Surah al-Hijr Ayat 87-99

AL HIJR (9)

SEJUMLAH KARUNIA ALLAH SWT KEPADA NABI MUHAMMAD SAW.

Surah al-Hijr Ayat 87-99

Sebab Turunnya Ayat 95

*Al-Bazzar* dan *Thabrani* meriwayatkan dari *Anas Ibnu Malik r.a.*, ia berkata, "Suatu ketika, *Rasulullah saw*. melewati sejumlah orang di Mekah. Mereka menyindir beliau, "Ini orangnya yang mengaku-ngaku sebagai nabi dan bahwa dirinya disertai jibril." Lalu Malaikat *Jibril a.s*. mengisyaratkan dengan jarinya, lalu ada sesuatu semacam kuku yang jatuh di tubuh mereka yang akhirnya mengakibatkan borok di tubuh mereka dan membusuk, bahkan tidak ada satu orang pun yang mampu mendekati mereka. Lalu *Allah SWT* pun menurunkan ayat ini *(إِنَّا كَفَيْنَـٰكَ ٱلْمُسْتَهْزِءِينَ)*

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Ayat-ayat di atas menunjukkan sejumlah hal sebagai berikut.

1. Al-Qur’an adalah nikmat teragung yang dianugerahkan kepada Nabi Muhammad saw. dan kaum Muslimin. Tidak ada suatu apa pun yang bisa dibandingkan dengannya, baik berupa harta, kekayaan, atau yang lainnya.

2. Al-Faatihah termasuk salah satu surah AlQur’an. Di sini, Surah al-Faatihah disebutkan secara khusus karena keutamaan dan kelebihannya, karena memuat pokok-pokok Islam. Bahkan, ia adalah surah yang paling utama karena dua sebab.

_Pertama_, disebutkan secara khusus dan tersendiri, padahal ia adalah bagian dari Al-Qur’an. Hal ini menunjukkan ia memiliki kemuliaan dan keutamaan.

_Kedua_, bahwa Allah SWT ketika menurunkan Surah al-Faatihah sebanyak dua kali, itu menunjukkan bahwa ia memiliki keutamaan dan kemuliaan. Surah al-Faatihah pertama kali turun di Mekah pada awal-awal turunnya Al-Qur’an dan diturunkan lagi pada kali kedua di Madinah.

3. Pandangan seorang Mukmin tidak lagi tertarik kepada keindahan perhiasan-perhiasan dunia, karena ia sudah memiliki berbagai makrifat Allah SWT. Rasulullah saw. bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh *Bukhari* dari *Abu Hurairah r.a.*,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ

_“Bukanlah termasuk bagian dari kami, siapa yang tidak mendapatkan kecukupan dengan Al-Qur’an.”_

4. Ada sebagian kalangan mengatakan ayat ini menghendaki pengertian tentang senantiasa mengekang diri dari ketertarikan kepada kesenangan dunia. Seorang hamba harus secara total mendedikasikan diri fokus kepada Allah SWT. Namun yang benar, dalam agama Muhammad sama sekali tidak ada _rahbaaniyyah_ (cara hidup biarawan, mengabaikan dunia secara total) seperti yang terdapat dalam agama Nabi Isa a.s.. Akan tetapi, Islam adalah agama _haniifiyyah_ (lurus, tauhid murni) dan _samhah_ (mudah, ringan), agama _fitrah_ dan agama tengah-tengah yang mengombinasikan dan mengakomodir antara spiritual dan material, antara ruh dan materi, memerhatikan kehidupan dunia dan akhirat sekaligus, memenuhi hak-hak fisik yang mubah disertai dengan kembali kepada Allah SWT dengan hati yang bersih dan lurus.

5. Seorang Mukmin hendaknya jauh dari orang-orang musyrik dan tidak perlu bersedih hati jika mereka tidak mau beriman, dekat dengan sesama orang-orang Mukmin, bersikap tawadhu dan rendah hati kepada sesama orang Mukmin, cinta dan belas kasih kepada mereka, sekalipun mereka adalah orang-orang miskin.

5. Tugas Nabi Muhammad saw. dan setiap orang Mukmin yang alim setelah beliau adalah menyampaikan risalah Allah SWT kepada segenap makhluk, memperingatkan adzab atas kekafiran dan kemaksiatan. Pada awal mulanya, dakwah Nabi Muhammad saw. dilakukan secara sembunyi-sembunyi, kemudian memasuki periode dakwah secara terbuka dan terang-terangan sejak turunnya ayat: *(فَٱصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْمُشْرِكِينَ)*

7. Adzab telah dikukuhkan terhadap orang-orang yang membagi-bagi Kitabullah, dalam bentuk mereka mengimani sebagian dan kafir kepada sebagian yang lain, baik apakah mereka dari kelompok orang-orang Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) ataupun dari kelompok kaum musyrik Quraisy.

8. Ayat *(فَوَرَبِّكَ لَنَسْـَٔلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ)* dengan keumumannya, memberikan sebuah pengertian tentang semua umat manusia, baik yang kafir maupun yang Mukmin, kelak akan ditanya tentang amal perbuatannya, kecuali orang yang masuk surga tanpa hisab. Secara zahir, orang kafir akan ditanya berdasarkan ayat,

_"Tahanlah mereka (di tempat perhentian), sesungguhnya mereka akan ditanya."_ *(ash-Shaafaat: 24)*

_"Sungguh, kepada Kamilah mereka kembali, kemudian sesungguhnya (kewajiban) Kamilah membuat perhitungan atas mereka."_ *(al-Ghaasyiyah: 25-26)*

_"Dan orang-orang yang berdosa itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka."_ *(al-Qashash: 78)*

_"Maka pada hari itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya."_ *(ar-Rahmaan: 39)*

_“Dan Allah tidak akan menyapa mereka pada hari Kiamat."_ *(al-Baqarah: 174)*

_"Sekali-kali tidak Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhannya."_ *(al-Muthaffifiin: 15)*

Itu adalah dalam keadaan-keadaan tertentu pada hari Kiamat. Karena hari Kiamat memiliki sejumlah keadaan. Ada keadaan yang di dalamnya ada pertanyaan dan pembicaraan, dan ada konteks yang sebaliknya. *Ikrimah* mengatakan, hari Kiamat terdiri dari beberapa keadaan yang sebagiannya ada proses pertanyaan dan sebagian yang lain tidak ada.

*Ibnu Abbas r.a*. mengatakan, yang dimaksud pertanyaan di sini bukannya Allah SWT bertanya kepada mereka dengan pertanyaan untuk mencari tahu, seperti Apakah dulu kalian berbuat demikian dan demikian?" Karena Allah SWT Maha Mengetahui segala sesuatu. Tetapi maksudnya Allah SWT melontarkan pertanyaan kepada mereka dengan pertanyaan kecaman dan celaan, seperti "Kenapa kalian menentang Al-Qur'an, apa argumentasi kalian dalam hal ini?”

9. Pertolongan dan pemeliharaan Allah SWT menjamin keselamatan Nabi Muhammad saw. dari gangguan orang-orang musyrik. Hal ini berdasarkan ayat *(وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْمُشْرِكِينَ)* wahai Muhammad, kamu tidak usah memedulikan olok-olokkan dan tidak usah memperhatikan perkataan mereka. Allah SWT benar-benar telah menegaskan kesucian dirimu dari semua yang mereka tuduhkan dan lontarkan.

Ada sebagian kalangan mengatakan, bahwa ayat ini dihapus dengan ayat perang. *Ar-Razi* menuturkan ini adalah pandangan yang lemah. Karena maksud berpaling di sini adalah tidak memedulikan dan tidak menggubris mereka. Karena itu, ayat ini tidak dihapus.

Kemudian, *Allah SWT* berfirman *(إِنَّا كَفَيْنَـٰكَ ٱلْمُسْتَهْزِءِينَ )* sampaikan secara terbuka apa yang diperintahkan kepadamu. Kamu jangan takut kepada selain Allah SWT karena Allah SWT menjagamu dari setiap orang yang ingin mengganggu dan berbuat jahat kepada dirimu, sebagaimana Allah SWT melindungimu dari kejahatan orang-orang yang mengolok-olokmu. Sifat orang-orang yang mengolok-olok adalah syirik. Mereka adalah orang-orang musyrik sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat *( ٱلَّذِينَ يَجْعَلُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَـٰهًا ءَاخَرَ ۚ)* _(mereka itu adalah orang-orang yang mengadakan ilah lain di samping Allah SWT)._

10. _Tasbih, tahmid,_ dan _shalat_ adalah obat untuk menangani berbagai kesedihan dan kegalauan, jalan keluar dari berbagai kondisi krisis, kesempitan, dan kesusahan. Puncak kedekatan kepada Allah SWT adalah ketika dalam posisi sujud, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw. dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh *Muslim, Abu Dawud* dan *an-Nasa'i* dari *Abu Hurairah r.a.,*

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

_“Keadaan seorang hamba paling dekat kepada Allah SWT adalah tatkala ia sedang bersujud. Karena itu, perbanyaklah doa (ketika dalam posisi sedang sujud).”_

Dari itu, sujud di sini disebutkan secara khusus, yaitu dalam ayat *(وَكُن مِّنَ ٱلسَّـٰجِدِينَ)*

11. Setiap Muslim dituntut sebuah kewajiban untuk senantiasa konsisten beribadah, yaitu shalat hingga ajal menjemput, selama ia masih berakal. Islam adalah agama yang mudah dan ringan. Karena itu, ia harus menjalankan shalat dengan cara bagaimanapun sesuai dengan kemampuannya. Kewajiban shalat tidak gugur dari dirinya kecuali ketika dalam keadaan kehilangan kesadaran akal. Ia akan dihisab atas setiap kewajiban yang ia tinggalkan dengan sengaja. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh *Isa a.s*. yang termaktub dalam ayat,

_“Dan Dia memerintahkan kepadaku (melaksanakan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup."_ *(Maryam: 31)* ===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login