Surah al-Anbiyaa' Ayat 59-65

*AL-ANBIYA' (10)*
 
*KISAH NABI IBRAHIM A.S.*

*PERDEBATAN SENGIT ANTARA NABI IBRAHIM A.S. DENGAN KAUMNYA PASCA TRAGEDI PENGHANCURAN PATUNG-PATUNG*

*Surah al-Anbiyaa' Ayat 59-65*

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Kaum Nabi Ibrahim a.s. mengalami kepanikan saat melihat berhala-berhala mereka hancur berkeping-keping sekembalinya dari perayaan hari raya. Mereka pun berkata dengan nada mencari tahu, seperti yang direkam dalam ayat 59: *(مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ)*

Itu adalah sesuatu yang sudah bisa diduga dan telah diprediksikan sebelumnya oleh Nabi Ibrahim a.s..

Nabi Ibrahim a.s. juga telah memprediksikan bahwa mereka akan mengetahui dirinyalah tersangka utama penghancuran berhala-berhala tersebut. Sebab sebelumnya ia pernah melancarkan kecaman dan hujatan, membodohi mereka, mengkritik tajam terhadap penyembahan berhala yang tak bisa mendatangkan mudharat dan manfaat, serta seruannya untuk menyembah kepada Allah SWT, Yang Maha Esa Yang Kuasa memberi dan tidak memberi, Yang Kuasa menimpakan mudharat dan mendatangkan manfaat.

Ketika berita itu sampai ke telinga Namrudz dan para pemuka kaumnya, mereka ingin membuktikan tuduhan terhadap Nabi Ibrahim a.s. dengan saksi. Mereka pun berkata,

_"Hadirkan Ibrahim di hadapan masyarakat banyak supaya orang-orang memberikan kesaksian atas ucapan yang pernah ia katakan, dan menjadi hujjah atasnya."_

Di sini terkandung dalil bahwa seseorang tidak bisa dihukum hanya karena tuduhan seseorang. Seperti itulah aturan yang ada dalam syari'at kita dan di semua syari'at.

Akan tetapi, mereka tidak menyadari bahwa konfrontasi dengan Nabi Ibrahim a.s. di hadapan masyarakat umum justru tidak menguntungkan mereka. Sebab Nabi Ibrahim a.s. memiliki hujjah yang tak terbantahkan dan ia ingin membuka mata pikiran atas kesia-siaan penyembahan mereka, kurangnya akal mereka dan betapa sangat kebodohan mereka.

Lalu mereka bertanya siapakah pelaku perbuatan tersebut. Nabi Ibrahim a.s. pun menjawab bahwa pelakunya adalah berhala yang paling besar. Jawaban ini merupakan sindiran bahwa penyembahan kepada berhala adalah sebab kemarahan dan kegeramannya. Sekaligus ingin membuka kesadaran bahwa sesuatu yang tidak bisa bicara dan tidak tahu apa-apa tidak berhak untuk disembah. Jawaban Nabi Ibrahim a.s. ialah bentuk ungkapan _al-Mi'raadh_ (ungkapan yang menjadikan seseorang bisa terhindar dari berkata bohong). Rasulullah saw. dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Adiy dan al-Baihaqi dari Imran bin Husain -dan ini adalah hadits dhaif- bersabda:

*(إِنَّ فِيْ لَمَنْدُوْحَةً عَنِ الْكَذِبْ)*

_"Sesungguhnya pada bentuk ungkapan al-Maaaridh terdapat keluasan yang bisa menghindarkan dari berkata bohong."_ *(HR Ibnu Adiy dan al-Baihaqi)*

Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw bersabda:

*(لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَا م إِلَّا ثَلَا ثَ كَذَبَا تٍ ثِنْتَيْنِ مِنْهُنَّ فِيْ ذَا تِ اللَّهِ عَزَّ و جَلَّ قَوْلُهُ {بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا} وَقَوْلُهُ {إِنِّي سَقِيْمٌ} وَوَا حِدَةٌ فِي شَأْ نِ سَا رَّةَ إِذْ قَالَ لِسَا أُخْتِيْ)*

_"Sesungguhnya Ibrahim a.s. tidak pernah berbohong kecuali dalam tiga hal. Dua diantaranya terkait dengan Zat Allah SWT, yaitu perkataannya yang tertulis dalam QS. al-Anbiyaa' ayat 63, 'sebenarnya (patung) besar itu yang melakukannya,' dan dalam QS. ash-Shaafaat ayat 89,'sesungguhnya aku sakit.' Sedangkan yang satu lagi terkait dengan Sarah ketika lbrahim a.s. mengatakan bahwa Sarah adalah saudara perempuannya, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan."_ *(HR.Bukhari dan Muslim)*

Kemudian Nabi Ibrahim a.s. berkata:

_"Coba tanyakan kepada berhala-berhala itu jika memang mereka bisa bicara sebab mereka akan berkata jujur. Jika mereka tidak bisa bicara, berarti ia bukan pelakunya."_

Perkataan Nabi lbrahim a.s. ini mengandung pengakuan bahwa dirinyalah pelakunya. Nabi lbrahim a.s. berargumentasi dengan dua hal. _Pertama,_ tertulis dalam ayat *(بَلْ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمْ هَٰذَا)* karena orang besar sudah semestinya melindungi yang kecil atau karena berhala besar itu marah jika berhala-berhala kecil itu juga disembah sehingga ia menghancurkan berhala-berhala kecil itu. _Kedua,_ perkataannya yang direkam dalam ayat *(فَسْـَٔلُوهُمْ إِن كَانُوا۟ يَنطِقُونَ)* ini supaya mereka balik berkata bahwa berhala-berhala itu tidak bisa berbicara, tidak bisa memberikan manfaat dan mudharat. Oleh karena itu, Nabi lbrahim a.s. pun berkata kepada mereka, _"Lantas kenapa kalian menyembahnya?!"_ Perkataan itu menjadi senjata makan tuan dan membuat mereka tidak berkutik. Ketika Nabi Ibrahim a.s. berhasil memaksa mereka menerima hujjahnya yang tak terbantahkan, mereka pun mengakui bahwa mereka adalah orang-orang yang zalim dengan menyembah sesuatu yang tidak bisa berbicara dan tidak bisa berbuat untuk dirinya sendiri. Lantas bagaimana mungkin ia bisa memberikan manfaat para penyembahnya, bagaimana sesuatu yang tidak bisa menghalau kapak dari lehernya bisa menghalau kejelekan dari para penyembahnya?! Namun, akhirnya mereka kembali lagi kepada kebodohan dan keangkuhan mereka dan berkata seperti dalam ayat (لَقَدْ عَلِمْتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ). ====

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login