Surah al-Kahf Ayat 60-74

*AL-KAHF (10)*
 
*KISAH NABI MUSA DENGAN KHIDIR*

*Surah al-Kahf Ayat 60-74*

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Ini adalah perjalanan Musa bin Imran, seorang nabi Bani Isra’il, bersama pemuda yang membantunya, Yusa’ a.s., untuk bertemu dengan seorang hamba Allah yang saleh, yaitu Khidir. Tujuan pertemuan tersebut adalah untuk mengajari Musa, sifat tawadhu dalam ilmu. Juga untuk mengajarkan kepadanya, walaupun dia seorang nabi dan rasul, bisa jadi ada hamba Allah yang lebih berilmu darinya.

Dalam kisah ini terkandung fiqih kehidupan, yaitu mengenai perjalanan seorang ulama untuk menambah ilmu dan meminta bantuan seorang pembantu juga seorang sahabat untuk keperluan tersebut, serta memanfaatkan kesempatan bertemu dengan orang saleh dan alim ulama, walaupun harus menempuh perjalanan yang jauh, sebagaimana yang menjadi tradisi para salaf saleh.

Kisah ini secara khusus menjadi bantahan terhadap sikap orang-orang kafir yang menyombongkan diri di hadapan kaum Muslimin yang miskin dengan harta benda yang melimpah dan pembela yang banyak. Karena Nabi Musa, walaupun memiliki ilmu dan amalan yang banyak, serta memiliki kedudukan yang tinggi, dia pergi menemui Khidir untuk menimba ilmu pengetahuan disertai sikap tawadhu di hadapannya. Hal ini menunjukkan bahwa sikap tawadhu lebih baik dari sikap sombong.

Kisah ini dan kisah Ashabul Kahfi juga mempunyai satu manfaat yang sama, yaitu kaum Yahudi berkata kepada orang-orang kafir dari Kota Mekah, "Jika Muhammad menceritakan kepada kalian kisah ini (Ashabul Kahfi), dia adalah seorang nabi. Sebaliknya jika tidak dapat menceritakannya, dia bukan nabi." Padahal tidak selalu seorang nabi utusan Allah mengetahui seluruh kisah dan peristiwa di dunia ini. Demikian juga tidak masalah bagi Musa yang tak lain seorang nabi utusan Allah yang jujur, diperintahkan oleh Allah untuk pergi menimba ilmu dari Khidir.

Firman Allah *(ءَاتِنَا غَدَآءَنَا )* memberikan pelajaran agar kita membawa bekal saat menempuh perjalanan. Hal itu juga tidak bertentangan dengan tawakal kepada Allah. Karena Nabi Musa, _kaliimullah_, pun tetap membawa bekal walaupun dia sangat mengenal Allah dan senantiasa bertawakal kepada-Nya, Tuhan semesta alam.

Keajaiban yang terjadi pada ikan yang sudah mati yang kembali hidup merupakan mukjizat Musa, juga sebagai pertanda bagi keberadaan hamba yang saleh tersebut. Oleh karena itu, Nabi Musa merasa sangat bergembira ketika pemuda yang membantunya tersebut menceritakan kepadanya peristiwa tersebut. Nabi Musa berkata kepada pembantunya, "Perihal ikan itu dan lepasnya ia dari tempatnya adalah peristiwa yang kita tunggu-tunggu karena laki-laki yang akan kita temui berada di sana."

Hamba saleh tersebut, menurut pendapat yang benar, adalah Khidir. Dia adalah seorang nabi menurut pendapat banyak ulama berdasarkan beberapa dalil berikut ini.

1. Sesungguhnya Allah berfirman *(ءَاتَيْنَـٰهُ رَحْمَةًۭ مِّنْ عِندِنَا)* Kata *(رَحْمَةًۭ)* pada ayat ini bermakna *(النُّبُوَّةُ)* kenabian, sesuai dengan firman Allah,

_"Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu."_ *(az-Zukhruf: 32)*

Juga firman-Nya,

_"Dan engkau (Muhammad) tidak pernah mengharap agar Kitab (Al-Qur'an) itu diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) sebagai rahmat dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali engkau menjadi penolong bagi orang-orang kafir.”_ *(al-Qashash: 86)*

2. Firman Allah *(عِندِنَا وَعَلَّمْنَـٰهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًۭا)* - Ayat ini memberitakan bahwa sesungguhnya Allah-lah yang mengajari Khidir langsung tanpa perantara seorang guru, tidak juga melalui petunjuk dari seorang pembimbing. Setiap orang yang diajari Allah secara langsung tanpa melalui perantara manusia pastilah seorang nabi yang mengetahui berbagai perkara melalui wahyu dari Allah.

3. Musa berkata *(هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًۭا)* - Ayat ini menunjukkan bahwa seorang nabi tidak mungkin mengikuti orang selain nabi dalam proses menuntut ilmu.

Adapun pendapat yang kuat dalam hal ini, Khidir bukanlah seorang nabi, melainkan hamba saleh sebagaimana ditetapkan oleh para ulama ilmu kalam (tauhid). Menggunakan ayat-ayat di atas sebagai dalil sangatlah lemah. Adapun dalil _pertama_ *(az-Zukhruuf: 32)*, maka jawabannya tidak semua kata rahmat bermakna kenabian. Kata rahmat mencakup semuanya. Sedangkan, dalil _kedua_ *(al-Kahf: 65)*, jawabannya adalah ilmu-ilmu terpenting pertama kali berasal dari Allah, dan itu tidak selalu menjadi pertanda bahwa penerimanya seorang nabi. Terakhir adalah dalil ketiga, jawabannya adalah tidak ada hal yang menghalangi seorang nabi untuk mengikuti selain nabi dalam menimba ilmu yang tidak terkait dengan urusan kenabian.

Firman Allah *(هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًۭا)* - Menunjukkan bahwa seorang penuntut ilmu harus mengikuti ulama walaupun kedudukan ulama tersebut di bawahnya.

Tidak diperbolehkan menduga bahwa dalam proses belajarnya Nabi Musa kepada Khidir menunjukkan bahwa Khidir lebih istimewa dari Nabi Musa karena keistimewaan adalah milik orang yang diistimewakan oleh Allah. Jika Khidir seorang wali. Nabi Musa tentu lebih utama darinya. Jika Khidir adalah seorang nabi, tetapi Nabi Musa telah dimuliakan Allah dengan diangkat sebagai rasul. Sikap Nabi Musa mengingkari berbagai perbuatan yang dilakukan hamba saleh tersebut adalah sikap yang benar karena para nabi memang tidak boleh membiarkan terjadinya kemungkaran dan tidak boleh mengizinkannya. Oleh sebab itu. Nabi Musa mengaitkan kesabarannya terhadap apa yang akan terjadi saat bersama Khidir nanti kepada kehendak Allah. Dia juga tidak mengetahui apa yang akan terjadi nanti ketika bersama Khidir, bukan karena dia bertekad untuk bersabar melihat kemaksiatan yang terjadi.

Ketika mengomentari ucapan Nabi Musa, *(هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًۭا)* - ar-Razi berkata, "Di dalam ucapan Nabi Musa ini terkandung begitu banyak adab dan kelembutan Nabi Musa saat hendak belajar kepada Khidir."

Ar-Razi kemudian menyebutkan dua belas jenis adab dan kelembutan, di antaranya adalah. Nabi Musa menjadikan dirinya mengikuti Khidir, dia juga meminta izin terkait hal itu, ia mengakui kekurangannya dalam ilmu dalam perkataannya *(تُعَلِّمَنِ)* di hadapan gurunya, dia juga mengatakan dengan terus terang bahwa dirinya mencari bimbingan dan hidayah.

Pernyataan Khidir dalam firman Allah, *(فَإِنِ ٱتَّبَعْتَنِى فَلَا تَسْـَٔلْنِى عَن شَىْءٍ حَتَّىٰٓ أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًۭا)* - Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau bertanya kepadaku tentang apa pun, sampai aku terangkan kepadamu." Maksudnya, hingga aku menafsirkannya kepadamu. Ini merupakan bentuk pendidikan dan petunjuk yang menjadi syarat kebersamaan. Jika Musa bersabar dan membiasakannya pasti ia akan terkagum-kagum tetapi ia terlalu banyak memprotes sehingga terjadilah perpisahan di antara mereka.

Peristiwa dilubanginya perahu merupakan bukti bahwa seorang wali (anak yatim) dapat mengurangi harta anak yatim jika ia melihatnya perlu dilakukan. Seperti jika wali tersebut merasa khawatir kelak anak yatim itu berbuat zalim dengan harta yang dimilikinya sehingga habislah harta tersebut. Abu Yusuf berkata, "Seorang wali diperbolehkan menguasai (mengatur) sebagian harta anak yatim."

Perkataan Nabi Musa dalam firman Allah *(لَا تُؤَاخِذْنِى بِمَا نَسِيتُ)*: menunjukkan bahwa perbuatan lupa tidak seharusnya dijatuhi hukuman. Lupa tidak termasuk dalam kondisi yang dibebani hukum. Termasuk di dalamnya juga tidak berlaku talak dan perkara lainnya saat lupa. Seandainya seseorang lupa untuk kedua kalinya, dia cukup meminta maaf.

Pembunuhan merupakan perbuatan yang lebih keji daripada melubangi perahu. Oleh karena itu, saat melihat Khidir melakukan pembunuhan, Nabi Musa berkata, *(لَّقَدْ جِئْتَ شَيْـًۭٔا نُّكْرًۭا)*.. Sedangkan, saat melihat Khidir melubangi perahu. Nabi Musa berkata, *(لَقَدْ جِئْتَ شَيْـًٔا إِمْرًۭا)*

Kata *(نُّكْرًۭا)* lebih keji dari kata *(إِمْرًۭا)* seperti yang telah dijelaskan di atas.

Teguran kedua dari Khidir kepada Nabi Musa lebih keras. Dalam tegurannya itu dia berkata, *(أَلَمْ أَقُل لَّكَ)* "Bukankah sudah kukatakan kepadamu." Penambahan kata *(لَّكَ)* pada kalimat itu berfungsi untuk teguran dan celaan yang lebih keras sebab ketidaksabaran Nabi Musa pada kedua kalinya.

Akhir dari kisah ini dan kesimpulan yang dapat diambil darinya akan dijelaskan pada juz berikutnya, in syaa Allah.

*Selesai Juz 15:*
Segala puji hanya bagi Allah ===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login