakaian besi yang telah ia kenakan demi umatnya sampai ia benar-benar harus berperang."

Singkat cerita, Rasulullah saw. pun pergi keluar untuk menjemput musuh dengan membawa pasukan berjumlah seribu personil atau seribu kurang lima puluh. Di antara mereka hanya ada 100 personil yang mengenakan pakaian besi dan hanya ada dua personil berkuda saja.

Pada hari Sabtu tanggal tujuh Syawal tahun ketiga Hijriyah, Rasulullah saw. bersama pasukan Islam sampai di sebuah jalan di bukti Uhud yang terletak sekitar tiga kilometer utara kota Madinah, lalu beliau mengatur barisan pasukan dan menempatkan 50 pasukan pemanah yang dipimpin oleh *Abdullah bin Jubair* di atas sebuah bukit dan memberikan instruksi kepada mereka, "Lindungilah kami dengan anak panah kalian, jangan sampai musuh menyerang kami dari belakang. Sekali-kali jangan sampai kalian meninggalkan posisi kalian, baik ketika kami terdesak kalah maupun menang." Di dalam sirah Ibnu Hisyam disebutkan, bahwa beliau memberi instruksi kepada pasukan pemanah seperti berikut, "Lindungilah kami dari tentara berkuda musuh dengan anak panah kalian, baik ketika kami menang atau terdesak kalah, jangan sampai mereka menyerang kami dari belakang." Di dalam _"Zaadul Ma'aad,"_ disebutkan bahwa Rasulullah saw. memberi instruksi kepada pasukan pemanah agar mereka tetap di posisi mereka, jangan sampai meninggalkannya meskipun mereka melihat kematian menyambar banyak pasukan.

Bendera perang pasukan Islam waktu itu dipegang oleh *Mush'ab bin Umair* sayap kanan dan sayap kiri masing-masing dikomandoi oleh *Zubair bin al-Awwam dan al-Mundzir bin Amr*.

Sedangkan kedua sayap pasukan musuh masing-masing dipimpin oleh *Khalid bin Walid dan Ikrimah bin Abu Jahal*, adapun bendera perang mereka dibawa oleh *Thalhah bin Abi Thalhah* dari bani Abdud Dar. Sedangkan pasukan pemanah mereka yang berjumlah 100 personil dipimpin oleh *Abdullah bin Abi Rabi'ah*.

Waktu itu, pimpinan kaum munafik, *Abdullah bin Ubai bin Salul* bersama teman-temannya memilih kembali pulang sambil berkata, "Apakah ia -Muhammad- tidak menerima pendapat kami dan lebih memilih pendapat anak-anak kecil." Tentang sikapnya ini, *Allah SWT berfirman:*

_"Mereka berkata: "Sekiranya kami (orang-orang munafik) mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu"_ *(Ali'Imran: 167)*

Sikap Abdullah bin Ubai dan para sahabatnya ini hampir saja mampu mematahkan semangat juang bani Salimah dan bani Haritsah, sehingga mereka hampir saja mengurungkan niat untuk ikut pergi ke Uhud. Namun akhirnya Allah SWT meneguhkan hati mereka sehingga mereka pun akhirnya ikut keluar ke Uhud. Ini adalah maksud ayat:

_"Ketika dua golongan dari padamu (bani Salimah dan bani Haritsah) ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal."_ *(Ali 'Imran: 122)*

Sehingga dengan mundurnya orang-orang munafik dari barisan pasukan Islam, maka jumlah personil Islam yang tersisa hanya tinggal 700 personil.

Ketika pasukan kedua belah pihak sudah bertemu dan berhadap-hadapan, Hindun binti Utbah istri Abu Sufyan bersama kaum wanita musyrik lainnya tampak sedang menabuh rebana sambil berjalan di belakang barisan pasukan. Di antara personil waktu itu adalah Abu Dujanah, ia adalah orang yang mendapatkan pedang dari Rasulullah saw dan berjanji kepada beliau bahwa ia akan menggunakan pedang tersebut dengan semestinya dan dengan sebenar-benarnya, sehingga ia tidak bertemu dengan tentara musuh kecuali ia bunuh. Sayyidina Hamzah bin Abdul Muththalib tampak berperang dengan gigih dan gagah berani, banyak tentara musuh yang berhasil ia bunuh.

Kemudian ketika Mush'ab bin Umair terbunuh, maka selanjutnya, Rasulullah saw. menyerahkan bendera perang kepada Ali bin Abi Thalib. Wahsyi, sahaya Jubair bin Muth'im berhasil membunuh sayyidina Hamzah bin Abdul Muththalib dengan sebilah bayonet yang ia tusukkan ke tubuh sayyidina Hamzah hingga akhirnya ia terjatuh dan syahid. Selanjutnya sayyidina Hamzah dikenal sebagai _sayyidusy syuhadaa_' (pimpinan orang-orang syahid).

Singkat cerita, angin kemenangan tampak mulai berpihak kepada kaum Muslimin. Kaum kafir tampak mulai kocar kacir dan melarikan diri, bendera perang mereka terjatuh dari tangan Thalhah. Lalu bendera tersebut langsung diambil alih oleh putranya, kemudian diambil alih lagi oleh saudara laki-lakinya. Hampir saja, kemenangan dapat diraih oleh kaum Muslimin, andai saja para pasukan pemanah yang diinstruksikan oleh Rasulullah saw. tetap berada pada posisi mereka, meski bagaimanapun keadaannya, andai saja mereka tidak melanggar instruksi beliau tersebut, yaitu meninggalkan posisi mereka dan tidak pergi ke bawah untuk mengumpulkan harta rampasan perang.

Salah satu panglima perang pihak musuh, Khalid bin Walid melihat kondisi tersebut, lalu ia pun tidak ingin menyia-nyiakan titik kelemahan pasukan Islam tersebut. Lalu Khalid bin Walid segera membawa pasukan berkudanya menyerang dan mengepung tentara Islam dari arah belakang dari atas bukit ar-Rumaah (bukit yang ditinggalkan oleh para pasukan pemanah Islam). Ia bersama pasukannya menyerang dan memporakporandakan barisan tentara Islam sambil menghembuskan isu bahwa Nabi Muhammad saw telah mati terbunuh. Kemudian tentara Islam mulai terdesak mundur dan tampak mulai berlarian. Pada keadaan yang sangat genting tersebut, Rasulullah saw. terluka terkena batu, gigi depan beliau retak, bibir dan kepala beliau yang mulia terluka sehingga darah mengucur di wajah beliau. Kedua lutut beliau juga terluka, lalu beliau tampak mengusap darah beliau seraya berkata:

كَيْفَ يُفْلِحُ قَوْمٌ خَضَبُوا وَجْهَ نَبِيِّهِمْ وَهُوَ يَدْعُوهُمْ إِلَى اللَّهِ؟

_"Bagaimana mungkin bisa selamat sebuah kaum yang mewarnai wajah Nabi mereka (dengan darah) padahal ia mengajak mereka kepada Tuhan mereka?!"_
 *(HR. Muslim no. 1791, Bukhari no. 4070, dan lainnya)*

Lalu Ali bin Abi Thalib meraih tangan beliau dan Thalhah mengangkat beliau hingga beliau mampu berdiri. Lalu Malik bin Sinan menghisap darah dari wajah beliau dengan mulutnya dan menelannya.

Kemudian Rasulullah saw. memanggil-manggil kaum Muslimin yang lain dan berkata, "Kemarilah wahai hamba-hamba Allah, aku adalah Rasulullah." Dalam hal ini, *Allah SWT berfirman:*

_"(Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorang pun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu, karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan."_ *(Ali 'Imran: 153)*

Kemudian Abu Sufyan berseru, "Wahai kaum Quraisy, siapakah di antara kalian yang telah berhasil membunuh Muhammad?" Lalu Umar bin Qami'ah berkata, "Saya yang telah membunuhnya." Waktu itu, Ka'b bin Malik adalah orang pertama yang menyampaikan berita gembira bahwa Nabi Muhammad saw. selamat dan belum terbunuh. Karena Allah SWT menyelamatkan beliau dari kejahatan orang-orang musyrik, _"Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia."_ *(al-Maa'idah: 67)*

Semasa hidup, Rasulullah saw tidak pernah sekali pun membunuh seseorang kecuali hanya *Ubai bin Khalaf* yang melakukan konspirasi untuk membunuh beliau. Dalam hal ini, *Allah SWT menurunkan ayat:*

_"Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."_ *(al-Anfaal: 17)*

Perang Uhud merupakan sebuah bencana yang dahsyat bagi kaum Muslimin, pada waktu itu, jumlah personil Islam yang mati syahid mencapai angka 70 orang, sedangkan dari pihak musuh, jumlah personil mereka yang terbunuh berjumlah 22 orang. Di tengah-tengah medan pertempuran, tampak jasad sayyidina Hamzah yang tergelatak syahid. Sebelumnya, Hindun binti Utbah telah membelah dada Hamzah, lalu mengambil organ hatinya dan memamahnya.

Sedangkan Abu Sufyan berteriak dengan suara lantang, "Perang telah menjadi imbang, kekalahan pada perang Badar telah terbayar dengan kemenangan hari ini. Tinggikanlah Hubal (salah satu berhala yang diletakkan di Ka'bah), maksudnya, menangkanlah agamamu." Lalu Rasulullah saw. membalas, "Allah SWT lebih Tinggi dan lebih Agung."
Kemudian tatkala Abu Sufyan dan orang-orang yang berada bersamanya beranjak pergi, maka ia berkata, "Kita bertemu kembali untuk berperang di Badar tahun depan." Lalu Rasulullah saw. berkata, "Katakan kepada mereka bahwa kita menerima tantangan mereka."

Kemudian Rasulullah saw. mencari pamannya, Hamzah, lalu beliau menemukannya dalam keadaan perutnya terobek dan hidung serta telinganya terpotong. Melihat kondisi jasad sang paman, Rasulullah saw. merasa sangat berduka dan berkata, "Sungguh, jika Allah SWT memenangkanku atas mereka, maka aku akan membalas dengan mencincang tubuh 30 orang -di dalam kitab sirah disebutkan 70 orang- dari mereka." Lalu beliau menutupi jasad sang paman dengan rida' beliau, lalu menshalati jenazahnya dan bertakbir sebanyak tujuh kali. Lalu meletakkan para personil lainnya yang syahid di samping jasad Hamzah lalu menshalati mereka sebanyak 72 kali shalatan. Kemudian jasad Hamzah dimakamkan dan memerintahkan kepada para sahabat agar menguburkan jasad para syuhada' lainnya, seraya berkata: "Kuburkanlah jasad para syuhada' di tempat di mana mereka syahid."

Sebab kekalahan kaum Muslimin pada perang Uhud adalah sikap pasukan pemanah yang melanggar instruksi Rasulullah saw karena tergiur keinginan untuk mengumpulkan harta rampasan perang.

Perang Uhud merupakan sebuah cobaan bagi kaum Muslimin, sebuah ajang ujian dan tarbiyah bagi mereka, sebuah pelajaran yang menyadarkan mereka bahwa kemenangan tergantung kepada usaha dan ikhtiar serta bahwa kekalahan tidak boleh menimbulkan kegoncangan dan keraguan di dalam keimanan dan akidah. Oleh karena itu, *Allah SWT berfirman:*

_"karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari pada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."_ *(Ali 'Imran: 153)*

Juga menjelaskan bahwa bencana sifatnya umum, tidak hanya menimpa sebagian individu saja, "_Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya."_ *(al-Anfaal: 25)*.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login