Surah al-lsraa’ Ayat 12-17

AL-ISRAA' (4)

KARUNIA ALLAH DI DUNIA DAN BUKTI-BUKTI KEKUASAAN-NYA

Surah al-lsraa’ Ayat 12-17

Sebab Turunnya Ayat 15

*Ayat *(مَّنِ ٱهْتَدَىٰ)* sejumlah ulama berpendapat bahwa orang yang mendapatkan petunjuk di sini adalah *Abu Salamah bin Abdil Aswad*. Sedangkan, orang yang sesat adalah *Walid bin Mughirah*.

Ada juga pendapat bahwa ayat ini turun pada *Walid bin Mughirah* yang berkata, "Wahai penduduk Mekah, kafirlah kepada Muhammad dan sayalah yang akan menanggung dosa kalian."

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Ayat-ayat di atas menunjukkan beberapa hal.

1. Perbedaan waktu siang dan malam dan pergantian keduanya. Terangnya siang dan gelapnya malam merupakan bukti keesaan Allah SWT, wujud-Nya, dan kesempurnaan ilmu serta kekuasaan-Nya.

2. Pergantian malam dan siang menjadikan kita mengetahui jumlah tahun, bulan dan hari. Juga mengajarkan kita cara menghitung masa yang terdiri dari bagianbagian waktu, seperti satu tahun terdiri dari dua belas bulan, satu bulan terdiri dari tiga puluh hari, dan satu hari terdiri dari dua puluh empat jam.

3. Siang merupakan waktu yang sesuai untuk bekerja dan beraktivitas di muka bumi dalam mencari penghidupan dan mendapatkan rezeki.

4. Setiap manusia akan terikat dengan perbuatannya, dan akibat dari perbuatannya tersebut, yang baik atau buruk, akan berlaku khusus untuk dirinya.

5. Buku dan catatan amal manusia yang diterima pada hari Kiamat, berisi semua yang telah dia lakukan. Catatan tersebut cukup menjadi penghitung bagi semua perbuatannya. *Hasan al-Bashri* berkata, "Semua manusia akan membaca buku catatan amalnya, baik dia yang tidak bisa membaca ataupun yang bisa."

6. Semua orang akan dihisab berdasarkan perbuatannya sendiri, bukan perbuatan orang lain. Sehingga pahala bagi orang yang mendapatkan petunjuk adalah untuk dirinya sendiri, sedangkan hukuman bagi orang tersesat adalah untuknya sendiri.

7. Penetapan prinsip tanggung jawab pribadi adalah keadilan dan rahmat Allah bagi para hamba-Nya. Sehingga, tidak ada seorang pun yang menanggung dosa orang lain. Balasan bagi perbuatan jahat hanyalah untuk pelakunya sendiri.

*Ibnu Abbas* berkata tentang ayat *(وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌۭ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ)* "Ayat ini turun pada Walid bin Mughirah ketika berkata kepada penduduk Mekah, 'Ikutilah aku dan kafirlah kepada Muhammad, dan aku yang akan menanggung dosa-dosa kalian.’ Lalu turun ayat di atas."

Ini artinya bahwa *Walid bin Mughirah* tidak akan menanggung dosa-dosa mereka. Akan tetapi setiap orang akan memikul dosanya masing-masing.

Adapun hadits yang diriwayatkan dari *Aisyah r.a*., ketika membantah perkataan *Ibnu Umar r.a*. bahwa Nabi saw. bersabda:

_“Sesungguhnya orang yang mati akan disiksa karena tangisan keluarganya.”_ *(HR. Bukhari dan Muslim)*

Tidak ada alasan bagi pengingkaran *Aisyah r.a*. dan perkataannya bahwa hadits ini adalah salah. Karena, tidak ada kontradiksi antara ayat di atas dengan hadits ini. Maksud dari hadits ini adalah tangisan dan teriakan keluarga yang ditinggal itu disebabkan wasiat, kebiasaan, dan anjuran dari si mayit sebelum dia mati. Hal ini sebagaimana dilakukan orang-orang pada zaman Jahiliyah.

Hingga *Tharfah* berkata dalam syairnya.

_“Jika aku mati maka ratapilah kematianku yang layak untukku # Dan sobek-sobeklah pakaian karena kematianku, wahai putri Ma’bad.”_

Kemudian dia melanjutkan,

_“Hingga satu tahun, selamat jalan bagi kalian berdua # Barangsiapa menangisi kematianku selama satu tahun penuh, maka dia telah meminta maaf atas kesalahannya kepadaku.”_

8. Allah tidak membiarkan para hamba-Nya (tersesat, red.) begitu saja, namun Allah mengutus para rasul. Dalam hal ini terkandung dalil bahwa hukum-hukum tidaklah berlaku kecuali berdasarkan syari'at. Ini merupakan pendapat jumhur ulama terkait hukuman dunia. Artinya, Allah tidak mengadzab suatu kaum kecuali setelah menurunkan risalah dan peringatan kepada mereka. Allah juga tidak menghancurkan suatu negeri sebelum mengutus rasul kepada negeri itu.

Sementara itu, Muktazilah berpendapat bahwa akallah yang memutuskan baik dan buruknya sesuatu, akal juga yang menetapkan kebolehan atau dilarangnya suatu perkara.

9. Firman Allah *(وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًۭا)* menunjukkan bahwa orang-orang yang hidup ketika tidak ada rasul atau ajaran rasul tidak sampai kepada mereka, meninggal sebelum dakwah sampai kepada mereka dan ketika itu mereka adalah orang-orang jahiliyah, mereka selamat dan termasuk penduduk surga. Demikian juga dengan orang-orang yang tinggal di pulau-pulau jauh yang tidak pernah mendengar Islam pada zaman kita. Demikian juga dengan anak orang-orang musyrik dan orang-orang kafir yang mati ketika masih kecil sebelum terkena beban taklif dan ayah mereka adalah orang-orang kafir. Demikian juga dengan orang gila, tuli, dan orang tua yang sudah rusak akalnya.

Adapun orang-orang yang hidup setelah diutusnya Rasulullah saw., terdapat tiga golongan seperti diterangkan oleh al-Ghazali.

_Pertama_, orang-orang yang tidak sampai kepada mereka dakwah Rasulullah saw. dan tidak mendengarnya sama sekali, maka mereka akan masuk surga.

_Kedua_, orang-orang yang sampai kepada mereka dakwah dan mukjizat Rasulullah saw., namun mereka tidak beriman kepadanya, seperti orang-orang kafir di zaman kita, mereka akan masuk neraka.

_Ketiga_, orang-orang yang sampai kepada mereka dakwah Rasulullah saw. namun berupa informasi palsu atau dalam bentuk yang telah didistorsi, diharapkan mereka akan masuk surga.

10. Siksa yang memusnahkan tidak akan terjadi kecuali karena merajalela kemaksiatan dan kemungkaran. Jika Allah ingin menghancurkan suatu negeri. Dia terlebih dahulu memerintahkan para pembesar-Nya dan yang lainnya untuk taat dan meninggalkan kemaksiatan. Namun, kemudian mereka berbuat kefasikan dan berbuat zalim, artinya mereka lebih memilih kefasikan daripada ketaatan. Mereka juga menyalahi perintah Allah sehingga mereka pantas untuk dihukum dengan dihancurkan dan dibinasakan. Sedang berdasarkan bacaan *( أَمَرْنَا )* dengan _mim di-tasydid_, maknanya ‘Kami jadikan orang-orang jahat berkuasa di sana, lalu mereka berbuat kemaksiatan.’ Jika mereka melakukan hal itu. Kami binasakan mereka.

*Qatadah* dan *Hasan* menyebutkan bahwa makna dari *( أَمَرْنَا )* dengan _mim dikasrah_ adalah ‘Kami banyakkan jumlah mereka. Dalam bahasa Arab, dikatakan 'amiral-gaumu' jika jumlah suatu kaum menjadi banyak.' Seperti dalam hadits yang diriwayatkan *Ahmad* dan *Thabrani* dari *Suwaid bin Habirah*,

_“Sebaik-baik harta seseorang adalah ternak yang banyak melahirkan atau barisan pohon-pohon kurma yang telah dikawinkan.”_ *(HR Ahmad dan Ihabrani)*

Dalam hadits *Heraclius* —hadits ini shahih — disebutkan.

_“Agama Ibnu Abi Kabsyah# telah menjadi banyak pengikutnya. Sungguh dia ditakuti oleh raja Bani al-Ashfar.”_

#- Maksudnya adalah Rasulullah saw.. Dahulu orang-orang musyrik menyebut Nabi saw.: Ibnu Abi Kabsyah. Mereka menyerupai beliau dengan Abu Kabsyah, seorang laki-laki dari Khuza'ah yang tidak mau menyembah berhala seperti orang-orang musyrik.

11. Banyak orang kafir yang ditimpa kebinasaan dan kehancuran. Ini merupakan peringatan dan ancaman bagi orang-orang yang kafir kepada Allah dan Rasulullah saw. bahwa mereka juga akan mendapatkan siksa yang pedih.

12. Jika kemaksiatan merajalela di suatu negeri tanpa adanya tindakan untuk mencegahnya, ia akan menjadi sebab celakanya seluruh penduduk tempat tersebut.

13. Firman Allah SWT: *(وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ بِذُنُوبِ عِبَادِهِۦ خَبِيرًۢا بَصِيرًۭا)* sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui dan Melihat segala sesuatu, tidak ada sedikit pun kondisi makhluk yang tidak Dia ketahui. Allah SWT Mahakuasa atas segala hal yang mungkin terjadi, sehingga Allah Mahakuasa untuk memberikan balasan kepada semua orang sesuai dengan haknya _(istihqaaq)_ masing-masing. Allah juga Mahasuci dari perbuatan main-main dan kezaliman. Ketiga sifat tersebut (yaitu pengetahuan yang sempurna, kekuasaan yang sempurna, dan bersih dari kezaliman) merupakan jaminan aman bagi orang-orang yang taat dan ketakutan bagi orang-orang kafir serta para pelaku maksiat.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login