IBRAAHIIM (10)
DOA-DOA NABI IBRAHIM A.S.
Surah Ibraahiim Ayat 35-41
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Ayat-ayat di atas menjelaskan sejumlah hal sebagai berikut.
1. Mengajari kita untuk memohon nikmat keamanan kepada Allah SWT. Diawalinya doa Nabi Ibrahim dengan permohonan nikmat aman menunjukkan bentuk nikmat dan kebaikan yang paling agung, bahwa tidak ada satu pun dari kemaslahatan-kemaslahatan agama dan dunia yang bisa terwujud melainkan harus dengan terpenuhinya syarat aman.
2. Pensyari’atan berdoa untuk diri sendiri, keturunan, dan negeri tempat tinggal. Bahkan, seyogyanya setiap orang yang berdoa hendaknya berdoa untuk diri sendiri, kedua orang tua dan keturunan.
3. Doa Nabi Ibrahim lebih difokuskan kepada pemurnian tauhid dan jauh dari menyembah berhala yang menjadi sebab banyaknya manusia yang disesatkan. Doa Nabi Ibrahim mengombinasikan antara permohonan agar dikaruniai tauhid dan agar dilindungi dari syirik. Doa Nabi Ibrahim juga memuat permohonan agar diberi taufik untuk menjalankan amalamal saleh serta permohonan rahmat dan ampunan pada hari Kiamat.
4. Merupakan sebuah kewajiban untuk senantiasa berada di belakang nabi atau seorang reformis. Hal ini berdasarkan ucapan Nabi Ibrahim yang direkam dalam ayat di atas *(فَمَن تَبِعَنِى فَإِنَّهُۥ مِنِّى ۖ)*.
5. Memohonkan ampunan untuk pelaku maksiat yang bukan orang kafir. Sudah menjadi sebuah ijma bahwa kesyirikan atau kekafiran tidak boleh didoakan untuk digugurkan dan diampuni. Hal ini berdasarkan ayat,
_“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.”_ *(an-Nisaa: 48)*
6. Nabi Ibrahim menempatkan istri dan putranya; Isma’il di dekat Baitul Haram adalah untuk penegakan shalat.
*Bukhari* meriwayatkan dari *Ibnu Abbas* dalam sebuah keterangan yang intinya adalah, bahwa Nabi Ibrahim meninggalkan istrinya; Hajar beserta putranya; Isma'il yang ketika itu masih menyusu, di dekat Ka'bah, dekat sebuah pohon rindang di atas tanah yang menjadi lokasi Zam-Zam. Waktu itu, Mekah benar-benar masih kosong, tidak ada orang dan tidak ada air. Nabi Ibrahim membekali mereka berdua dengan sebuah kantong perbekalan dan kantong air minum. Kemudian, Nabi Ibrahim pun meninggalkannya. Lalu Hajar mengikutinya dari belakang seraya berkata secara berulang-ulang, “Wahai Ibrahim, kamu mau pergi ke mana dan meninggalkan kami di lembah yang sepi dan kosong ini." Nabi Ibrahim sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Hajar berkata, “Apakah Allah SWT memerintahkan hal itu kepadamu?" Nabi Ibrahim menjawab, “Ya, benar." Mendengar jawaban itu, Hajar berkata, “Kalau begitu, Allah SWT tidak akan menelantarkan kami "
Kemudian, ia kembali dan Ibrahim melangkah pergi. Sesampainya di sebuah _ats-Tsaniyyah_ (jalan setapak yang terdapat di suatu bukit) saat mereka sudah tidak melihat dirinya lagi, ia menghadap ke arah Ka'bah, kemudian memanjatkan doa-doa dengan mengangkat kedua tangannya dan berucap *(رَّبَّنَآ إِنِّىٓ أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِى بِوَادٍ غَيْرِ ذِى زَرْعٍ )* hingga ayat *( يَشْكُرُونَ)*
Setelah bekal air yang ada habis, Hajar dan putranya kehausan. Hajar berlari-lari seperti larinya orang yang kelelahan dan kehabisan tenaga antara *Shafa dan Marwa* sebanyak tujuh kali. *Rasulullah saw. bersabda*, _"Itulah asal-usul sa'i yang dikerjakan orang-orang antara Shafa dan Marwa."_ Ketika berada di Bukit Marwa, Hajar mendengar sebuah suara, ia pun mendapati seorang malaikat berada di lokasi Zam-Zam, lalu malaikat itu menggali-gali tanah dengan tumitnya atau dengan sayapnya, hingga memancarlah air. *Ad-Daraquthni* meriwayatkan dari *Ibnu Abbas r.a.*, ia berkata, *“Rasulullah saw. bersabda,*
_“Air Zam-Zam adalah menurut tujuan peminumnya. Jika kamu meminumnya dengan maksud untuk pengobatan, Allah SWT akan memberimu kesembuhan dengannya. Jika kamu meminumnya untuk mendapatkan rasa kenyang, Allah SWT akan mengenyangkanmu dengannya. Dan jika kamu meminumnya untuk menghilangkan dahaga, Allah SWT akan menghilangkan dahaga dengannya. Zam-Zam adalah hazmah Malaikat Jibril a.s. (yakni, sumber air yang memancar karena hentakan kaki Malaikat Jibril) dan air minum yang diberikan Allah SWT kepada Isma'il ”_
7. Tidak boleh bagi siapa pun meniru apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim a.s., yaitu meninggalkan anak dan keluarganya di hamparan tanah yang kosong dan sepi, memasrahkan begitu saja kepada Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Maka Penyayang dan karena ingin meniru apa yang pernah dilakukan oleh Ibrahim. Ibrahim melakukan hal itu atas perintah Allah SWT berdasarkan keterangan dalam hadits di atas, yaitu ketika Hajar bertanya kepadanya, “Apakah Allah SWT memerintahkan hal ini kepadamu?" Ibrahim menjawab, “Ya, benar" Jadi, apa yang dilakukan oleh Ibrahim semuanya berdasarkan wahyu dari Allah SWT.
8. Ayat ini secara implisit mengandung sebuah pengertian bahwa shalat di Mekah lebih utama daripada shalat di tempat lain. Makna ayat *(رَبَّنَا لِيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ)* aku menempatkan sebagian dari keturunanku di dekat Ka'bah, supaya mereka menegakkan shalat.
9. Di antara berkah doa Nabi Ibrahim dan salah satu bentuk diperkenankannya doa itu adalah rasa rindu, senang, dan cinta kepada Ka’bah benar-benar tertanam kuat dan menggelora dalam hati sanubari setiap orang Mukmin. Ibnu Abbas r.a. menuturkan menyangkut ayat *(فَٱجْعَلْ أَفْـِٔدَةًۭ)* Nabi Ibrahim memohon agar Allah SWT menjadikan orang-orang tertarik untuk tinggal di Mekah sehingga Mekah pun menjadi tempat tinggal yang dihormati dan disakralkan (Ka’bah). Semua itu benar-benar terwujud. Orang yang pertama kali mendiami Mekah adalah *_Bani Jurhum_*. Mekah pun menjadi tempat pertemuan berbagai hasil pertanian dan buah-buahan yang datang dari segenap penjuru dan negeri. Allah SWT pun menjadikan tanah Tha'if sebagai tempat tumbuhnya berbagai pepohonan.
10. Ahlus Sunnah menjadikan ayat *( وَٱجْنُبْنِى وَبَنِىَّ أَن نَّعْبُدَ ٱلْأَصْنَامَ)* sebagai landasan dalil bahwa perbuatan hamba adalah makhluk ciptaan Allah SWT. Ini mencakup meninggalkan larangan-larangan yang dinyatakan dalam ayat ini dan melakukan hal-hal yang diperintahkan dalam ayat *(رَبِّ ٱجْعَلْنِى مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِى ۚ )* Hal ini secara eksplisit menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim adalah ciptaan Allah SWT .
11. Al-Qur’an menunjukkan bahwa Allah SWT mengaruniai Nabi Ibrahim dua putra, yaitu Isma’il dan Ishaq ketika ia sudah lanjut usia. Namun Al-Qur’an tidak menyinggung tentang berapa usia Nabi Ibrahim waktu itu. Keterangan tentang usia beliau ketika bersama Isma’il dan Ishaq diambil dari riwayat-riwayat sejarah.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
